Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Ibu yang satu ini terkeder-keder dengan Garuda, begini katanya "Burung Garuda itu benar adanya atau mitos adanya? aku kok keder mlulu soal burung satu itu". Jawaban singkatnya, ya ... mitos yang lantas diada-adakan, sangat Indonesia. Kalau masih keder juga, ijinkanlah saya tak coba ndobos soal yang satu ini.
Dalam mitologi Hindu dan Buddha ada disebut seekor burung atau mahluk burung bertubuh manusia yang sangat besar bernama Garuda. Sangking besarnya, jika Garuda sedang terbang matahari tertutup, kepak sayapnya menyebabkan topan, rumah-rumah beterbangan. Lebih dahsyat lagi, ceritanya itu Garuda bisa mencabut beringin sak akar-akarnya, lho apa ndak dahsyat itu. Mungkin karena itu makanya beringin lantas berbaik-baik sama Garuda, biar ndak dicabut.
Dikisahkan bahwa Garuda adalah anak dari Kashyapa dan Vinita, dan adik dari Aruna yang berputra Jatayu dan Sempati. Dalam kisah Rama dan Sinta diceritakan bagaimana Jatayu yang keponakannya Garuda itu, gugur setelah bertempur dengan Rahwana yang menculik Sinta. Diceritakan pula Garuda adalah tunggangannya Batara Wishnu sementara sang kakak, Aruna, adalah kendaraan Batara Surya.
Kegagahan sosok, kekuatan dan kesaktian membuat Garuda menjadi layak simbol dan layak tampil. Soal keartisan Garuda, sampeyan pernah tahu Garudamon, salah satu tokoh dalam film kartun Digimon. Kalau belum coba tanya sama anaknya atau adiknya yang masih kecil yang hobinya menthelengi film kartun Jepang. Sementara sebagai simbol, Garuda dijadikan lambang negara oleh Indonesia dan Thailand. Perusahaan penerbangan Indonesia (flag carrier) juga menggunakan nama Garuda, lengkapnya Garuda Indonesia, wuih gagah ya?
Soal Garuda Indonesia ini ada yang sempat bikin saya terkekeh-kekeh. Begini, Garuda memiliki banyak nama atau sebutan, salah satu nama lain Garuda adalah Suparna. Lha apa saya ndak terkekeh-kekeh pada saat Garuda Indonesia lantas diberi direktur utama yang namanya Suparno, tapi ya tetap saja njengking. Terkekeh-kekeh Garuda lainnya adalah dengan iklannya Kacang Garuda. Garudanya dilakonkan oleh Golden Eagle (Aquila chrysaetos) yang ndak ada di Indonesia, lantas sang elang dengan gagah njabut kacang, haih ... elang vegetarian ini.
Nah sekarang soal diada-adakannya Garuda. Ini tidak lepas dari kejadian tahun 1993, disaat mana Indonesia sibuk cari-cari simbol satwa dan puspa nasional. Ndak ngerti juga saya siapa yang pertama kali punya ide begini. Karena lambang negara Indonesia itu Garuda maka dicarilah burung yang ada di Indonesia untuk digarudakan dan diusulkan sebagai salah satu calon satwa nasional . Syaratnya untuk bisa digarudakan banyak, harus gagah, harus punya jambul karena Garuda lambang negara itu berjambul, burungnya juga harus hanya ada di Indonesia (endemik Indonesia).
Maka sibuklah orang-orang mencari elang berjambul. Dalam keluarga Accipitridae ada satu marga yang bernama Spizaetus yang hampir semua jenisnya berjambul. Di Indonesia ada dua jenis burung dari marga Spizaetus yang hanya terdapat di Indonesia, Elang sulawesi (Spizaetus lanceolatus) dan Elang jawa (Spizaetus bartelsi). Saya ndak ngerti persis alasannya apa, tetapi pada akhirnya terpilihlah sang Elang jawa sebagai calon satwa nasional. Menang? ya ndak, kalah sama kadal (Komodo) yang akhirnya keluar sebagai simbol satwa nasional, sementara Elang jawa itu "hanya" diberi gelar sebagai simbol satwa langka Indonesia. Dengan segala rasa hormat kepada para herpetologist, salah satu makanan Elang jawa adalah kadal.
Begitulah, mahluk mitos lantas diseret ke dunia nyata. Elang jawa diubah menjadi Garuda, digarudakan, dijadikan simbol. Malangnya penggarudaan ini malah bikin nasib Elang jawa jadi runyam. Elang jawa lantas diburu untuk dikandangi, harganya melonjak drastis di pasar. Kebun binatang besar di Indonesia juga mengejar burung ini untuk masuk dalam koleksi peliharaannya. Teriaknya begini "Mari kita lestarikan Elang jawa", caranya, "... lha ya ditangkap untuk lantas ditangkarkan". Lho, sangat Indonesia sekali kan? Kok bukannya si Elang jawa itu dibiarkan saja di alam, rumahnya (hutan itu) dijaga, diurus dengan baik. Burungnya jangan diganggu. Masak simbol negara dikandangi toh?
Sampeyan apa ada yang tahu kenapa Garuda lambang negara itu nolehnya ke kanan, menatap ke arah Barat? Kepanjangan kalau saya ndobos soal ini juga, tapi itu tampaknya ada hubungannya dengan Hanuman. Cari sendiri ya?
tjok udiana October 27, 2007 12:37 AM PDT bagi saya Garuda merupakan simbul kebijaksanaan. saya sedang meneliti tentang garuda ini. garuda ini memang unik dan mesti kita pahami lebih mendalam apalagi dalam ilmu kajian budaya. nah sekarang saya sedang meneliti tentang garuda dalam culture studies. khususnya di Bali garuda sangatl dihormati. nah bangsa indonesia sangatlah tepat memilih garuda sebagai lambang nasional untuk menyatukan nusantara.
Namaq adalah rhs May 1, 2007 09:14 PM PDT Kalo Garuda hadep kanan terus, apa kepalanya g pegel!!! Hehehe!
No Name May 1, 2007 09:09 PM PDT luchu banget
Name December 20, 2006 03:01 PM PST gue tau kang, kenapa garuda menoleh ke kanan. karena garuda sudah putus hubungan dengan nyamuk, huh!!! (",) Untung Garuda Indonesia kagak berubah namanya jadi Suparna Indonesia ya. Kesannya private jet company gitu hehehe. Tau gak kenapa lambang indonesia burung garuda? karena kita merdeka tanggal 17-8-45. 17 jumlah bulu sayap, delapan jumlah bulu ekor, 45 jumlah bulu leher. kalo kita merdeka 4 januari lambang kita capung...
Naring November 27, 2006 06:37 PM PST oooo ternyata begitu to ceritanya....terkadang mitos atau simbol maksudnya baik, tapi interpretasinya masing-masing kepala berbeda apalagi cerita sejarah yang dari mulut ke mulut....
trie June 27, 2006 07:24 PM PDT soal garuda yg noleh kanan itu mas, aku mau didongengi aja deh..emoh nyari ndiri, hehehe
ely June 27, 2006 06:59 PM PDT neng kene iseh akeh manuk om, termasuk manuk elang niku.
sampeyan niku kok nggih kados tiyang mlintir2 liyane, kathah ide nulis, bravo om mbilung!
fitri June 27, 2006 06:38 PM PDT ayo pakde, cerita hanuman dan noleh kanannya pakde. *penasaran*
sing nduwe jaran June 27, 2006 02:36 PM PDT soale ngetan ne ono jaran nyengir...
heheheh garing abies :P
mpokb June 27, 2006 01:18 PM PDT emang lebih cocok komodo kayaknya yak.. nanti kalo elang jawa menang, bisa banyak yg protes.. politis kali yak.. hehe *sok tau*
atta June 27, 2006 01:18 PM PDT saya ini orang penting, sibuk, jadi mana sempat riset2 soal hubungan hanuman dengan garuda yg nengok ke barat. ndak punya wektu *halah*
wis lah njenengan mawon. nek moco tok kan penak. hihihihiihi
Mariskova June 27, 2006 12:30 AM PDT Aaaaaaaahh... jadi si Garuda itu Om-nya Jatayu toh.
Lah itu Pak De yang bikin saya keder. Setau saya si Garuda itu kan cerita wayang. Setidaknya begitulah keadaannya waktu bapak saya dulu meriwayatkan pada saya saat saya masih kecil. Loh kok tiba-tiba pas saya gede, ada burungnya beneran?! Ternyata begitu lah ceritanya. Makasih banyak atas pencerahannya Pak De.
Tapi, nganu, si Hanuman itu knapa toh? Sekaligus aja ndobosnya. Lanjut gitu loh :)