Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Liburan ... akhirnya dalam waktu kurang dari 48 jam lagi saya memasuki masa itu, dan dalam waktu kurang dari 72 jam lagi sudah kruntelan sama anak-anak dan istri (bukan istri-istri) lagi. Lha, sekalian memenuhi permintaan Mas Yudhi (lagi-lagi) saya mau ndobos soal liburan-liburan yang telah lalu.
Begini Mas Yudhi, saya itu ndak plesiran di luar negri, saya itu plesiran kalau di Indonesia. Bisa macem-macem acara liburan saya, bisa cuma leyeh-leyeh di rumah, kumpul dengan teman-teman, atau jalan-jalan kadang hanya bersama keluarga tetapi sering juga bersama keluarga teman-teman. Jalan-jalan yang paling saya suka itu ke luar dari kota besar, bisa ke pantai, hutan atau gunung. Salah satu liburan yang paling berkesan itu waktu liburan ke Way Kambas.
Kalau ke Way Kambas, saya nyaris tidak pernah berkunjung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) yang ramai turis itu. Tujuan saya cuma satu, blusukan di hutan Way Kanan, salah satu lokasi di dalam Taman Nasional Way Kambas. Maklum, lha wong saya dulu pernah lama di tempat ini. Banyak dari para petugas penjaga Taman Nasional ini sudah seperti keluarga sendiri. Anak-anak saya juga suenengnya pol kalau dibawa ke tempat ini. Si Mas yang sudah bisa ndayung dan si Adik yang hobinya memancing ikan (dan memancing keributan) ujug-ujug bisa rukun dan tenang di Sungai Way Kanan. Para petugas itu tidak saja sibuk mencarikan umpan buat si Adik memancing, kadang malah "menyupiri" speedboat untuk mengantarkan si Adik memancing di Kali Biru ... benar-benar serasa baginda raja anak itu di sana.
Kalau ikan sudah didapat, si Adik langsung berlari-lari ke para petugas itu sambil teriak-teriak "Om Apri ... Om Gimin ... Om Dedi ini buat makan siangnya sudah dapat" dan lantas dia sibuk ikut "membantu" acara bersih-bersih dan masak-masak ikan itu. Sementara si Mas, dengan basah kuyup sehabis berenang di sungai dengan santainya berujar "makan apa kita Om?" Si Adik yang biasanya susahnya luar biasa kalau disuruh makan, tiba-tiba jadi lahap sekali makannya.
Menginap di tengah hutan, malam-malam bisa melihat bintang sambil nyeruput kopi dan bertukar cerita tentang kebakaran hutan dan bagaimana mereka harus selalu siap berangkat memadamkan api. Cerita tentang patroli keliling hutan terakhir yang tanpa bekal itu, dikejar gajah liar, cerita Apri tentang hasil camera-trap penelitian harimaunya, kelucuan-kelucuan pada saat mengantar para turis yang hendak melihat burung di Way Kanan atau cerita betapa mbelingnya mahluk bernama Jumadi yang sekarang ikut-ikutan bikin blog itu.
Apri itu jempolan kalau soal burung, ngaku kalah saya sama dia. Bahasa Inggrisnya juga cas cis cus, ndak heran kalau dia lantas jadi rebutan para peneliti untuk dijadikan asisten, walaupun menurut saya dia pantes jadi kepala peneliti. Sementara Dedi, anak Banten-Jawa yang pada saat saya penelitian di tempat ini masih jadi "anak bawang" tukang bersih-bersih kapal, sekarang sudah piawai ngomong dan praktek soal radio-tracking (memetakan pergerakan hewan dengan radio telemetri).
Pulang dari Way Kambas, acara pamitan bisa menghabiskan waktu setengah hari sendiri. Itu acara pamitan sama lebaran ndak ada bedanya, tiap masuk rumah mesti harus duduk dulu, disuguhi segala macem dan HARUS bawa pulang oleh-oleh dari yang dipamiti. Mobil saya itu selalu penuh pemberian yang tak bisa ditolak. Pisang bertandan-tandan, kelapa, kripik pisang, kopi, jambu, kueh dan mbuh apa lagi. Pokoknya persis seperti perampok baru pulang menjarah hasil bumi kampung.
Ya begitu itu, kalau sudah ke sana jadi males pulang. Mobil penuh hasil jarahan, si Mas tidur nyenyak di kasur dan si Adik masih sesenggukan nangis ndak mau pulang. Way Kambas ... bukan hanya berlibur, tapi juga mengunjungi saudara. Dunia masih disesaki oleh banyak orang baik.
Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Fitri July 6, 2006 02:06 AM PDT enak sekali bisa mbladas mbludus ke way kanan, udah ada "pemandu" ahlinya pula yang menemani. mudah-mudahan suatu saat nanti bisa mengalami hal yang sama dengan si Mas dan si Adik. :D
atta July 5, 2006 08:29 PM PDT jadi inget pas dayung2 di gili sulat
anu, mbok bibi atta ini ini sekali2 juga diaja ke sana. hihihih. ke way kambas. atau kapan2 dikenalkan ya, jd bisa ke sana juga. berjumpa dengan keluarga njenengan :)
bang pi'i July 5, 2006 08:02 PM PDT weh... welkam paklik... kusambut dengan sumpek ning ngangeninnya bangsamu ini... monggo2...
doain aku cepet pulih ya... absen ngeblog dulu... malaria can kill me, kata dokter...
Eny July 5, 2006 07:51 PM PDT pakdheeee.....huaaa nderek huaaa...akyu sirik sama mas adri n mas ghilman...huaaaaa ndereek
met liburan ya pakdhe...selamat pulang dan selamat kembali..ditunggu ndobosan made in bogor hehehehe
-uTHe- July 5, 2006 07:36 PM PDT mudiiiikkkk... mudikkkkk...
(^-^)
dinda July 5, 2006 03:27 PM PDT pak.. nanti kalo pulang ke way kanan juga nggak? :P aku kemaren cuma ke way kambas doang. kayaknya seru ya di way kanan itu...
esge July 5, 2006 11:14 AM PDT aku paling berkesan pas ke gili trawangan lombok..enak tenan..
istri maen kesana om?
mbok crito wisata ke negara2 yang dikunjungi!
siberia July 5, 2006 09:41 AM PDT hehehe...jadi ingat ama cerita kawan, waktu penelitian di sekitar hutan di lampung, sempat di kejar2 gajah :D
met berlibur Mas Mbilung...
nananias July 5, 2006 01:58 AM PDT waduh dadhos pengen nderek je. :D