Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Sampeyan pernah naik gunung? Berapa tinggi gunungnya? Saya sendiri bukan pendaki gunung, kalaupun saya naik gunung lebih sering karena tuntutan kerja, walaupun pernah sekali dua hanya untuk jalan-jalan saja. Jadi berbeda dengan George Mallory yang mendaki gunung because it's there, saya mendaki because I must go up there. Gunung yang saya daki juga ndak tinggi-tinggi amat, semua gunung yang pernah saya daki tingginya tidak ada yang lebih dari 4000 meter, mainnya cuma di kelas 3000-an saja. Kemarin itu saya mendengar berita kalau ada 10 perempuan Indonesia yang akan mendaki gunung yang tinggi-tinggi sekali, yang kalaupun mereka sempat tolah toleh kiri kanan tidak akan bakal lihat pohon cemara. Tolah toleh paling yang dilihat cuma timbunan salju dan es karena mereka berniat mendaki ke puncak gunung tertinggi di dunia ... puncak Everest.
Sepuluh perempuan itu bergabung dalam Ekspedisi Everest Putri Indonesia 2007. Saya menulis soal ini bukan karena mereka itu perempuan, tetapi karena ada dari mereka yang saya kenal dan saya kira dia sudah ndak pene'an lagi. Lha kok ujug-ujug saya lihat namanya ada dalam daftar pendaki. Lantas apa yang salah dengan itu? ya tidak ada yang salah, lha wong namanya gunung, buat pendaki benda itu mestinya selalu memanggil-manggil, apalagi ini Everest yang selalu dikatakan sebagai tujuan idaman semua pendaki gunung. Saya juga ndak akan ndobos soal ekspedisi para putri itu, saya hanya mau ndobos soal gunung yang mau dipanjat mereka itu.
Nama Everest sebenarnya baru diberikan pada puncak gunung tertinggi itu pada tahun 1865 oleh Andrew Waugh, mengambil dari nama George Everest, nama atasan Waugh. Ironisnya, gunung yang terletak di Nepal itu, tidak memiliki nama Nepal hingga awal tahun 1960-an. Baru setelah awal 60an itulah Everest diberi nama Sagarmatha sebagai nama Nepal-nya. Sebetulnya ada nama-nama tua untuk puncak gunung itu, seperti Devgiri atau Chomolungma, tetapi karena berbagai alasan nama-nama tersebut tak penah dipakai secara resmi. Satu hal lagi yang sering dikacaukan orang adalah nama Everest dengan Himalaya. Everest adalah nama salah satu puncak di pegunungan Himalaya.
Pegunungan Himalaya sendiri membentang sepanjang kurang lebih 2400 km dari mulai Nanga Parbat di Pakistan hingga ke Namche Barwa di Bhutan. Himalaya, yang dalam bahasa Sansekerta berarti tempatnya salju itu, merupakan rumah bagi puncak-puncak gunung tertinggi di dunia. Paling tidak ada delapan puncak yang memiliki ketinggian di atas 8000 meter dan ada lebih dari 100 puncak berketinggian lebih dari 7200 meter. Jadi kalau dibuat daftar 100 puncak-puncak gunung tertinggi di dunia, semuanya ada di Pegunungan Himalaya. Dari 100 puncak itu paling tidak ada tiga yang belum pernah didaki sampai saat ini, sementara puncak pertama yang berhasil didaki adalah Jongsong Peak (7462 m) pada tahun 1930 sedangkan yang paling gres berhasil didaki adalah Nangpai Gosum (7350 m) pada tahun 1996. Dari seratus puncak itu, Everest (8848 m) adalah puncak yang paling sering didaki dan paling sering dicoba untuk didaki.
Dalam skala waktu geologi, Pegunungan Himalaya sendiri umurnya relatif masih muda. Pegunungan ini terbentuk akibat tabrakan lempeng anak benua India dengan lempeng Eurasia sekitar 70-40 juta tahun yang lalu. Sampai sekarangpun lempeng India ini masih terus merangsek ke Utara sehingga pegunungan Himalaya itu ya masih nambah terus tingginya. Karena masih belum stabil begini, tidak heran kalau yang namanya gempa masih sering terjadi di kawasan Himalaya. Pegunungan yang menjulang dan masih terus tumbuh ini juga merupakan mata air bagi banyak sungai-sungai di Utara maupun Selatan Himalaya. Sungai-sungai itu menjadi nadi kehidupan bagi lebih dari 750 juta jiwa manusia, lha ya maklum saja karena pegunungan ini tumbuh di salah satu kawasan yang paling banyak dihuni manusia je. Bisa terbayangkan, bencana macam apa yang bakal terjadi kalau ada "apa-apa" dengan sumber air itu.
Bencana memang menghantui tempat ini. Disamping gempa, bencana lebih besar bisa terjadi akibat dari pemanasan global yang sering didengung-dengungkan itu. Naiknya suhu permukaan bumi bisa mencairkan "salju abadi" yang menutupi puncak-puncak gunung di Himalaya. Kekeringan dan banjir adalah akibatnya. Sementara hutan-hutan di lereng-lereng pegunungan juga rajin dijarah, longsor adalah konsekuensi logis dari tindakan itu. Selain "bencana alam" (yang sebagian besar juga akibat ulahnya manusia) bencana yang bukan alam juga menghantui kawasan yang indah ini. Konflik perbatasan dan politik di India, Pakistan, Nepal dan Tibet dan konflik akibat ngotot-ngototan soal hak pengelolaan air, rajin juga muncul di banyak media pemberitaan.
Konflik, bencana, hambatan fisik dan mental, mudah-mudahan tidak menyurutkan semangat 10 perempuan itu untuk mendaki Everest pada musim semi tahun depan. Jalur pendakian kabarnya sudah dipilih, mengikuti rutenya Norgay dan Hillary yang merupakan dua orang pertama yang berhasil mencapai puncak Everest lebih dari setengah abad yang lalu. Tidak sebagaimana para Pandawa yang mendaki Himalaya untuk menemui kematian dalam lakon Pandawa Seda, sepuluh perempuan itu saya yakin berangkat ke sana justru untuk membuat hidup lebih hidup, karena saya tahu teman saya itu adalah pencinta kehidupan. Selamat berlatih Mbak-Mbak sekalian dan selamat mendaki.
Dari berbagai sumber; photo oleh Pavel Novak dan diambil dari sini.
Posted at 01:21 am by Sir Mbilung
Fitri August 3, 2006 01:35 AM PDT hebat! aku bangga banget sama para srikandi itu. moga-moga bisa mencapai puncak. amin!!
atta July 30, 2006 07:44 PM PDT beberapa bulan lalu beberapa perempuan juga baru saja kembali dari himalaya. keren
saya jadi ingat kemarin ke ijen; walah segitu aja udah pucet. hiks. :D
Mariskova July 30, 2006 06:18 PM PDT Para Pandawa itu sakti bener ya Pak Dhe. Naik ke gunung tinggi-tinggi itu cuma pake celana bawah n kain doang. Gak pake baju tebel2. Untung si Yudhistira itu mau membawa si anjing kampung jelmaan dewa utk naik sampai atas shg bisa mati sempurna. Kalau saya? Saya paling takut sama anjing. Gak bakal lulus ujian deh ;b