Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Jika orang berbincang tentang tokoh wayang, maka pokok pembicaraan biasanya berkisar pada tokoh-tokoh gagah, sakti, baik hati, pokoknya pahlawan pol semisal Arjuna, Bima, Gatotkaca, Bisma, Srikandi, Kresna atau dalam intensitas penyebutan yang lebih jarang ada nama-nama Baladewa, Drestajumna, Sahadewa atau Karna. Samalah seperti kalau sedang ngobrol soal tokoh super hero, mestinya jarang kalau yang dijadikan bahan obrolan itu adalah Joker, Luthor, Ghazul, Ki Wilawuk, Doktor Setan atau Kucing Merah, kecuali kalau yang ngobrol itu ya para super hero ... "Gun Gun, piye kabare Ki Wilawuk?" ... begitu tanya Godam pada Gundala.
Tokoh-tokoh antagonis begitu, paling-paling hanya namanya yang lantas dicatut buat menakut-nakuti anak kecil ... "awas lho, kalau kamu nakal nanti tak panggilkan scarecrow!" (nyatut nama musuhnya Batman) atau ... "kamu ini nakal terus, mau tak panggilkan Polisi?!" (lho??). Begitulah, dalam keseharian akhirnya para tokoh jahat itu lantas hanya berfungsi sebagai orang-orangan sawah, bebegig, memedi. Padahal, tanpa mereka itu, para manusia super pembela kebenaran (yang bekerja di luar jalur hukum itu) ya ndak ada artinya. Lha, saya ini mau ndobos soal salah satu "tokoh jahat" dalam dunia wayang yang banyak pembencinya. Patih Sangkuni.
Patih Sangkuni, bisa juga Sengkuni, Sangkuning atau Shakuni, adalah tokoh jahat kunci dalam kisah Mahabharata. Sebagai seorang patih dan sekaligus penasehat Duryudana sang raja Hastina, Sangkuni memainkan peran yang sangat penting dalam konflik antara Pandawa dan Kurawa yang berujung pada perang Bharatayudha di Kurusetra yang memusnahkan sebagian besar keluarga Bharata itu. Sangkuni membuat Mahabharata menjadi "hidup" dan seorang seperti Widura yang baik hati dan bijaksana tak mampu menghentikan ketajaman akal bulus dan celoteh berbisa Sangkuni.
Sangkuni adalah putra Prabu Keswara dan paman dari para Kurawa. Adiknya, Dewi Gandari, adalah istri dari Prabu Dretarasta yang juga adalah orang tua para Kurawa. Dendam Sangkuni pada keluarga Pandawa (anak-anak Pandu), berawal dari kegagalannya mendapatkan Kunti dalam sayembara yang dimenangkan oleh Pandu. Kalah beradu sakti dengan Pandu, Sangkuni lantas menyerahkan adiknya, Dewi Gandari, pada Pandu untuk diperistri. Alih-alih mengambil Gandari, Pandu menyerahkan Gandari kepada kakaknya, Dretarasta yang buta. Dendam Sangkuni telah dipupuk sejak awal cerita. Tidak berhasil mendapatkan Kunti, Sangkuni toh tetap saja tergila-gila pada Kunti. Dalam sebuah peristiwa, Sangkuni mengganggu Kunti hingga kemben yang dipakai Kunti melorot. Sejak saat itu Kunti bersumpah untuk tidak lagi memakai kemben sampai ia bisa mengenakan kemben yang terbuat dari kulit Sangkuni (sebuah sumpah yang mengerikan).
Peran Sangkuni terpenting dalam penghancuran keluarga Bharata justru diawali setelah Pandawa keluar dari Hastina dan mendirikan kerajaan yang beribukota di Indraprasta. Keserakahan Kurawa untuk mendapatkan kerajaan baru itu, kebencian Sangkuni pada Pandawa menjadi pemicu awal terjadinya perjudian legendaris antara Kurawa dan Pandawa. Judi dengan menggunakan dadu, yang konon terbuat dari tulang paha Ayah Sangkuni dan mematuhi perintah Sangkuni itu, tentu saja dimenangkan oleh Kurawa. Yudhistira sang sulung Pandawa yang berjudi, mempertaruhkan kerajaannya, saudara-saudaranya dan juga istri para Pandawa, Dewi Drupadi. Perjudian yang sebagian pernah ditulis oleh Kang Mas Pecas di sini, memperlihatkan betapa ternistanya Drupadi yang lantas bersumpah untuk tidak lagi menggelung rambutnya sebelum dicuci dengan darah Dursasana (lagi ... sebuah sumpah yang mengerikan dari seorang perempuan). Pandawa kehilangan kerajaannya, mereka harus mengasingkan diri selama 13 tahun di hutan dan satu tahun bersembunyi tanpa boleh terlihat oleh Kurawa.
