Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Kecerobahan berakhir dengan lolongan kesakitan. Saya memang sering ceroboh dan hasil kecerobahan kali ini adalah menempelnya pita perekat, cellotape heavy duty, di kaki yang ada rambutnya itu. Itu pita sempat nempel di kaki cukup lama selagi saya berpikir bagaimana cara melepaskannya. Alkohol? wah ndak punya. Silet? sama juga. Pisau dapur? terlalu ekstrim. Ya sudah, tarik saja. Walaupun napas sudah ditarik dalam-dalam, sensasi itu masih juga menyengat dan air mata bercucuran. Hauuuuuuuwwww ... haih .. haih .. haih ... *sambil mringis*.
Agony? buat saya iya, tapi buat sebagian orang hal itu adalah hal yang lantas dijalani dengan kesadaran penuh, agar tampak huhuuuy. Teman-teman perempuan saya beberapa melakukan ritual ini. Pernah dengar istilah leg waxing? istilah asing untuk njabuti rambut di kaki atau tepatnya di daerah seputaran betis. Lebih atas dari daerah itu saya belum pernah lihat, walaupun katanya ada.
Prosesnya sederhana, bagian kaki yang rambutnya hendak dienyahkan diolesi cairan agak kental (wax). Jangan pakai tangan ngolesnya, harus pakai spatula, alat pengoles (wood applicator). Daerah teroles lantas ditutupi kertas khusus untuk waxing. Tiup tiup sebentar, tarik napas dalam-dalam, tarik kertasnya secepat mungkin.... srtttt ... saya yang nonton langsung mringis bergidik.
Mestinya sakit, paling tidak perih. Tetapi, kenapa pula tetap saja dilakukan? Macam-macamlah alasannya, tetapi semua mengarah ke "kecantikan" dan "keindahan" kaki. Apa pula salahnya rambut-rambut itu kok lantas dicabuti? Rambut memberikan insulasi bagi tubuh dan rambut juga menjadi tempat penimbunan beberapa racun yang dibuang oleh tubuh. Keindahan, yang relatif itu, tampaknya menuntut adanya korban, ya rambut itu.
Kaki saya sekarang rada pitak ... dan tetap saja tidak indah.
xx November 12, 2007 11:44 AM PST badax
toket lo kecil banget
fitri June 24, 2006 05:10 AM PDT pakde, saya termasuk wanita penyuka kerimbunan kecuali bagian ketek. kalau kakak-kakak saya bilang, saya ini gorilla. dan saya mempertahankan kegorilaan saya. hahaha.
bang pi'i June 20, 2006 05:05 PM PDT tulisan ini bikin kualat... saya YM-an sama kang mbilung terus jenggot saya kejepit tempat keyboard pas ngambil hape yang jatuh. woh! dagu saya mbrodoli....
BC June 19, 2006 09:55 PM PDT program utama wanita emang mempercantik diri... hasilnya kan sampeyan2 yg menikmati visualnya ehhehe
mpokb June 19, 2006 06:03 PM PDT tak kirain gara-gara nggak bisa tidur, terus iseng cabutin bulu kaki.. eh, jangan.. :P
Mariskova June 19, 2006 04:42 PM PDT The price for being beautiful. Or at least die trying to, ya? Hehehe...
Name June 19, 2006 04:33 PM PDT hihihi brazillian waxing? sakitnya kayak apa yak?
Dian June 19, 2006 11:58 AM PDT kalo bulu ketek ? lha..ntar kayak kakaknya temanku, pas wedding, bulu keteknya kemana mana hwehehe
merahitam June 19, 2006 11:58 AM PDT Bener tuh Pakde Kerekemplu. Cantik itu luka...hayah...
Mas Mbilung, harusnya ditetesin madu yang sudah dipanaskan, terus diamkan selama semalam. habis itu ditarik pelan-pelan. Kata majalah sih pakai cara gitu nggak bakalan sakit. Btw, aku sendiri belum pernah nyoba...hehehehe...Dan itu fotonya kok bukan foto diri sendiri toh?
kere kemplu June 19, 2006 10:31 AM PDT weleh. kejenggit!
12 tahun yang lalu saya mondok di rumah sakit. saben hari suster kejam itu cuek saja mengangkat plester padahal plesternya membawa serta kulit luar saya. lebih sakit drpd bulu keangkat.
soal bulu wanita, yeah... itulah standar kecantikan versi industri. tp sy lhat wnt mulus jg suka kok. kalo dhiwut2 kok kayak gorila.
kecantikan kadang memerlukan derita, termasuk shaving dan trimming. apa boleh buat. :D