Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< November 2014 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Saturday, November 25, 2006
Pindah

Iya ... saya pindah rumah, dan mulai tanggal 25 November 2006 ini saya menempati rumah baru di http://ndobos.com. Jadi, silahkan berkunjung ke sana saja.




Posted at 09:31 am by Sir Mbilung
 

Friday, November 24, 2006
Kakatua-kecil jambul-kuning

Seribu Intan nomer 7

Katanya burung yang satu ini hinggap di jendela sambil tek dung tralala, sementara orang di dekatnya memanggil-manggil ... Yakoooob Yakooob. Tapi percayalah, jendela bukanlah tempat tangkringan kakatua yang umum, tangkringan kakatua adalah di dahan dan ranting pohon. Kakatua-kecil jambul-kuning atau Yellow-crested Cockatoo (Cacatua sulphurea) hanya terdapat di Indonesia dan Timor Leste. Mari kita tengok kisah sang kakatua yang mestinya ndak hinggap di jendela ini. Dengan bulu putih bersih, jambul dan pipi kuning burung ini terlihat indah di alam, kontras dengan warna hutan yang hijau. Bedanya dengan jenis lain yang tangkringannya mirip yaitu Cacatua galerita, pada Cacatua sulphurea pipinya berwarna kuining sedangkan Cacatua galerita badannya lebih besar dan tak ada warna kuning pada pipi.

Kakatua-kecil jambul-kuning termasuk dalam keluarga burung berparuh bengkok (Parrot) dan memiliki empat anak jenis (sub-species) yaitu, anak jenis sulphurea yang ada di Sulawesi dan sekitarnya, anak jenis parvula yang ada di Nusa Penida dan Nusa Tenggara (termasuk Timor Leste), anak jenis citrinocristata hanya terdapat di Pulau Sumba dan yang terakhir yang badannya paling besar dari jenis ini adalah anak jenis abbotti (bukan ngaboti) yang hanya ada di Kepulauan Masalembo. Lha dari semua anak jenis itu, citrinocristata adalah satu-satunya yang berjambul oranye sesuai namanya itu. Mungkin nama burung ini dalam Bahasa Indonesia harus diganti jadi Kakatua-kecil jambul-kuning tapi-oranye, asal jangan ditambahi ... pake-sendal-jepit-celana-cutbrai-baju-kotak-kotak-sisiran-belah-kiri-tanpa-kopiah.

Hanya saja kebagusan burung ini juga mengancam kelangsungan hidupnya. Burung ini sering jadi sasaran pemburu untuk ditangkap hidup-hidup dan lantas dijual sebagai hewan peliharaan. Berhubung burung ini senengnya hidup secara keluarga besar nan bahagia bergerombol ke mana-mana, dan kalau tidur sering barengan di tempat yang kemudian dinamai pohon tidur (walaupun yang tidur itu burungnya .... bukan burungnya pohon, tapi burung .... ah sudahlah), maka pemburu burung dengan mudah menangkap burung ini dalam jumlah besar dalam satu kali operasi penangkapan (kok kayak operasi garukan ya?). Cara nangkapnya ya macam-macam, ada yang dengan jerat, getah dan ada pula yang dengtan jaring.

Relatif mudahnya menangkap burung ini menjadikan kakatua ini menjadi jarang ditemui lagi di rumah aslinya, di alam liar. Tengok saja, jumlahnya makin lama makin sedikit bahkan itu kakatua yang ada di Sulawesi sudah hilang dibanyak tempat, sebuah contoh kepunahan lokal. Sementara kakatua yang di Nusa Penida, Bali, hanya tinggal 3 ekor. Padahal dulunya (sekitar tahun 1911) disebut agak umum burung ini di Nusa Penida. Lantas jumlahnya turun drastis dan pada tahun 1998 dilaporkan burung ini hanya tinggal enam ekor saja, lha sekarang.... ya 3 ekor itu. Sedih? nanti dulu, itu yang ada di Kepulauan Masalembo (Cacatua sulphurea abbotti) malah tampaknya sudah punah sama sekali!!! Piye iki jal? Karena hal ini juga maka Kakatua-kecil jambul-kuning ini lantas dimasukan dalam daftar hewan terancam punah dengan status keterancaman tertinggi Kritis (Critically Endangered).

Burung ini memakan biji, buah dan mungkin juga bunga dari tumbuhan hutan. Selain sebagai sumber makanan, pohon-pohon besar di hutan sangat penting untuk tempat burung ini beristirahat dan bersarang. Mereka membuat sarang untuk bertelur di lubang-lubang pohon yang besar. Letak lubang sarang itu tinggi di atas pohon, pokoknya bakal capek sampeyan manjatnya kalo mau lihat sarangnya.  

Begitulah kakatua yang satu ini. Sedih juga kalau melihat mereka sampai nangkring di jendela menemani nenek tua yang giginya tinggal dua itu, apalagi kalau kakinya dirantai ... maksudnya kaki kakatuanya yang dirantai bukan kaki nenek bergigi dua.

Foto Tony Tilford diambil dari sini.


Posted at 08:08 am by Sir Mbilung
Ada (22) yang ndobos juga  

Thursday, November 23, 2006
Tampang

Wajah-wajah itu berbaris di dinding, menatapku curiga, seakan penuh tanya, sedang apa di siniiii, menunggu gajian jawabku. Begitu itu, saya jadi ingat lagunya Chrisye, Kisah Kasih di Sekolah, tiap kali menatap dinding yang ditempeli foto-foto wajah (hampir) semua pegawai di tempat saya bekerja yang pating tlecek di beberapa kantor yang terpisah-pisah. Tidak semua foto di pajang memang, hanya yang bekerja pada kantor-kantor global dan regional saja.

Sebegitu pentingkah pemajangan wajah-wajah itu, sehingga satu sisi dinding harus dikorbankan untuk dijadikan papan pajang? Tampaknya ya dan ada bagusnya. Setiap tahun kami, para buruh regional dan global tadi, berkumpul di satu tempat. Pada masa lalu sering terlihat dua orang atau lebih yang terlibat perbincangan sangat akrab yang pakai acara ketawa-ketawa segala. Lantas setelah perbincangan itu selesai salah satu dari mereka bertanya pada teman yang dikenalnya .... itu tadi siapa? Orang sok kenal sok dekat penebar pesona seperti ini (ya saya itu orangnya) akan sangat terbantu dengan pemampangan foto-foto itu. Mengenal rekan sekerja secara lebih personal akan sangat membantu dalam kelancaran kerja, apalagi bagi kami yang tempat kerjanya terpisah-pisah. Ada wajah di situ, tak hanya nama saja, atau plus suara jika rajin berhubungan lewat telepon.

Sebagaimana kantor-kantor lainnya (lha...sok tau kan?), kantor kamipun tak bebas dari gosip, atau dalam istilah yang lebih sopan disebut sebagai "unverified little gem". Dari gosip-gosip itu jadi tahu siapa saja (dari nama saja) yang harus dihindari karena dapat mengganggu kesenangan, dan siapa saja (juga hanya dari nama) yang harus diseret karena dikabarkan bisa membawa kesenangan. Dengan mengetahui wajah dari nama-nama tersebut, yang berpotensi nyusahin bisa dihindari sebelum terjadi close encounters of the fifth kind.

Saya teringat pada saat saya mulai bekerja dahulu, di sebuah kantor lapangan yang kecil. Hubungan antar pegawai seperti hubungan antar saudara dekat saja. Teman itu adalah orang yang bisa dijadikan tempat curhat dan tempat cari utangan sehingga keluar kata-kata ... nggo opo nduwe konco nek ora nggo tempilingan? Lha saya sulit membayangkan sebuah kantor yang berpegawai ratusan orang begitu. Orang di satu bagian bisa saja tidak kenal dengan orang di bagian lain, kepala bagian penitipan sepeda tidak kenal dengan kepala bagian sedot debu. Lha kalo ndak kenal nama, apalagi tampang, gimana mau minjem duit tanpa bunga?

Sampeyan apa kenal dengan semua teman sekantor? Kalau tidak, mungkin memajang foto seluruh karyawan begitu bisa membantu. Kalau sudah, coba foto-foto itu saling dipertukarkan letaknya dan lihat hasilnya nanti seperti apa .... saya tadi baru saja melakukan hal itu. Mari kita tunggu, apakah bagian kepagawaian kenal dengan semua orang-orang itu dan bisa menyusunnya kembali seperti semula.


Posted at 01:47 am by Sir Mbilung
Ada (20) yang ndobos juga  

Wednesday, November 22, 2006
Koper

Selain ndak bisa tidur dan kedinginan di pesawat, hal lain yang bisa bikin saya mangkel dari acara bepergian adalah tidak munculnya barang saya di ubeng-ubengan (conveyor belt) koper. Ndak sering sih kejadiannya dan Kuala Lumpur adalah tempat yang paling sering koper saya itu memutuskan untuk jalan-jalan sendiri entah ke mana. Mungkin karena koper saya itu ndak layak tampil, beda banget sama pemiliknya yang tampan tur gagah, jadi sering tidak terperhatikan. Dari sekian kali berkunjung ke negeri jiran sambil membawa koper, baru satu kali koper saya langsung muncul tanpa harus klayapan dulu. Karenanya, jika ke Kuala Lumpur saya lebih sering hanya nyangking ransel kecil saja, ben nggaya serupa kawula muda.

Saya ndobos soal koper hilang begini karena beberapa menit yang lalu baru saja ada seorang kawan yang baru datang dari lawatannya dan kopernya ndak ikut pulang. Kehilangan koper pada saat telah tiba di negara asal ndak begitu masalah, paling-paling kalau di dalam koper ada oleh-oleh, ya yang akan diberi oleh-oleh diminta bersabar saja. Repotnya, kalau koper itu ndak muncul di tempat tujuan lawatan. Kadang sang koper baru muncul beberapa hari kemudian, baju dan celana ndak begitu masalah tapi urusan ganti-ganti daleman itu yang bikin mutung. Lha ... ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghidari dipakainya daleman itu berulang-ulang (sida A, side B, side C, side D) selain beli baru.

Untuk yang menggunakan penerbangan yang harus berganti pesawat, kalau bisa jarak antara waktu kedatangan di tempat transit dengan waktu keberangkatan ke tempat tujuan minimal dua jam. Kalau pesawat tiba tepat waktupun, itu pesawat kan masih harus parkir dulu sebelum bagasi dibongkar. Pada saat jam-jam sibuk, markir pesawat itu memakan waktu yang lumayan lama. Kalau jarak waktunya mepet, bisa-bisa sampeyan pergi dengan penerbangan sambungan sebelum barang sampeyan sempet dipindahkan.

Selain itu, pada saat lapor diri (check-in), minta agar barang sampeyan itu langsung diangkut saja ke tempat tujuan, jadi ndak usah njuk ngambil dulu di tempat transit dan lantas dilaporkan lagi, kecuali kalau sampeyan tergila-gila dengan penampilan petugas lapor diri dan ingin kenalan. Kalau mau pake acara kenalan yang sapa tau jodoh begini, usahakan waktu transit agak lama. Selain itu jangan lupa koper sampeyan itu ditandai, bisa dengan menyantelkan baggage-tag lengkap dengan nama dan alamat sampeyan, atau dengan menyantelkan cantelan yang rada unik .... misalnya dicanteli tengkorak. Sering kejadian orang salah ambil koper karena mirip.

Kalau koper yang dicanteli tengkorak itu ndak keluar-keluar juga di ubeng-ubengan koper, ya lapor saja baik-baik. Ndak usah malu dan ndak usah pake misuh-misuh (ini pemandangan yang sering tampak), nanti malah sampeyan yang dipisuhi balik dan malah ndak dibantu sama sekali. Rugi berkali-kali malah, dipisuhi, barang hilang dan ndak bisa ganti daleman. Pokoknya misuh pangkal kukur-kukur, garuk-garuk mana suka.

Sampai saat ini record saya kehilangan koper adalah 4 hari. Karena berkomunikasi secara ramah dan baik-baik dengan seorang mbak manis di bagian pelayanan kehilangan bagasi maskapai penerbangan Perancis itu, saya lantas dibelikan apa yang mereka sebut sebagai keperluan dasar sebelum koper saya ditemukan .... lho lihatlah, dapat apa saja saya .... hmmm, ada satu setelan baju (hem), baju kaos, celana panjang, singlet, celana dalam (lha...tau ukurannya dari mana mbak itu??) ... lho apa ini .... kondom?!!! walah .... ngarep ya Mbak?!!

