Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< June 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Monday, June 19, 2006
Rambut

Kecerobahan berakhir dengan lolongan kesakitan. Saya memang sering ceroboh dan hasil kecerobahan kali ini adalah menempelnya pita perekat, cellotape heavy duty, di kaki yang ada rambutnya itu. Itu pita sempat nempel di kaki cukup lama selagi saya berpikir bagaimana cara melepaskannya. Alkohol? wah ndak punya. Silet? sama juga. Pisau dapur? terlalu ekstrim. Ya sudah, tarik saja. Walaupun napas sudah ditarik dalam-dalam, sensasi itu masih juga menyengat dan air mata bercucuran. Hauuuuuuuwwww ... haih .. haih .. haih ... *sambil mringis*.

Agony? buat saya iya, tapi buat sebagian orang hal itu adalah hal yang lantas dijalani dengan kesadaran penuh, agar tampak huhuuuy. Teman-teman perempuan saya beberapa melakukan ritual ini. Pernah dengar istilah leg waxing? istilah asing untuk njabuti rambut di kaki atau tepatnya di daerah seputaran betis. Lebih atas dari daerah itu saya belum pernah lihat, walaupun katanya ada.

Prosesnya sederhana, bagian kaki yang rambutnya hendak dienyahkan diolesi cairan agak kental (wax). Jangan pakai tangan ngolesnya, harus pakai spatula, alat pengoles (wood applicator). Daerah teroles lantas ditutupi kertas khusus untuk waxing. Tiup tiup sebentar, tarik napas dalam-dalam, tarik kertasnya secepat mungkin.... srtttt ... saya yang nonton langsung mringis bergidik.

Mestinya sakit, paling tidak perih. Tetapi, kenapa pula tetap saja dilakukan? Macam-macamlah alasannya, tetapi semua mengarah ke "kecantikan" dan "keindahan" kaki. Apa pula salahnya rambut-rambut itu kok lantas dicabuti? Rambut memberikan insulasi bagi tubuh dan rambut juga menjadi tempat penimbunan beberapa racun yang dibuang oleh tubuh. Keindahan, yang relatif itu, tampaknya menuntut adanya korban, ya rambut itu.

Kaki saya sekarang rada pitak ... dan tetap saja tidak indah.

Foto diambil dari sini.


Posted at 12:58 am by Sir Mbilung

xx
November 12, 2007   11:44 AM PST
 
badax
toket lo kecil banget
fitri
June 24, 2006   05:10 AM PDT
 
pakde, saya termasuk wanita penyuka kerimbunan kecuali bagian ketek. kalau kakak-kakak saya bilang, saya ini gorilla. dan saya mempertahankan kegorilaan saya. hahaha.
bang pi'i
June 20, 2006   05:05 PM PDT
 
tulisan ini bikin kualat... saya YM-an sama kang mbilung terus jenggot saya kejepit tempat keyboard pas ngambil hape yang jatuh. woh! dagu saya mbrodoli....
BC
June 19, 2006   09:55 PM PDT
 
program utama wanita emang mempercantik diri... hasilnya kan sampeyan2 yg menikmati visualnya ehhehe
mpokb
June 19, 2006   06:03 PM PDT
 
tak kirain gara-gara nggak bisa tidur, terus iseng cabutin bulu kaki.. eh, jangan.. :P
Mariskova
June 19, 2006   04:42 PM PDT
 
The price for being beautiful. Or at least die trying to, ya? Hehehe...
Name
June 19, 2006   04:33 PM PDT
 
hihihi brazillian waxing? sakitnya kayak apa yak?
Dian
June 19, 2006   11:58 AM PDT
 
kalo bulu ketek ? lha..ntar kayak kakaknya temanku, pas wedding, bulu keteknya kemana mana hwehehe
merahitam
June 19, 2006   11:58 AM PDT
 
Bener tuh Pakde Kerekemplu. Cantik itu luka...hayah...

Mas Mbilung, harusnya ditetesin madu yang sudah dipanaskan, terus diamkan selama semalam. habis itu ditarik pelan-pelan. Kata majalah sih pakai cara gitu nggak bakalan sakit. Btw, aku sendiri belum pernah nyoba...hehehehe...Dan itu fotonya kok bukan foto diri sendiri toh?
kere kemplu
June 19, 2006   10:31 AM PDT
 
weleh. kejenggit!
12 tahun yang lalu saya mondok di rumah sakit. saben hari suster kejam itu cuek saja mengangkat plester padahal plesternya membawa serta kulit luar saya. lebih sakit drpd bulu keangkat.

soal bulu wanita, yeah... itulah standar kecantikan versi industri. tp sy lhat wnt mulus jg suka kok. kalo dhiwut2 kok kayak gorila.

kecantikan kadang memerlukan derita, termasuk shaving dan trimming. apa boleh buat. :D
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry