Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Tidak sebagaimana manusia, lumba-lumba dan chimpanzee, burung tidak mengenal istilah "sex for pleasure", buat burung dan kebanyakan binatang lainnya, sex itu ya hanya untuk menghasilkan keturunan, procreative sex begitu istilahnya. Sperma dilepas, sel telur menanti, ketemu, keluarnya anak atau telur. Lha, karena akibat yang ditimbulkan dari acara bikin anak ini bakal berbuntut panjang, hewan-hewan itu lantas "mengatur diri" kapan ritual tersebut dilaksanakan. Untuk hewan yang tinggal di negara bermusim empat, itung-itungannya mesti pas.
Lha ini mau ndobos soal apa to? Saya ini mau ndobos soal birahi burung layang-layang agar hutang saya ke Ibu ini terlunasi. Kata birahi sendiri sepertinya berasal dari kata dalam Bahasa Sansekerta yang artinya kurang lebih cinta yang sangat dalam, menggebu-gebu, secara sungguh-sungguh. Pokoknya kalau sedang birahi gambarannya seperti dunia milik berdua, berjuta rasanya yang kalau diampet bisa berkeping-keping.
Soal birahi burung layang-layang, atau saya sebut saja Layang-layang api (Hirundo rustica) ceritanya begini. Burung yang satu ini sebenarnya adalah burung yang hidup di belahan bumi Utara. Pada saat musim gugur hampir berakhir, berbondong-bondong mereka terbang ke Selatan sejauh belasan ribu kilometer, liburan musim dingin. Pada awal musim semi, mereka kembali lagi kerumahnya untuk membuat sarang, kawin, mengerami telur, membesarkan anaknya dan siap-siap lagi untuk terbang ke Selatan. Rutin itu. Masa birahi burung ini ya singkat-singkat saja, pas mau kawin itu. Ndak seperti manusia yang bisa birahi nyaris sepanjang waktu.
Burung-burung itu membutuhkan pemicu untuk bisa kawin, ya birahi itu. Saat mana hormon-hormon tertentu dalam tubuhnya mulai menggelegak. Burung jantan lantas dandan pol-polan (dalam dunia burung, jantan adalah pesolek), agar tampak menarik dan beberapa jenis bahkan mulai menari-nari untuk menarik betina. Sementara hormon sang betina mulai siap-siap mematangkan telur agar siap pijah dan sang betina juga mulai memilih-milih jantan mana yang layak membuahi telurnya. Kilau bulu, kekokohan badan atau kelincahan menari bisa mengundang birahi betina.
Pada layang-layang api, percumbuan dilakukan di udara dengan saling mengejar, kadang-kadang mereka hinggap dan saling menyentuhkan kepalanya ke badan pasangannya. Burung betina biasanya lebih cenderung memilih jantan berekor panjang. Acara puncaknya sendiri berlangsung di udara, sambil terbang. Begitu selesai, keduanya lantas membangun sarang dari gumpalan lumpur, rerumputan, bulu dan barang-barang empuk nan lembut lainnya. Ada 4 sampai 5 telur dalam satu sarang, yang setelah menetas kedua induknya merawat anak-anak itu bersama-sama. Pas disaat anak sudah mahir terbang, pas musim boyongan itu datang lagi. Berbondong-bondong pindahlah mereka. Pada saat harus kembali ke Utara, kadang ada beberapa layang-layang muda yang memilih tetap tinggal di pengungsian, toh mereka juga belum bisa kawin. Burung ketinggalan ini pernah difoto oleh Pak De Kere Kemplu di sini.
Urusan birahi bagi layang-layang memang harus diatur ketat karena ini menyangkut perut. Terlalu awal kawinnya, pas si anak menetas, makanan belum ada. Telat, makanan sudah habis. Maka bagi layang-layang yang namanya birahi tak terkendali itu bisa bikin celaka. Birahi harus tapi jangan kecepetan, telat atau terlalu lama, bisa-bisa ndak makan itu anak-anak.
Manusia memang bukan burung, tingkahnya macem-macem untuk urusan birahi begini. Makanya jamu seperti jamu sari rapet begitu jadi laris manis. Kalau untuk laki-laki apa ya namanya? Jamu jebol tembok?
Jadi begitulah urusan birahi ini saya tutup. Untuk Mbak Fitri, birahinya sudah saya penuhi lho ya. Lunas.
kere kemplu July 10, 2006 04:01 AM PDT oooo birahi manuk tol, to?
anang July 5, 2006 04:26 PM PDT Kalo manusia mau enaknya tak mau anaknya....yo ora, ojo do ditiru to...
johan July 3, 2006 08:10 PM PDT mungkin memang orang juga mesti belajar sama burung .... jangan asal bikin anak ... eh nantinya malah bingung ngasih makannya
sakno burung layang2nya, birahi aja diatur ketat...... lha nek kebelet piye?
mpokb July 3, 2006 01:04 PM PDT jamu jebol tembok? :D
baru baca tadi pagi, bahwa beruk jantan memikat betina dengan..hidungnya!
Fitri July 3, 2006 12:03 PM PDT ahahaha, pakde, ada yang geleng-geleng kepala tuh saya minta yang birahi :D
wah, jadi burung itu asyik juga ya. mau kawin ada matematika musimnya. saya baru tahu kalau burung jantanlah yang suka bersolek ria. burung metroseksual dong pakde. pake mani pedi, bedakan, jerawat dikit aja pake accutane. nggak nunggu jadi severe dulu. hahaha.
makasih ya pakde atas penuntasan birahinya. he he he :D
nananias July 3, 2006 08:14 AM PDT <b>Maka bagi layang-layang yang namanya birahi tak terkendali itu bisa bikin celaka.</b> buat manusia juga to pakdhe?
Mbilung July 3, 2006 05:18 AM PDT Suwun Mbak Lita, sudah saya ganti S-nya. Ini yang namanya ndobos tidak teliti :D
mariskova July 3, 2006 02:00 AM PDT *geleng-geleng kepala*
Fitri, Fitriii... Sudah cukup ngomongin burung, eh pake minta burung birahi segala... ck ck ck...
Lita July 3, 2006 12:31 AM PDT Sidak? inspeksi mendadak po piye?
Tidak, kali ye?