
Penyakit lama saya suka nyanyi-nyanyi sendiri tanpa penonton itu kumat lagi. Ini mesti gara-gara "sarimi masak nggilani" resepnya Bang Pi'i itu.
Saya tidak akan ndobos soal hasil akhir masak-memasak itu, coba saja sendiri dan rasakan bedanya (dengan penekanan pada kata "rasakan"). Ini soal senandung apik tentang buah-buahan, berirama cha-cha-cha. Enak untuk goyang pinggul, sarungan sambil masak.
Siapa pengarangnya saya ndak pernah tahu, tapi syairnya saya ingat-ingat lupa, kira-kira begini :
Papaya, mangga, pisang, jambu
Dibawa dari Pasar Minggu
Di sana banyak penjualnya
Di kota banyak pembelinya
Papaya, jeruk, jambu, rambutan, duren, duku dan lain-lainnya
Marilah mari kawan-kawan semua membeli buah-buahan
Papaya si makanan rakyat
Bentuknya sangat sederhana
Harganya tak boleh meningkat
Setalen tuan boleh angkat
Lho ... apik kan? Tapi namanya juga lagu lama, revisi tampaknya diperlukan, terutama soal harga. Papaya (boleh juga Pepaya) harganya setalen dan harganya ndak boleh naik karena papaya itu makanan rakyat. Haiyaaah ... apa ini ndak setali tiga uang dengan syair lagu "Kereta Apiku" nya Ibu Sud .... "ke Bandung, Surabaya, bolehlah naik dengan percuma". Dikira bonek apa? naik sepur gratisan.
Setalen itu berapa? Setalen atau setali itu sama dengan 25 sen. Kalau kita punya dua uang logam seketip dan satu uang logam sekelip jumlahnya jadi setali. Bingung? Seketip = 10 sen, sekelip = 5 sen. Karena hal itu pula lantas muncul peribahasa "setali tiga uang". Mungkin peribahasa itu juga perlu direvisi agar mengkini, menjadi "sejuta sepuluh uang", toh artinya sama.
Lha ... masakan saya gimana jadinya? Nah itu dia, walaupun dijual setalen ndak bakal ada yang mau beli, mending beli papaya. Bang Pi'i, resep sampeyan muaaantabh ... apalagi yang pake terong, nggilani pol!
Foto diambil tanpa ijin dari sini.