Pandawa yang berhasil menjalani masa pembuangan dan main petak umpet selama setahun itu, Pandawa ngumpet di Wirata, toh pada akhirnya tidak juga bisa mendapatkan kembali kerajaannya. Sangkuni kembali berperan besar di sini dalam perundingan dengan Kresna yang menjadi wakil para Pandawa untuk mendapatkan kembali hak mereka. Perundingan yang gagal itu, berujung pada perang antar saudara sendiri, perang besar yang kemudian diberi nama Bharatayudha. Perang yang menghabiskan semua anak Dretarastra dan Gandari yang jumlahnya seratus itu, perang yang juga menuntut korban para ksatria bernama besar seperti Gatotkaca, Karna, Bhisma, Dhorna, Abimanyu. Bahkan beberapa ksatria sakti sudah harus digugurkan sebelum perang itu terjadi, sebut saja nama Antareja dan tokoh kegemaran saya Wisanggeni. Perang yang juga merenggut nyawa sang pemicu ... Sangkuni.
Siapa yang membunuh Sangkuni, tergantung versi cerita. Dalam satu versi dikatakan bahwa Bima sang raksasa Pandawa lah yang menghabisi Sangkuni dan lantas merobek mulut Sangkuni dengan tangannya. Dalam versi lain dikisahkan bagaimana Sangkuni mati ditangan sang bungsu Pandawa yang pendiam dan jagoan pedang, Sahadewa. Siapapun yang membunuh Sangkuni, Kunti akhirnya bisa mengenakan kemben lagi, terbuat dari kulit Sangkuni.
Keburukan Sangkuni tampaknya tak termaafkan. Para politisi menggunakan nama tokoh ini untuk menggambarkan lawan politiknya yang dinilai jahat keterlaluan dengan ucapan "... dasar Sangkuni". Wayangnya masih saja dilempar oleh dalang ke penonton untuk lantas diinjak-injak oleh penonton yang tersihir oleh aksi sang dalang. Tidak seperti wayang lainnya yang lantas masuk kotak begitu pertunjukan selesai, Sangkuni atau sisa-sisanya masih berada di luar kotak, tercabik-cabik diinjak kaki-kaki penonton yang marah.
Tak terbayangkan rasanya Mahabharata tanpa Sangkuni. Kisah yang indah itu hanya akan menjadi kisah sekelas Putri Salju atau Putri Tidur tanpa Sangkuni. Para Pandawa hanya akan diceritakan sebagai kumpulan tokoh bangsawan kemayu yang memerintah sebuah negri, sama halnya dengan Kurawa. Kresna hanya akan dilihat sebagai pelengkap. Tokoh-tokoh seperti Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, Bilung akan kehilangan perannya. Sangkuni sang korban dendam dan kelicikannya sendiri ... untung dia sudah mati di Kurusetra. Ah ... apa iya dia sudah mati?
kamajaya September 13, 2009 08:30 PM PDT sipp..
walau kurang komplit tapi asik dah..
salam dari kayangan..
jko June 23, 2008 05:39 PM PDT saudara2 apakah ada yg memiliki dokumen atau suatu bentuk naskah mengenai dewi arimbi? karena aku sangat membutuhkannya... bila ada mohon diinformasikan ya k email aku cumi_iklan@yahoo.com makasih banyak
srikandi March 27, 2008 12:34 PM PDT srikandi tu gue banget! coz cantik n pnya suami tuampan...kayak tom cruz
devi October 16, 2007 03:29 AM PDT om klo mau dapet cerita lengkap wayang dimana yak??? Udah tau sih secara garis besar tapi kayaknya masi kurang gitu...hehehehe ceritanya keren buanget..
sususoda October 10, 2007 09:13 PM PDT komik klo ga salah sudah ada..
mahabharata+Bharatayudha..
setelah baca-baca di sini ternyata ini versi indonesianya..
klo versi asli(kejadian asli)di india srikandi bukan istri arjuna..
