Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Kali ini saya mau nggrundel, misuh-misuh, tetapi tidak disertai dengan benci-benci dan kutuk-kutuk. Belakangan ini saya ada membaca beberapa blog (bisa juga cring) dan email yang menceritakan tentang kesusahan mereka mendapatkan visa untuk berkunjung ke beberapa negara tertentu. Waaah, mau melancong. Mungkin sedang musim libur dan rejeki sedang bagus sehingga bisa bertetirah ke negara manca.
Sama halnya dengan penduduk dunia lainnya yang dianggap "kelas kambing", warganegara Indonesia itu kalau hendak bepergian ke luar negeri ya harus berbekal visa (kecuali untuk segelintir negara tertentu atau jenis passport tertentu), ndak peduli seberapa banyak duitnya dan seberapa tinggi jabatannya. Mau berangkatnya itu nyeker, nyendal jepit, mbakiak atau pakai sepatu Christian Louboutin, pokoknya visa.
Lha, soal visa ini saya punya cerita yang sengak pol. Begini kisahnya. Pada jaman dahulu kala saya ada menerima sebuah undangan untuk berkunjung ke negara Belanda, yang ngundang departemen luar negerinya negara itu juga. Karena pada saat itu saya sedang berada di Inggris, maka sayapun dipetuahi untuk meminta visa di kedutaan besar negara kecil ini di London. Seorang kawan menyarankan agar saya datang ke kedutaan itu jam 5 pagi. Heeeeee ... jam 5 pagi? musim dingin pula. Tetapi baiklah.
Jam lima pagi lebih sedikit tibalah saya di tempat itu, terbungkus rapat seperti lontong jalan, lha wong dingin kok mana pake hujan rintik-rintik lagi. Jaran mendem, itu yang ngantri kok sudah panjang? Lho malah ada yang kayaknya nginep juga di situ. Maka ikut ngantrilah saya di pinggir jalan di luar pagar kedutaan negara mekitik ini. Makin lama antrian ya makin panjang, ada malah seorang Ibu dengan dua anak kecil, yang satu di kereta bayi dan satunya digendong ... melihat mereka itu saya kok merasa bahwa nasib saya jauh lebih bagus.
Pukul delapan pagi, pintu gerbang dibuka dan ada satu orang yang keluar. Wuiiih jan londo tenan, asli iki, badannya besar, kekar, perutnya mumbul-mumbul, ndak senyum, mripate galak, wah mestinya Pak Duta Besar ini ... ooo bukan ternyata, itu petugas bagi-bagi formulir. Pukul setengah sembilan, ndoro londo tadi keluar lagi, weee kali ini bagi-bagi nomer. Saya dapet!! tetapi kok banyak yang nggak dapet ya? termasuk Ibu dan dua anak tadi. Lantas sang ndoro londo njeplak dengan lantang "yang dapet nomer tunggu di luar sini sampai diminta masuk, yang ndak dapet nomer boleh pulang". Oooh begitu .... He??? Lha si mbok yang beranak dua tadi mosok disuruh pulang? setelah 3 jam lebih ngantri di hujan dan dingin!!!
Lha mestinya londo itu rak pinter dan paham soal-soal kemanusiaan to? ah tak ajak ngomong saja "ndoro tuan ... ndoro tuan ... Ibu itu dan anaknya sudah ngantri lama sekali, bisa ya dia ikut masuk". Lha dijawab "he kowe apa tidak tahu aturan, yang tidak dapat nomer tidak boleh masuk, jumlah peminta-minta visa setiap hari dibatasi". Hati saya yang biasanya anyep sejuk itu mulai panas "bagaimana kalau nomer saya ini saya berikan ke Ibu itu saja ndoro tuan", lha malah mendelik "tidak bisa, kowe kalau tidak mau pakai nomer itu terserah, kowe boleh pulang saja". Waaah jan londo asu, kirik, segawon (sekarang saya mendidih beneran), saya mendelik balik. Londo satu ini enaknya diantemi saja apa ya ... tapi ya saya ndak berani, lha wong kekeran dia je, kalau saya ditempiling balik bisa mlintir kayak kitiran sayanya, belum nanti nomer saya diambil lagi, padahal sudah ngantri lama, rugi dua kali, nomer ilang muka ganteng saya remuk. Begitulah, singkat cerita, saya akhirnya dapat visa (diposkan seminggu kemudian).
Beberapa masa kemudian ada saya dengar kalau pemerintah Indonesia memberlakukan perubahan kebijakan soal visa. Tadinya banyak negara yang warganya bisa blas-blus masuk Indonesia. Tidak begitu lagi. Kalau negaranya tidak mem-blas-blus kan warga Indonesia, mereka juga tidak bisa blas-blus ke Indonesia. Lantas diberlakukanlah visa on arrival, bisa diperoleh di beberapa bandara dan pelabuhan laut tertentu, mbayar. Hanya saja warga Belanda tidak bisa dapat visa on arrival, mereka harus ngantri di kedutaan atau konsulat Indonesia di negara di mana mereka berada kalau mau berkunjung ke Indonesia. Lha ini yang bikin saya sangat bersedih hati.
Kenapa? kenapa mereka dibuat susah untuk masuk ke negara saya? mbales? reciprocal visa policy? an eye for an eye? Kenapa? Kenapa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah berbudi luhur berbudaya tinggi harus menurunkan derajatnya serendah bangsa Belanda itu? Apa iya semua orang Belanda itu kelakuannya sama dengan ndoro tuan tukang bagi-bagi formulir dan nomer itu? Mbok mari kita sambut dengan senyum kedatangan orang-orang itu ke negara kita. Takut ada yang menyalahgunakan kemudahan? Lha ya kalau ada yang ngawur tinggal ditangkep lantas disuruh pulang, tapi ndak usah pake dikeplaki segala lho ya.
Kata eyang Mahatma Gandhi "An eye for an eye makes the whole world blind", nyulek mata dibales nyulek mata sak dunia picek kabeh. Tapi ya memang harus begitu mungkin ya, lantas prinsipnya jadi "kalau bisa dibikin susah, kenapa harus dibikin gampang?"
Tambahan: Sekarang ini jika hendak aplikasi visa ke Belanda di London harus pakai janjian dulu, lewat telepon yang pulsanya £ 1 per menit! Ndak tau kalau di Indonesia prosedurnya bagaimana.
ambar July 10, 2006 03:17 PM PDT Kulo nderek sengak pakdhe. Lha visa ngantri lima jam disuruh balik, musim dingin lagi. Wes wong londo ra duwe duga..
sing nduwe jaran July 5, 2006 08:04 PM PDT aduuuuhhhh kok motoku melok keculek kie...:p
meneer...jaran saya ndak ada nyang mendhem lho meneer...:D
enak dadi manuk ra usah pusing perkoro visa tur ra picek hehehehe
Moes Jum July 4, 2006 10:54 PM PDT sebagei orang yang lumayan sering sengsoro neng negara orang lain, kurasa mending aturan reciprocal itu yang digunaken Kang! Enak banget Londo didong iso blas blus ke Indonesah ... tapi kita gak gampang. Belum lagi urusan dituding negorone teroris.
-uTHe- July 4, 2006 08:17 PM PDT di kedutaan disana ada pagar berduri gak, pakdhe??
atw pagar beton yang biasa jadi pembatas jalan tol??
disini lagi trendy lhooo... (^-^)
Rara July 4, 2006 07:30 PM PDT Pancen kuakehan aturan sing ora2 tu bikin gemes..
An eye for an eye.. puedes mataku saiki.. :P
ely July 4, 2006 04:20 PM PDT Baru tau aku om, kalo mo dapet visa ke belanda begitu sulitnya, nganti direwangi misuh2.
Kalo menurut pengalamanku disini, petugas2 kantor di jerman ramah2 om, helpful, ndak galak2 gitu, masih menjunjung tinggi perikemanusiaan.
kutu July 4, 2006 03:34 PM PDT yg diceritakan sama sigit susanto di bukunya, malah sampe kemping di depan kedutaan jerman yg di swiss sana, om :)
selain itu.. no comment. wong belum pernah ke luar negeri je. hehehe.
mariskova July 4, 2006 03:00 AM PDT Semakin susah ngasih visa, semakin bergengsi (perasaan) si negara kali....
Apply visa di kedut jepun itu paling manusiawi walopun emak-emak penjaga loket teteup gak ada senyum juga ;(