Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< July 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Saturday, July 01, 2006
PSK Oxymoron

MMembaca tulisan di blog tetangga saya jadi gatel. Lha mengaku sebagai oxymoron je, padahal .... lihat sajalah kesimpulan ndobos saya kali ini. Gatel bikin saya kok jadi ingin ndobos soal di luar burung, wayang dan bintang-bintang. Lagipula sudah agak lama saya ndak nulis spontan tanpa "penelitian" model begini. Saya mau ndobos soal skripsi, disertasi, final paper, thesis atau tugas akhir ... terserah sampeyan nama mana yang mau dipakai, toh buat saya ndak ada bedanya, semuanya sama artinya dengan "pengucilan diri sambil kemrungsung" yang disingkat PSK.

PSK saya yang pertama itu adalah hasil klayapan di hutan selama dua tahun yang isinya (kalau bisa dibilang begitu) adalah cerita soal kenapa hewan ini begitu dan begini, ndak penting. PSK itu saya tulis dengan bantuan komputer berotak Intel 8086 dan disimpan dalam media yang untuk jaman sekarang lebih pas untuk dijadikan tatakan piring. Seperti lazimnya sebuah PSK, harus dapat ijin layak jilid dari para tokoh yang berpangkat dosen pembimbing yang kadang gelarnya lebih panjang dari namanya. Kok ya tega-teganya itu nama yang dijepit gelar-gelar begitu harus ikut ditulis, apa ndak narsis itu namanya?

Persoalan untuk mendapatkan ijin layak jilid itulah yang kadang mengundang rasa jengkel ... bukan ... bukan jengkel sepeda, ini jengkel beneran tanpa plesetan. Hasil begadangan yang tersusun rapih dalam puluhan lembar kertas itu dengan teganya lantas dirubah menjadi topeng badut, penuh coretan bertinta merah dan tulisan tangan tidak layak baca disemua halaman. Tulisan ini harus diperbaiki, begitu pesannya. Celakanya, kejadian begini tidak hanya terjadi sekali, bisa berkali-kali dan mahluk dosen pembimbing itu jumlahnya lebih dari satu. Entah sudah berapa rim kertas habis hanya untuk mendapatkan stempel layak jilid.

Kalau begini terus, PSK saya kan bisa-bisa isinya bukan lagi pikiran saya tapi pikirannya para dosen pembimbing yang tidak ikutan blusukan di hutan dua tahun. Sampeyan pernah mengalami kejadian begini? ada kiat jitu untuk mengatasi hasrat mencoret berlebih dari dosen-dosen itu. Lho ... tukang ndobos kok dilawan. Begini, biarkan tulisan sampeyan itu diacak-acak, biarkan saja, terima saja. Kemudian, menghilanglah barang seminggu, jangan temui oknum gila nyoret itu. Lha ... seminggu kemudian, temui lagi dia dengan tulisan yang sama persis sambil berkata "ini Pak/Bu hasil yang kemarin itu". Logikanya sederhana saja, para dosen itu merasa tulisan baru layak jilid kalau sudah dicoreti, dikomentari sebanyak tiga atau empat kali. Works for me.

PSK saya yang kedua mengakalinya tidak semudah PSK pertama. Jaman sudah berubah, tulisan tidak perlu dicetak rapih dan diserahkan dengan cara tatap muka dengan para dosen pembimbing. Tulisan diserahkan dalam bentuk surat elektronik atau email. Hemat kertas, hemat tenaga. Hanya saja, para dosen itu sekarang punya salinan tulisan sampeyan terdahulu. Tidak ada akal-akalan di sini, yang diuji adalah tingkat percaya diri.

Untungnya saya, para dosen pembimbing di sekolah saya ini, bukanlah modelnya dosen kemlinthi, yang ndak boleh didebat dan diajak berkelahi. Kalau coretannya ndak penting-penting amat, dosennya saya datangi, saya nyerocos ... "Pak, sampeyan itu dosen pembimbing bukan editor". Kalau coretannya mengarah ke perubahan isi, saya nyerocos ... "ini PSK saya bukan PSK sampeyan, apa sampeyan sudah baca ini ini ini ini ini ini itu itu itu itu itu itu. Kalau dirubah seperti ini maka jadinya akan begini begini begini dan saya tidak sepaham dengan jalan pikiran begitu" (catatan: nyerocosnya harus dengan sesedikit mungkin menarik napas, jaga nada suara untuk tetap rendah, tatap matanya, dan jangan lupa tangan harus bergaya seperti tangannya SBY). Selesai. Works for me.

Lha ... ada juga dosen yang gila statistik, gila rumus dan gila angka. Ada juga yang maunya PSK itu harus tebal, penuh gambar, grafik, angka, rumus ... pokoknya harus "kelihatan pintar" dan mbingungi. Lho ... pintar kok disamakan dengan mbingungi, ini yang kayaknya pantes disebut oxymoron, yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan lantas disingkat jadinya pinpinbo itu.

Oh iya ... PSK saya pertama 50 halaman termasuk cover, yang kedua 24 halaman. Kalau PSK sampeyan seberapa montoknya?


Posted at 04:01 pm by Sir Mbilung

Boe
July 5, 2006   01:20 AM PDT
 
huahahaha.... PSK saya dua-dua nya oxymoron Pakdhe! Dua-duanya di atas 50 halaman. Yang pertama malah semua output statistik nya saya jilidkan sekalian, abis diminta!
Intinya? Sebenernya ya cuma yang ketulis di abstrak itu.
Works for me...
:)
Lita
July 3, 2006   12:35 AM PDT
 
Bentar, saya bingung.
Pakdhe ini sebenernya di jepang ato di UK sih?
*mode gak nyambung*
atta
July 2, 2006   05:50 PM PDT
 
PSK saya baru satu. semiotika film. rasanya mau bunuhdiri aja kalo inget pembimbing skripsi, sekarang anggota KPU, yg sok gaya2 perancis -karena baru fresh pulang dari sana-. untung rampung.

doakan mudah2an ada PSK berikut ya. hihihihi
mariskova
July 1, 2006   04:20 PM PDT
 
hahahahahahahaaaaaaaa.....
a Revised Thesis itu yang oxymoron yah! Katanya disuruh nesis yang buatan sendiri, gak boleh copy paste, harus jungkir balik nungging jumpalitan sendiri, loh kok 'revisinya' lebih banyak dari tesis aslinya?
Apalagi dosennya model I tell you so, so you do what I tell you gituuuh.
...aaaaaaaarrrrrgggggggg.....
Gaya SBY juga gak mempan je. Si Papap itu apa kurang SBY toh?
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry