Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Lha ... kok ya ndilalah pas banget toh? Permintaan Kang Mas Pecas Ndahe yang ditulisnya di sini pas dengan penyebab utama saya dicemberuti dan dimanyuni pagi ini di kantor. Sebagai pria berjuluk "si raja tega" dan ketua merangkap anggota kelompencapir (kelompok pencaci dan pencibir), dicemberuti dan dimanyuni itu adalah resiko logis.
Begini kisahnya. Pagi ini seisi kantor disibukkan dengan perbincangan tentang kekalahan tim sepak bola Jepang. Perbincangan itu penuh dengan andai ini andai itu, kenapa tidak begini dan tidak begitu, pokoknya ndak terima kalah. Saya ndak ikut ngomong, karena dari rumah tadi saya sudah niat buat ngampet ngomong. Sudahlah pokoknya diam saja, senyum boleh tapi jangan ngomong. Lha ... kok ada yang nekat nanya ke saya "... jadi menurut kamu bagaimana? siapa sebenarnya yang harus dimainkan tadi malam itu?". Jebol pertahanan saya, langsung njeplak "Jepang seharusnya memainkan Kapten Tsubasa". Reaksinya ... begitulah, bibir-bibir pada maju semua.
Kang Mas Pecas tidak salah, bagi banyak penggila bola di Jepang tokoh komik satu itu dijadikan patokan, tim sepak bola Jepang itu harus seperti tim-nya Kapten Tsubasa. Tidak ada yang bisa menghentikan tim Jepang dengan Tsubasa-nya, semua lawan dilibas dengan jumlah gol fantastis. Pokoknya, Kapten Tsubasa itu bisa dikatakan super hero, temennya Superman, walaupun Kapten Tsubasa pakai celana dalemnya ndak di luar.
Kalau kemudian banyak pemain bola seperti Nakata yang merasa terinspirasi dengan kapten komik ini ya boleh-boleh saja. Hanya saja, tim Jepang beneran itu lantas dibebani target gila-gilaan ... masuk final! Lha, ini sudah bukan terinspirasi Kapten Tsubasa lagi namanya, ini sudah kerasukan. Ini sama saja dengan menyamakan pulisi Indonesia itu seperti Gundala, Batman atau Justice League sekalian.
Biarkan mereka kerasukan, saya toh ndak rugi, malah untung. Setelah dimanyuni soal Tsubasa itu tadi, saya masih nyerocos lagi "samurai kok ndak bisa mancung kepala, ya disepak kangguru ... sekarang mana uang saya". Saya menang taruhan 5000 Yen, yang langsung saya pasang lagi karena orang sekantor percaya Jepang bakal mengalahkan Brazil. Kalau ternyata Jepang menang, 5000 Yen melayang, ya ndak apa-apa juga, lha wong duit "haram" kok, masak saya kirim buat sumbangan korban gempa Yogya?
* Gambar diambil langsung dari tempatnya Kang Mas Pecas.
Posted at 12:29 pm by Sir Mbilung
[em-eijs] June 16, 2006 10:40 PM PDT Hahaha... ini lebih menarik daripada piala dunianya sendiri, wong saya masuk golongan minoritas yang gak suka bola.
(maap rada ketinggalan komentarnya, baru sempet 'singgah' nih')
Mariskova June 14, 2006 01:30 AM PDT 5000 Yen dibuat taruhan Jepang-Kroasia lagi ya? Hahahaha....
Si Papap ternyata gak perlu handuk buat airmata.
Rara June 13, 2006 07:42 PM PDT Horeee... menang tarohan..!! Ntar kalo menang lagi, jangan dpake tarohan lagi ya.. Jangan biarkan ribuan Yen melayang..
pecas ndahe June 13, 2006 07:41 PM PDT 5000 yen itu bisa beli berapa bungkus mild seven yo? wis gak popo, haram yo ben.... :D
Hedi June 13, 2006 07:35 PM PDT Jepang udah bagus kok bisa ikut piala dunia, lha Indonesia melok ndelok tok hehehe
siberia June 13, 2006 04:59 PM PDT biasanya saya suka ngobrol bola sama Ndoro, apalagi jepun yg main. tapi krn kalah ya wis diam saja :P
cj June 13, 2006 03:13 PM PDT sebelum game mulai saya dah teriak: "jepang pasti kalah!" tapi tetep aja kuyashii... (banzaaaai!)
zico mustinya belajar dari pelatih trinidad&tobago. waktu pemain ilang satu kena kartu merah, dia malah nambahin striker, bener2 berusaha untuk menang.