arjuna juga cuma punya istri 2 subhadra(adik sri krsna)dan satunya lagi lupa namanya, pokoknya anak seekor naga)
klo sakuni emang udah mati.. mulutnya dirobek sama bhima di kurusetra..
kurawa itu tidak semuanya mati..
kurawa berjumlah 99 laki-laki dan 1 orang perempuan.. jadi yang mati dalam peperangan semuanya 99 kurawa bukan 100(menurut wayang pun seperti itu)
Name October 10, 2007 09:12 PM PDT komik klo ga salah sudah ada..
mahabharata+Bharatayudha..
setelah baca-baca di sini ternyata ini versi indonesianya..
klo versi asli(kejadian asli)di india srikandi bukan istri arjuna..
arjuna juga cuma punya istri 2 subhadra(adik sri krsna)dan satunya lagi lupa namanya, pokoknya anak seekor naga)
klo sakuni emang udah mati.. mulutnya dirobek sama bhima di kurusetra..
kurawa itu tidak semuanya mati..
kurawa berjumlah 99 laki-laki dan 1 orang perempuan.. jadi yang mati dalam peperangan semuanya 99 kurawa bukan 100(menurut wayang pun seperti itu)
yunita March 9, 2007 07:16 PM PST udh ada belum ya komik ttg cerita punakawan. pasti seru tuh klo ada! slama ini kan cuma cerita2 wayang yg njelimet. punakawan kan seru tuh, ada humor yg slalu dtunggu2 saat nonton wayang....
Agni February 9, 2007 06:20 PM PST Yak emang Gatotkaca pakai topeng untuk menutupi wajah raksasa-nya. Ada satu lagi : Gatotkaca aslinya NGGAK BISA TERBANG. Mas Gatot bisa terbang karena memakai pusaka Kutang Antakusuma. Masih hebat Superman ya... Tapi masih lebih hebat Gatotkaca dari Batman, karena Batman udah punya sayap, masih juga nggak bisa terbang, hehehe.........
bisma juga January 24, 2007 07:22 PM PST waah namaku masuk cerita!!!
eh apa cerita yg masuk namaku?
apa ini cerita tentang masa depan ku?
tau ah.........!!!!!
Muly De La Vega August 15, 2006 03:23 PM PDT Bharatayudha dipercaya sebagai kisah yang ditulis berdasarkan kejadian bersejarah yang mamang pernah terjadi. Sehingga, ia bukanlah sekedar cerita saja. Hal ini saya ketahui dari sejarawan India ternama yakni Dr. Rama Phrasad.
Perang Bharatayudha diperkirakan terjadi kurang lebih 3.000 tahun sebelum Masehi di Padang Kurushetra yang terletak di sebelah timur laut (bisa saja salah) kota New Delhi sekarang.
Dalam kisah Mahabharata versi India, memang Shakuni merupakan salah satu tokoh kunci. Shakuni serta Gandhari berasal dari Kandhahar (salah satu wilayah di negara Afghanistan sekarang). Shakuni mempunyai dendam kepada Pandhu serta keturunannya sekaligus ingin melaksanakan rencananya tersendiri.
Sekalipun ditakdirkan menjadi tokoh yang bersifat antagonis, seorang Shakuni bagaimanapun juga merupakan tokoh politik besar. Ia juga memiliki postur tubuh serta wajah yang gagah dan tetap menjunjung tinggi kesopanan walapun juga tetap dalam kerangka kelicikan. Selain itu, tidak seperti yang digambarkan dalam wayang Jawa, Shakuni tetap merupakan sosok kesatria yang berani dalam medan peperangan. Shakuni pada akhirnya mati dalam perang Bharatayudha pada hari-hari terakhir setelah terlibat pertarungan pedang yangsengit dan nyaris dimenangkannya melawan Sadhewa, putra bungsu Pandhu dari Madrim yang juga merupakan saudara kembar dari Nakhula.
zam August 7, 2006 02:01 PM PDT keren pakde... habis baca cerita pakde ini saya jadi tertarik (lagi) sama cerita pewayangan.. isin pakde, mosok wong Jowo ndak ngerti wayanh babar blass..
etung-etung pengen nguri-uri budaya Jawa pakde..
Ada reperensi ndak?
sumonggo diimelkan saja dumateng matriphe at yahoo dot com..
matur nuwun pakde..
galih August 6, 2006 09:41 AM PDT Mbah mbilung, ada referensi buat belajar cerita wayang jawa yang bukan bahasa sansekerta ndak? susah anak muda kalo disuruh mbaca bahasa kawi, atau ndengerin ocehan pak dhalang yang kayak bahasa planet itu...
komentar:
lha peran para punakawan itu apa mbah? *setengah request :D*
Fitri August 3, 2006 01:39 AM PDT wooo, cerita wayang-e top tenan ini pakdhe. saya kan dulu cuma bisa baca komiknya thok. walah, tebel banget sampe berapa bendel sendiri. jatuh cinta berat pokoke. sekarang sih udah lupa jalan cerita perangnya. baca ini lagi jadi terkenang-kenang yang dulu...
FLaW August 1, 2006 02:58 PM PDT cerita yang asik. jadi nostalgia dulu jaman sd penggemar berat komik-nya r.a kosasih. dulu saya had a crush tingkat tinggi sama arjuna, bahkan mimpi2 bisa merit sama arjuna. soalnya di komik ada satu scene arjuna lagi bertapa di atas batu, trus pake kain (ga tau namanya) yang dililit badan itu, rambutnya di urai. aduh cakep bgt.....gile.....saya langsung jatuh cinta. saya langsung berkhayal saya menjadi srikandi. kayanya dulu saya tomboy berat jg karena ingin meniru srikandi. sempet minta di beliin panah2an sama bapak, dibeliin sih yang dari plastik itu. hehe...tp kalo jadi srikandi beneran, harus siap mental kali ya, arjuna kan istrinya banyak. duuuh....maap ya, kok jadi curhat gini...hehe...Mas, kok Srikandi ga disebut2 di postingan ini? Cerita lagi dong mas, usul nih, buat postingan khusus ngebahas Srikandi. :)
Moes Jum July 31, 2006 11:15 PM PDT Kang, kalo mau tahu Sengkuni itu masih hidup atao enggak ... jawabannya mending tanya sama Dalangnya (nanyanya sambil ngopi di belakang layar). Tapi mungkin ... ini dugaan lho ... Sengkuni sudah malih dadi Mbilung .... tuinggggg (kabur ahhh)
Luthfi July 31, 2006 09:53 PM PDT jadi inget, saya sdh baca kisah mahabarata itu sjk kls 1 sd (agak lupa, pokoknya pas sdh agak lancar baca)
ely July 31, 2006 08:00 PM PDT makasih ceritanya om!
yoyok July 31, 2006 06:27 PM PDT wah tokoh favorit saya Bima, embuh kenapa, mungkin gara2 ibu cerita kalo bima itu kuat, bapaknya gatot kaca dari dewi arimbi yang juga dari ras raksasa itu
lucu juga pas liat bima di-pdkt in sama dewi arimbi di pertunjukan wayang wong..lakone lali rek :p
tuh, sekuat-kuatnya laki2 kalah sama perempuan jua
lha..melenceng topik kie :p
tifoso July 31, 2006 11:34 AM PDT asik banget ceritanya... :)
Mariskova July 31, 2006 01:06 AM PDT Pak Dhe...
1) Yudhistira juga manusiaaa ya... Sampe bisa2nya istri dibuat berjudi... ck ck ck...
2) Versi saya si Sangkuni mati dengan mulut terobek oleh Bima. Tapi si bungsu kembar itu katanya ganteng juga loh. Gak se-playboy Arjuna lagi *hehehe.. OOT dikit*
3) Saya juga penggemar Wisanggeni. Kalo bapaknya ganteng, anaknya ya musti ganteng juga kan? *halah, OOT lagi*
4) Kok ya pas banget. Saya lagi butuh referensi crita wayang kumplit (gak sekedar seingetnya saya). Saya lagi nyari ttg Gatotkaca itu loh. Ketemu disini: http://www.planetmole.org/06-05/the-kingdom-of-pringgandani-java-indonesia.html
Lucunya, saya baru tau kalau Gatotkaca itu memakai topeng supaya terlihat ganteng secara dia itu anak raksasa yg juga bermuka raksasa. Seinget saya, Gatotkaca itu bermuka spt dalam lagu Kopral Jono hihihi.... Ternyata, Gatotkaca juga manusiaaaaa... dan tampang keceh ternyata saat itu penting juga huahahaha....