Gambar diambil dari sini.


Posted at 12:03 am by Sir Mbilung
Ada (14) yang ndobos juga  

Tuesday, November 21, 2006
Saru Tapi Seru ... eh Ilmiah

Memberi nama pada mahluk hidup adalah salah satu tugas taksonomis di bidang ilmu hayat. Nama yang diberikan disepakati mengambil dari kata dalam Bahasa Latin atau Bahasa Yunani kuno, atau nama yang dilatinkan, sehingga nama ilmiah jenis mahluk hidup sering juga disebut dengan nama latin. Nama ilmiah mahluk hidup ini terdiri dari dua kata (binomial) dengan kata pertama adalah nama marganya (genus) dan huruf pertamanya ditulis dengan huruf besar. Biasanya dicetak dengan huruf miring (italic) atau jika menggunakan tulisan tangan, nama ilmiah tersebut digaris bawahi). Misal, Burung gereja bernama ilmiah Passer montanus atau jika ditulis dengan tulisan tangan menjadi Passer montanus.

Janganlah menjadi resah dan gelisah sederek sedoyo, saya ndak akan ndobos soal taksonomi yang mbulet njelimet. Mungkin sama seperti sampeyan saya ini juga penikmat hasil kerja para taksonomis itu saja. Menikmati? lho iya ... apalagi jika pikiran saya sedang awut-awutan seperti ketika menulis postingan ini. Maka hasil kerja susah-susah berdarah-darah para taksonomis itu malah jadi pemicu tawa karena jenaka (paling tidak buat saya). Mari kita lihat beberapa contohnya.

Foadia adalah nama marga dari kumbang yang ditemukan di kulit batang mangrove di Florida Keys di Amerika sana. Bemper penyok ... itu FOAD kan singakatan dari fuck off and die. Gosipnya, itu sang pemberi nama, Pakaluk, sengaja memberi nama itu.

Nama ilmiah lain juga bikin geleng-geleng kepala, soal ini saya pernah cerita pada Ndoro Kakung Pecas dan ditulisnya di sini. Kalau sampeyan males baca di tempatnya Ndoro Kakung, begini ceritanya. Pada jaman dahulu kala, apa-apa yang mengacu pada kegagahan itu disambung-sambungkan dengan jumlah zakar. Maka ada elang yang lantas namanya mengandung kata triorchis atau tiga zakar. Elang yang hidup di Papua itu diberi nama genus Erythrotriorchis yang artinya tiga zakar yang kemerah-merahan. Gendengnya lagi ada elang lain yang juga hidup di Papua diberi nama Megatriorchis ... lhaaa tiga zakar raksasa.

Ada pula nama ilmiah yang kalau diplesetkan sedikit, kata itu dalam Bahasa Inggris menjadi kata yang kasar. Tengok saja nama jenis laba-laba ini, Eremobates inyoanus, lha kata keduanya itu lho inyoanus. Hanya saja, favorit saya, yang baru saja saya temukan, adalah nama marga burung jenjang. Bugeranus. Silahkan dicari sendiri plesetannya, saya ndak tega nulisnya. Hanya saja, Pak dokter bilang, Bugeranus bisa membuat ada apa-apa inyoanus .... saya sih percaya saja, lha wong dia dokter je.

"Kenakalan" para taksonomis seperti contoh-contoh kecil di atas ada banyak sekali ternyata.  Sayangnya, yang begini-begini tak pernah diberikan di mata kuliah taksonomi tumbuhan atau taksonomi hewan. Mata kuliah taksonomi identik dengan hapalan mati dan kebosanan tingkat akut. Atau mungkin dosen taksonominya ndak tau ada plesetan begini ya? Mungkin karena ini juga saya ndak pernah diterima bekerja jadi dosen. Lha mosok ono dosen sing cangkeme ember bocor?


Posted at 12:00 am by Sir Mbilung
Ada (19) yang ndobos juga  

Monday, November 20, 2006
Mengapa Sembunyi?

Indie sebagai kependekan dari independent masuk dalam ranah budaya pada sekitar akhir abad ke dua puluh. Berciri bebas, ndak umum atau ndak mainstream, apa kata gue, pokoknya lu liat, tonton atau dengerin aja deh. Kalau suka ya bungkus kalau ndak suka ya tinggal memalingkan muka atau dengar yang lain. Gitu aja kok repot ... Lha, di pusat kota yang saya cerita kemarin itu, banyak seniman indie. Berunjuk kebolehan secara langsung di depan orang banyak. Buat seniman musik selain berunjuk kebolehan mereka juga menggelar hasil rekaman kebolehan mereka dalam bentuk CD yang lantas ditawarkan kepada para calon penggemar. Kalau seniman dalam bentuk lain, seperti pantomime, ya hanya bisa meraup receh dari para penikmatnya.

Lantas ingatan saya melayang ke para penghibur jatilan di Yogja, seniman jalanan dalam bus atau di warung-warung kaki lima. Beberapa dari mereka memiliki kualitas sangat layak pirsa, dan jika kemudian mereka seperti terperangkap pada situasi "terpinggirankan", buat saya itu adalah sesuatu yang patut disayangkan. Ada berapa banyak jiwa yang bisa diperkaya oleh karya mereka jika saja mereka bisa menjangkau telinga atau rasa lebih banyak orang.

Dalam dunia ngeblog begini, wadoh .... itu ada banyak orang dengan talenta luar biasa yang entah karena faktor rendah hati atau rendah diri (ndak gegeden rumangsan atau narsis kayak saya ini) seolah tersembunyi dan kilau ketidak mainstreaman mereka itu tidak terlihat. Mereka unik, ada jawara lukis, ada pula artis CSS (cascading style sheets) dan template yang bisa membuat sebuah blog menjadi lebih layak saji, paling tidak secara penampilan. Lantas saya berandai-andai, aaah kalau saja mereka berani tampil alangkah beruntungnya kita semua.

Buat saya, mau genjrengan, pentalitan dan petakilan di jalan atau mau bermain-main dengan tata saji blog, ujungnya sama saja. Ada jiwa yang bakal terpuaskan dan para pelakunya layak mendapat perhatian. Soal sajiannya disenangi atau tidak oleh khalayak, itu soal lain. Maka awe-awe saya buat yang masih "bersembunyi", ayo nda ... jangan malu-malu, karena sampeyan bisa bikin banyak orang yang kekencengan menepuk dada (seperti saya ini) menjadi malu akan kesombongan diri sendiri. Menyadarkan orang sombong itu pahala lho ... begitu?


Posted at 07:20 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Sunday, November 19, 2006
Suatu Sabtu

Sabtu lepas tengah hari, udara cerah ndak ketulungan, nyaris tidak berawan dan matahari leluasa senyum-senyum. Hanya saja hari ini dinginnya minta ampun. Itu juga sebabnya saya lebih betah mlungker kayak luwing di kamar hingga kelaparan dan ini berarti saya harus ke kota. Setelah membungkus diri hingga mirip lontong dan tak lupa memakai kupluk penutup kepala sehingga mempertegas kelontongan saya, maka berjalan kakilah si manusia tropis ini menuju kota. Wah iya, betul-betul cerah ternyata, walaupun dinginnya kebangetan. Taman yang saya lintasi dipenuhi orang, semua melontongkan diri beraneka warna. Makin dekat ke pusat kota, makin banyak saja orangnya, dan inilah pemandangan di pusat kota itu.

Pasar tradisional terletak di sebuah lapangan terbuka di jantung kota dan hari itu ada begitu banyak orang dengan beragam kegiatannya. Ada yang berdemonstrasi memaki Partai Komunis Cina yang melarang Falun Gong. Beberapa belas langkah dari tempat demonstrasi ada sebuah kios baju yang menjual kaos berwarna merah bergambar Mao atau Che. Ada yang ngamen dengan bermain musik (bag pipes, saxophone dan main ban kumplit) sembari berjualan CD rekaman lagu-lagu yang mereka produksi sendiri. Ada juga yang ngamen memakai kostum anjing dan bertingah seperti anjing lengkap dengan kandang anjingnya yang bikin bingung anjing beneran yang dibawa sang tuan melihat pertunjukan itu. Pengamen anjing begini tidak berjualan DVD tingkahnya (tak ada VCD yang dijual di Inggris, entah kenapa). Di sisi lain pasar, seorang tunawisma sibuk berteriak-teriak menjual majalah Big Issue. Ada pula yang membagi-bagikan selebaran untuk menentang perdagangan bebas dan mengutuk perusahaan besar dan multinasional yang dituding tak berkeadilan dan tak berperikemanusiaan, sambil sesekali para pembagi selebaran bergantian masuk ke dalam toko Marks & Spencer untuk menghangatkan diri.

Pasar tradisional itu memang dikelilingi oleh banyak toko-toko bernama besar, ada McDonald's, Starbucks, Marks & Spencer, Body Shop, HMV dan semua dijejali banyak orang. Demikian juga warung-warung makanan pinggir jalan yang penuh antrian, ada yang jualan kopi, hot dog, burger, fish and chips dan juga es krim (gendeng po tuku es krim dingin-dingin, mbok ganti jualan bandreg saja). Tidak ada kendaraan beroda empat yang bisa masuk ke tengah kota Cambridge, hanya bus, taxi, ambulans, pemadam kebakaran dan mobil polisi yang diperkenankan masuk. Jalan-jalan di dekat pusat kota dipasangi "saringan mobil" seperti tiang yang bisa naik dan turun nyungsep ke dalam jalanan secara otomatis. Sesekali terlihat polisi yang berjalan berpatroli berpasangan. Semua aman terkendali, paling tidak begitu tampaknya.

Lha sayanya ngapain? ya menikmati tontonan kesibukan orang-orang itu, ndak bisa ngomong. Bukan kagum atau kehilangan kata-kata, mulut saya sedang penuh dijejali kebab yang dijual orang Turki di gerobag dorongnya. Dingin sekali hari ini, tapi perut saya aman terkendali sekarang.


Posted at 07:22 am by Sir Mbilung
Ada (19) yang ndobos juga  

Saturday, November 18, 2006
Saya Kangen Mendoan

Saya adalah seorang omnivor sejati, penguntal segala, garbage compactor. Tampang keren modern kerongkongan primitif, begitu kata seorang kawan pada suatu ketika (kata-kata "tampang keren modern" itu tambahan dari saya saja) . Begitu saya dulu berpikir. Ah tidak ternyata, saya tidak gemar sayur, sehingga gelar omnivor harus ditanggalkan dan diganti dengan karnivor, penyantap daging. Itulah saya.

Jika saya sedang bermukim di Cambridge saya tinggal di sebuah rumah yang diisi oleh empat orang termasuk saya. Sang pemilik rumah, teman sekantor duda beranak tiga; seorang perempuan pintar asal Portugal yang baru meninggalkan kekasihnya karena kurang pintar; dan seorang perempuan lesbian yang juga pintar asal Afrika Selatan yang jago memasak. Selain soal kepintaran, ada satu kesamaan lain dari mereka bertiga, mereka semua vegetarian.

Begitulah hari-hari saya di rumah ini diisi dengan makan makanan tanpa daging, kecuali makan siang di hari kerja. Tersiksakah saya? sama sekali tidak. Entah karena sang juru masak benar-benar lihai, saya selalu kelaparan dan semua jadi enak atau karena gabungan keduanya. Saya menikmati semua makanan yang disajikan, walaupun itu berefek samping pada peningkatan frekuensi dan juga kuantitas buang angin yang disertai peningkatan desibel bunyinya. How charming ....

Makanan untuk para vegetarian amat sangat mudah dijumpai di sini dan dengan harga yang sangat terjangkau untuk semua kalangan. Jika sudah memutuskan untuk berpantang daging, maka nyaris tidak ada masalah sesudahnya. Saya katakan nyaris karena mereka sering juga harus bepergian ke tempat-tempat di mana daging adalah menu utama. Saya lantas membayangkan keadaan di Indonesia, keadaan seorang kawan yang sekarang saya panggil kewan tito yang memilih untuk menjadi vegetarian sepulangnya dia dari bepergian ke pasar hewan bersama paman. Indonesia memiliki beraneka ragam menu tanpa daging, hanya saja apakah Indonesia sudah bisa dikatakan sebagai tempat yang ramah untuk vegetarian? Bukan bagian saya untuk menjawab itu, lha wong saya ini penyantap kewan (bukan kawan) kok.

Saya kangen mendoan .... sekian.


Posted at 07:48 pm by Sir Mbilung
Ada (11) yang ndobos juga  

Friday, November 17, 2006
Kehicap boano

Seribu Intan nomer 6

Seperti halnya Celepuk siau, burung yang satu ini hanya hidup di sebuah pulau yang kecil sekali ukurannya, Pulau Boano yang terletak di lepas pantai Utara Pulau Seram bagian Barat. Hanya saja, jika Celepuk siau masih ada yang hendak mencarinya kembali, burung yang satu ini seolah terlupakan dan entah bagaimana nasibnya sekarang dan terakhir dilihat lebih dari satu dasawarsa yang lalu, pada bulan November 1994 di sebuah lembah di kaki Gunung Tahun.

Kehicap boano (Monarcha boanensis) ukurannya kecil saja, tak lebih dari sejengkal tangan orang dewasa. Bagian atas tubuhnya berwarna hitam, serta bagian bawahnya berwarna putih yang juga menjadi warna bulu-bulu ekor terluarnya yang sering dikembangkannya menyerupai kipas. Ada bercak putih pada jidatnya dan dagunya berwarna hitam yang lantas menjadi nama burung ini dalam Bahasa Inggris, Black-chinned Monarch.

Mereka mencari makan bersama-sama dengan kelompok burung lain di semak-semak atau di bagian bawah tajuk pohon. Sejauh yang diketahui burung ini hanya memakan serangga. Informasi mengenai musim burung ini kawin dan bertelur tak diketahui, hanya saja pernah ada seekor burung yang masih muda yang dilihat pada bulan Oktober. Hanya itu yang diketahui.

Entah bagaimana keadaan Pulau Boano sekarang. Saya ingat pada suatu saat dulu dalam perjalanan  dari Ambon menuju Wahai di pantai Utara Pulau Seram, kapal yang saya tumpangi itu melewati Pulau Boano, tidak singgah, hanya lewat saja. Itulah kali pertama saya menatap pulau tersebut dan hingga kini belum pernah saya menginjakan kaki di Pulau Boano. Foto-foto satelit terbaru memperlihatkan bagian Barat pulau yang relatif landai sedah kehilangan banyak hutannya. Perladangan tampak di sana-sini. Hutan masih bisa terlihat ada di pegunungan yang membentang dari bagian tengah pulau hingga ke bagian Barat. Tidak sepenuhnya utuh, di sana-sini bukaan hutan jelas terlihat.

Apakah burung ini di dunia hanya ada di Pulau Boano? Begitulah yang sejauh ini diketahui, hanya saja dua pulau yang sama kecilnya, Pulau Kelang dan Pulau Manipa yang terletak di sebelah Barat Pulau Boano tampaknya juga perlu dijelajahi untuk mencari apakah dua pulau tersebut juga didiami oleh burung ini. Nasibnya yang tak jelas, hidupnya di pulau yang kecil, tak terperhatikan, difotopun belum pernah, jumlahnya yang mungkin juga tak lagi banyak karena ada penyusutan yang terus menerus dari rumahnya, menyebabkan burung ini masuk ke dalam kategori keterancaman tertinggi, Kristis (Critically Endangered).

Apa ada dari sampeyan yang berminat mencari tahu bagaimana nasibnya burung hitam putih imut ini? Bersegeralah datang ke Pulau Boano dan pekerjaan rumah pertama yang harus dilakukan adalah mencari di peta letak pulau tersebut.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 04:53 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Thursday, November 16, 2006
Romeo Error dan Anjing Itu

Membongkar-bongkar arsip dan membaca tulisan-tulisan tentang kepunahan spesies membuat saya rajin menarik napas panjang, ada terlalu banyak cerita sedih di situ. Tidak seluruhnya sedih karena ada satu bagian di mana saya bisa tersenyum geli. Tulisan tentang suatu tempat di negara tetangga, Philippina, dan tempat itu bernama Pulau Cebu. Awal ceritanya memang sedih, bagaimana pulau yang sangat penting bagi upaya penyelamatan burung ini praktis diabaikan dari upaya pelestarian burung hanya karena sebuah tulisan yang dibuat oleh seorang ahli ternama dan sangat dihormati yang dimuat di sebuah jurnal terkenal. Ahli ternama dan dihormati itu menulis pada tahun 1958 (diterbitkan tahun 1959) bahwa hutan di Pulau Cebu sudah habis bis bis, tak ada lagi harapan di pulau itu. Tulisan tersebut ternyata tidak seluruhnya benar dan pada saat kesalahan fatal tersebut disadari, semuanya sudah terlambat. Kesalahan besar tersebut diungkap dalam sebuah tulisan yang berjudul "Extinction by assumption; or, the Romeo Error on Cebu" yang diterbitkan pada tahun 1998.

Kesalahan tersebut begitu menggelikan buat saya. Bagaimana bisa sang ahli, yang berasal dari Cebu, melewatkan satu kejadian maha penting dalam sejarah Philippina yang menjadi bukti bahwa masih ada hutan sangat luas dan lebat di Cebu pada tahun 1957. Ceritanya pada bulan Maret 1957 terjadi sebuah kecelakaan pesawat udara di Cebu, pesawat tersebut menabrak Gunung Manung-gal (tanda "-" bukan kesalahan ketik, memang begitu menulisnya). Penumpang pesawat tersebut bukan orang sembarangan, dia adalah Ramon del Fierro Magsaysay, Presiden Philippina kala itu. Lha wong yang kecelakaan itu pesawat kepresidenan je, tentu saja segala daya upaya dikerahkan untuk mencarinya. Tetapi apa daya upaya itu menemui hambatan besar .... hutan yang lebat. Surat kabar Manila Chronicle pada tanggal 18 Maret 1957 menulis "resident of Mt. Manung-gal said it was not possible to determine if there were any other survivors because of the thickness of the forest in the area", lantas ada juga kutipan dari ucapan Mayor of Cebu City yang mengatakan "you can hardly see 10 ft. away".

Akhirnya lokasi jatuhnya pesawat bisa ditemukan, bukan dari hasil pencarian besar-besaran itu tapi lokasi tersebut bisa ditemukan karena ada satu orang yang selamat, Nestor Mata (seorang wartawan) yang ditemukan di lokasi kecelakaan oleh anjing yang dimiliki oleh Marcelino Nuya (seorang petani yang hidup di gunung itu). Nuya kemudian membopong Mata turun dari Gunung Manung-gal (cerita lain menyebutkan Nuya kembali ke desa dan memanggil teman-teman desanya untuk membopong Mata turun). Singkat cerita, lokasi jatuhnya pesawat ditemukan atas informasi dari Mata dan Nuya.

Hutan berkali-kali disebut dalam berita-berita seputar kecelakaan pesawat yang penting itu, akan tetapi informasi tersebut seolah tidak ada dan sang ahli burung ternama itu justru menulis kalau tak ada hutan di Cebu. Karena tulisan itu, tak ada yang melirik Cebu. Saat ini Cebu sudah betul-betul remuk redam. Aaaah ... andai saja tulisan itu tidak pernah diterbitkan. Aaaah ... andai saja ahli itu dan para ahli lainnya tak hanya hidup dalam gelembungnya sendiri, gaoool getoo loooh, mungkin masih ada hutan agak besar di Cebu sekarang. Saya hanya tersenyum kecut.

Penelusuran lebih jauh tentang kecelakaan tersebut membawa saya ke cerita lanjutan tentang Nuya dan anjingnya, para penemu lokasi jatuhnya pesawat itu. Pada akhirnya Nuya dan anjingnya dianugrahi tanda jasa kenegaraan. Upacara pemberian tanda jasa untuk Nuya dilakukan di Cebu City, sementara untuk anjingnya Nuya dilakukan di Istana Malacanang. Maka ijinkanlah saya untuk tersenyum sekali lagi.

Tulisan ini didedikasikan untuk Lionel, Tigger dan Dollie.


Posted at 08:47 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Next Page