Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Liburan kali ini, selain diisi dengan acara wajib sowan, tentunya juga diisi dengan bertetirah ke beberapa tempat pengundang gembira kesukaan saya. Salah satunya adalah Pantai Ciputih di Ujung Kulon, Banten. Saya suka tempat ini karena pantainya relatif masih bersih, sehingga tak perlu resah pada saat anak-anak sedang berenang-renang atau hanya sekedar main air di pantai. Pengunjungnyapun tak ramai, mungkin karena jalan untuk mencapai tempat ini dari Sumur bisa dibilang rusak kalau tidak mau dibilang hancur. Tetapi yang terpenting, di Ciputih saya bisa leyeh-leyeh dan bisa makan ikan yang masih segar-segar, bukannya makan ikan yang disuruh pura-pura segar seperti di beberapa toko swalayan itu.
Bicara soal makan, dalam perjalanan menuju lokasi tetirah, ada sebuah tempat makan yang tak pernah saya lewatkan untuk dihampiri. Rumah Makan Astry (pakai "y") namanya dan berada di Jalan Raya Labuan sekitar 3 km dari kota Labuan. Jenis makanan yang selalu saya uber di rumah makan ini adalah otak-otak yang ukurannya jumbo. Lha bagaimana ndak jumbo, otak-otak yang kalau di kota-kota besar itu hanya bajunya saja yang besar sementara isinya memiliki ukuran yang memalukan, di tempat ini isinya sampai menuh-menuhin bungkusnya. Disajikan selagi hangat beserta bumbu kacang yang boleh minta lagi sesuka hati, sungguh belum ada lawannya. Akan tetapi karena ukurannya yang tidak umum, paling kuat saya hanya bisa menyantap lima bungkus.
Sebagaimana layaknya rumah makan dengan sajian utama hidangan (dari) laut, tersedia pula sajian ikan, udang dan cumi-cumi yang nikmat rasanya disantap dengan nasi ngebul-ngebul yang dimasak dengan dandang berteknologi lama. Sebagai pelengkap juga tersedia minuman bersebutan "joice" (pakai "o") jeruk, alpukat, melon dan tomat yang kalau mau dicampur-campur juga boleh .... sueger pol itu mestinya, cuma saya kok ya belum pernah pesan. Biasanya saya cuma pesan joice teh anget manis saja.
Lha masalahnya sekarang, Ciputih sendiri itu masih dua jam lebih dari tempat makan sedap ini. Sementara saya itu persis ular, kalau perut penuh lantas ngantuk, untungnya kali ini teman saya yang menyupiri sehingga saya bisa lier-lier tidur-tidur ayam. Akan tetapi, kenikmatan tidur-tidur ayam begini tak akan bisa dinikmati begitu lepas dari Sumur menuju tempat menginap yang jaraknya 7 km itu. Jalan yang hanya berupa jalan tanah bertabur kerikil itu wajahnya sudah ndak karu-karuan, dan dimusim hujan pasti lebih mirip sungai daripada jalan mobil. Jangan berharap banyak jika sampeyan mau mengunjungi tempat ini dengan menggunakan kendaraan sedan atau kendaraan roda empat lain yang berlantai rendah. Bisa-bisa mobil sampeyan malah nyangkut dan berjungkat-jungkit seperti timbangan daging.
Lokasi tempat menginap yang menjadi tujuan itu letaknya persisi di bibir pantai berpasir putih. Dari teras tempat menginap deru ombak bisa didengar dengan jelas, ditambah dengan hembusan angin pantai berbau garam lengkaplah sudah suasana pantainya. Panas? ya tidak juga, karena tempat ini banyak ditumbuhi pohon-pohon yang sudah besar berdaun rimbun. Berenanglah sepuasnya, karena ombak di pantai ini juga ramah. Airnya jernih, ndak nggilani seperti air di Pantai Ancol itu. Selesai berenang, jangan lupa membersihkan badan dengan air tawar, kecuali kalau sampeyan berminat merubah diri jadi ikan asin.
Suasana malam hari lebih yahud lagi, terutama pada saat langit tak berawan. Bintang-bintang, sampe sampeyan keringetan ngitungnya ndak bakal habis itu bintang dihitungi semua. Piringan galaksi Bima Sakti juga jelas terang terlihat, putih seperti tumpahan susu. Sesekali bisa dilihat seleretan meteorit, "bintang jatuh".
Lebih nikmat lagi jika makan malam dimasak sendiri di pinggir pantai. Bukan hanya soal ini masakan sendiri, tetapi prosesnya yang mbundet dan lama itu bikin perut teriak-teriak ndak sabar dan yang namanya air liur sudah seperti banjir bah. Pol tenan nikmatnya makan ikan bakar, seperti syair lagu Antara Anyer dan Jakarta yang diplintir sedikit ... "deru sang ombak, bergilir ke pantai, disambut alunan, liur melambai".
Posted at 03:22 am by Sir Mbilung
Eny July 19, 2006 05:59 PM PDT duh..bacanya aja dah bikin liur melambai pakde...boleh juga buat referensi kalo ntar mbah tsun udah cuti diluar tanggungan hehehe
Hedi July 19, 2006 12:17 AM PDT nikmatnya bisa berlibur di pantai
zam July 18, 2006 11:31 PM PDT sumpah pakde.. jadi inget pas nginep di parang tritis kemarin dulu itu..
baydewei.. laut sekarang lagi garang, pakde.. tsunami ngamuk..
sedih pakde.. alam mulai marah..
pengen jalan-jalan lagi, pakde..
ke pantai lagi, pakde..
liat bintang jatuh lagi, pakde..
yoyok July 18, 2006 03:04 PM PDT Insya Allah gak kenapa-kenapa
semoga dalam lindungan yang Kuasa
Amiin...
mariskova July 18, 2006 12:40 PM PDT Pak Dhe, gak takut sama tsunami? Lah kok masih maen2 di pantai toh?
Moes Jum July 18, 2006 08:01 AM PDT Kang Mbilung dan keluarga baik2 aja kan? Bukan apa2 nih ... pengen juga menikmati pantei spt sampeyan... tapi itu lho Mbah Tsunami datang lagi! Sekarang gilirane Jawa lho