Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Ngobrol sebentar dengan Mas Yoyok sesudah membaca grenengannya mengingatkan saya akan jaman kuliah dulu. Inilah jaman keemasan bersuka ria buat saya. Rumah orang tua, yang tanpa orang tua, di Bandung itu praktis menjadi markas gerombolan, tak pernah sepi. Lha bagaimana mau sepi kalau setiap hari ada belasan jejaka sepi minyak wangi, kadang ada beberapa jejaki juga, yang sehari-harinya mangkal di situ.
Julukan buat gerombolan ini macem-macem, anak-anak garasi, jajaka ticengklak manah, himpunan mahasiswa biang onar, anak-anak nakal bersubsidi dan masih banyak lagi. Semua bernada miring. Apa saja kerja gerombolan ini? saya akan ndobos tentang itu.
Televisi 21 inci adalah media pemersatu dan media belajar yang krusial. Siaran televisi, yang kala itu hanya berisi TVRI saja, bak mata air penguras air mata karena tertawa. Apalagi jika yang muncul adalah pak mentri kemlinthi berambut klimis yang bertugas untuk memberi penerangan tetapi hasilnya malah kegelapan. Biasanya dimulai dengan begini, *dagu terangkat sedikit, mata sendu, senyum dikulum* "saudara-saudara sekalian .... menurut petunjuk bapak presiden ..." grrrrrrrrrrrrr ... pelawak ulung beraksi, hasilnya tidak mengecewakan dan komentar sadis beterbangan.
Alkisah, laboratorium mikrobiologi itu dijaga oleh seorang asisten dosen (yang kebetulan ayu) yang judesnya nyundul langit. Tak boleh ada yang masuk tanpa ijinnya, ya ... dia hanya menjalankan tugas. Entah berapa kali anggota gerombolan disemprot habis hanya karena ngumpul di depan pintu ruang keramat itu, mungkin berisik. Seorang yang paling nakal dari gerombolan itu lantas berencana. Maka persekongkolan jahatpun digalang. Kampus yang baru selesai dibangun dan masih memiliki padang rumput buat ngangon ternak itu menyediakan bahan baku kejahilan yang luar biasa. Keesokan harinya, asisten ayu keluar dari ruang keramat dengan wajah membara .... "siapa yang memasukkan kambing-kambing itu ke ruangan saya".
Saat-saat ujian semester adalah saat tersibuk bagi anggota gerombolan. Karena nyontek pantang dilakukan, dikeluarkan dari "keanggotaan" adalah hukumannya, maka belajar bersama adalah satu-satunya pilihan. Belajar bersama adalah arena saling cela sekaligus berbagi, tak boleh ada yang tercecer dan tak boleh ada yang lari sendirian. Kenakalan seperti direm sejenak, untuk kembali di gas sesudah masa ujian lewat.
Apakah beban akademis yang ditanggung mahasiswa sekarang begitu besar atau sibuk demo sehingga Mas Yoyok nggreneng seperti itu?
Posted at 01:13 am by Sir Mbilung
Hedi June 18, 2006 03:04 PM PDT demo bukan berarti nakal kan...
nananias June 18, 2006 02:20 PM PDT hahaha jaman kami sma bikin cairan kimia gitu deh di lab yang baunya bujubuneng dah dan kita lepaskan di kelas sebelah. tapi sama juga untuk jadi juara adalah harga mati, kenakalan berbumbu prestasi hihihi..
harmoko malah yang mana yak? belum kena kasus apapun. apa karena selalu mendengarkan petunjuk bapak presiden? ngahahahaha..
fitri June 18, 2006 12:59 PM PDT hehehe, jadi mahasiswa nakal itu menyenangkan ya pakde.
Name June 18, 2006 11:41 AM PDT Ha.. ha.. lucu.. pas bagian kambing.
saya nggak sengaja nyasar ke sini. Tapi salam kenal ya...
yoyok June 18, 2006 02:22 AM PDT wah..menurut petunjuk bapak presiden...sepertinya bukan dua-duanya mas :D
Name June 18, 2006 02:03 AM PDT tvri ? hihihi..udah lama banget ya, mas
menurut petunjuk bapak president..hahhahhaha...harmoko
Mariskova June 18, 2006 01:32 AM PDT kakakakakaks.... kambing gitu loh...
Kampus Pak Dhe banyak kambingnya, kampus saya dulu banyak dedemitnya :( Plus, dosennya adl para veteran perang dunia ke-2 :( :(