Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< June 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Sunday, June 18, 2006
Pepaya Setalen

Penyakit lama saya suka nyanyi-nyanyi sendiri tanpa penonton itu kumat lagi. Ini mesti gara-gara "sarimi masak nggilani" resepnya Bang Pi'i itu.

Saya tidak akan ndobos soal hasil akhir masak-memasak itu, coba saja sendiri dan rasakan bedanya (dengan penekanan pada kata "rasakan"). Ini soal senandung apik tentang buah-buahan, berirama cha-cha-cha. Enak untuk goyang pinggul, sarungan sambil masak.

Siapa pengarangnya saya ndak pernah tahu, tapi syairnya saya ingat-ingat lupa, kira-kira begini :

Papaya, mangga, pisang, jambu
Dibawa dari Pasar Minggu
Di sana banyak penjualnya
Di kota banyak pembelinya

Papaya, jeruk, jambu, rambutan, duren, duku dan lain-lainnya
Marilah mari kawan-kawan semua membeli buah-buahan

Papaya si makanan rakyat

Bentuknya sangat sederhana
Harganya tak boleh meningkat
Setalen tuan boleh angkat


Lho ... apik kan? Tapi namanya juga lagu lama, revisi tampaknya diperlukan, terutama soal harga. Papaya (boleh juga Pepaya) harganya setalen dan harganya ndak boleh naik karena papaya itu makanan rakyat. Haiyaaah ... apa ini ndak setali tiga uang dengan syair lagu "Kereta Apiku" nya Ibu Sud .... "ke Bandung, Surabaya, bolehlah naik dengan percuma". Dikira bonek apa? naik sepur gratisan.

Setalen itu berapa? Setalen atau setali itu sama dengan 25 sen. Kalau kita punya dua uang logam seketip dan satu uang logam sekelip jumlahnya jadi setali. Bingung? Seketip = 10 sen, sekelip = 5 sen. Karena hal itu pula lantas muncul peribahasa "setali tiga uang". Mungkin peribahasa itu juga perlu direvisi agar mengkini, menjadi "sejuta sepuluh uang", toh artinya sama.

Lha ... masakan saya gimana jadinya? Nah itu dia, walaupun dijual setalen ndak bakal ada yang mau beli, mending beli papaya. Bang Pi'i, resep sampeyan muaaantabh ... apalagi yang pake terong, nggilani pol!

Foto diambil tanpa ijin dari sini.



Posted at 05:49 pm by Sir Mbilung

fitri
June 24, 2006   05:07 AM PDT
 
masak tho pepaya jadi mahal? kayaknya enggak lho pakde. masih segitu-gitu juga. asal belinya jangan di supermarket :) *terakhir makan pepaya sekitar enam bulan yang lalu*
bang pi'i
June 19, 2006   05:58 PM PDT
 
ha kenapa sampeyan jajal resep saya wong sudah jelas-jelas yang pake terong itu jangan dijajal lho! wooo... saya dulu masak itu karena gak ada bahan lain dan nasinya juga habis, makanya agar kenyang saya masukkan terong juga....hehehehe
merahitam
June 19, 2006   12:07 PM PDT
 
Ho oh tuh mas...Pepaya yang kecil aja sekarang harganya dua ribu lebih...Kalau di tukang buah, seiris malah seribu...
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry