Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Saturday, March 25, 2006
Gundala Kehilangan Setrum

Laptop yang saya pakai sekarang bisa digolongkan sebagai collector items, selain karena faktor usia dan rupa, juga karena faktor ketahanannya yang rada-rada nggak umum. Sudah dua kali laptop ini disamber geledek, tetapi sampai sekarang masih tetap jaya. Karena itu dia lantas saya beri nama Gundala -- sang putera petir. Tadinya ingin dinamai Ki Ageng Selo, tapi kok ya malah takut kualat, atau laptop saya bisa-bisa dikira jimat, maka Gundala lah namanya sampai sekarang.

Kemarin sore, lampu indikator setrum Gundala tiba-tiba mati. Setelah diselidiki dengan seksama ternyata adaptornya tak mengalirkan setrum. Lha ... bagaimana Gundala bisa bekerja tanpa setrum? Dengan bantuan teman, beberapa toko elektronik yang katanya menjadi penjual merk laptop saya ini berhasil dihubungi. Tak ada satu tokopun yang menjual adaptor bagi Gundala. Mak jang, Gundala bisa semaput permanen kalau begini caranya.

Dengan berbekal catatan spesifikasi adaptor Gundala tersebut saya lantas berlari-lari menuju kawasan elektronika. Tak satupun yang menjual adaptor bagi Gundalaku sayang Gundalaku malang. Mati gaya? Belum!!! Saya lantas membeli sebuah adaptor untuk laptop bermerk lain yang tampaknya cocok untuk Gundala.

Setibanya di sisi Gundala yang sudah megap-megap karena sakaw setrum, adaptor baru tersebut saya pasangkan. Diamput .... gak bisa. Gundala masih megap-megap. Maka cara "kekerasan" pun dilakukan. Konektor adaptor ke laptop saya gunting dan lantas saya sambungkan dengan konektor lama. Coba lagi. Berhasiiiiiiiiiiiiiiiiil, Gundala bugar kembali.

Teman kerja saya geleng-geleng sambil berkata "Kenapa tidak kamu ganti saja laptop itu?" Gundulmu !!! -- dia memang gundul kok. Gundala adalah salah satu benda yang sudah menyertai banyak perjalanan saya ke mana-mana. Hutan, rawa, gunung, pantai dan banyak kota.

Apa sampeyan juga punya barang yang selalu setia menemani kemana sampeyan pergi? Nempel terus, selalu bersama ... ibarat koreng dan laler.


Posted at 10:02 am by Sir Mbilung

Rita
April 1, 2006   05:44 PM PST
 
wahaha
ada sih seperti hape saya, sampe ke WC pun saya bawa2...
tp engga diibaratkan seperti koreng dan laler..kesannya jorok bgt huehehe..
bagai perangko dan amplop saja..nempeeeell terus:D
fortuna
March 29, 2006   05:27 AM PST
 
Sentimentil juga ternyata... :) Sampe dikasih nama pula. Mungkin saya juga harus melakukan yang sama ya untuk computer saya... Biar lebih ada emotional connection.
WINKY! Ya, itu namanya... Why??? Karena screen-nya suka kaya mata kalo lagi kedip2... ilang2 gambarnya... *wink wink* jadi Winky... Gimana? Bagus nggak? :)
Cepot
March 26, 2006   11:36 PM PST
 
Wah, Kangmas ini salah, kalau cuma si Gundala dibelikan adaptor baru..... Seharusnya solusi yang psling pas, ya pakai LEMBIRU (Lempar dan Beli yang Baru)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry