Gundala Kehilangan Setrum
Laptop yang saya pakai sekarang bisa digolongkan sebagai collector items, selain karena faktor usia dan rupa, juga karena faktor ketahanannya yang rada-rada nggak umum. Sudah dua kali laptop ini disamber geledek, tetapi sampai sekarang masih tetap jaya. Karena itu dia lantas saya beri nama Gundala -- sang putera petir. Tadinya ingin dinamai Ki Ageng Selo, tapi kok ya malah takut kualat, atau laptop saya bisa-bisa dikira jimat, maka Gundala lah namanya sampai sekarang.
Kemarin sore, lampu indikator setrum Gundala tiba-tiba mati. Setelah diselidiki dengan seksama ternyata adaptornya tak mengalirkan setrum. Lha ... bagaimana Gundala bisa bekerja tanpa setrum? Dengan bantuan teman, beberapa toko elektronik yang katanya menjadi penjual merk laptop saya ini berhasil dihubungi. Tak ada satu tokopun yang menjual adaptor bagi Gundala. Mak jang, Gundala bisa semaput permanen kalau begini caranya.
Dengan berbekal catatan spesifikasi adaptor Gundala tersebut saya lantas berlari-lari menuju kawasan elektronika. Tak satupun yang menjual adaptor bagi Gundalaku sayang Gundalaku malang. Mati gaya? Belum!!! Saya lantas membeli sebuah adaptor untuk laptop bermerk lain yang tampaknya cocok untuk Gundala.
Setibanya di sisi Gundala yang sudah megap-megap karena sakaw setrum, adaptor baru tersebut saya pasangkan. Diamput .... gak bisa. Gundala masih megap-megap. Maka cara "kekerasan" pun dilakukan. Konektor adaptor ke laptop saya gunting dan lantas saya sambungkan dengan konektor lama. Coba lagi. Berhasiiiiiiiiiiiiiiiiil, Gundala bugar kembali.
Teman kerja saya geleng-geleng sambil berkata "Kenapa tidak kamu ganti saja laptop itu?" Gundulmu !!! -- dia memang gundul kok. Gundala adalah salah satu benda yang sudah menyertai banyak perjalanan saya ke mana-mana. Hutan, rawa, gunung, pantai dan banyak kota.
Apa sampeyan juga punya barang yang selalu setia menemani kemana sampeyan pergi? Nempel terus, selalu bersama ... ibarat koreng dan laler.