Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Sekarang ini sedang musim orang main-main api buat mbakar hutan, atau mbakar bekas hutan. Tadinya saya mau ndobos soal burung dan main-main api ini, tapi Mas Jum sudah mendahului dan berita begini juga sudah bertebaran di mana-mana. Lha kok ndilalah Mbak Eny memberi ide agar saya ndobos saja tentang sesuatu yang masih ada hubungannya dengan burung dan api, ndobos soal kesukaannya Mbak Eny, burung yang berapi-api ... Phoenix.
Bagi para penggemar Harry Potter, Phoenix bukanlah nama yang asing. Phoenix adalah burung peliharaan kepala sekolah sihir Hogwarts, Albus Dumbledore, yang diberinya nama Fawkes. Kepala sekolah kok hobinya melihara burung? Menilik asal pengarang Harry Potter itu dari Inggris, saya kok yakin nama Fawkes ada hubungannya dengan Guy Fawkes yang bercita-cita untuk membunuh Raja Inggris kala itu, James I, dan semua anggota House of Lords dan House of Commons dengan cara meledakkan mereka semua pada tanggal 5 November 1605 yang dikenal dengan gunpowder plot. Hingga kini, upaya yang gagal itu masih diperingati di Inggris dalam sebuah festival yang diberi nama Bonfire pada setiap tanggal 5 November dengan membakar boneka Fawkes.
Bagi para penggemar film dan serial Star Trek, saya salah satunya, nama Phoenix juga tidak asing. Phoenix adalah nama pesawat yang dibuat oleh Zefram Cochrane dan diterbangkan pada tahun 2063 sesudah berakhirnya Perang Dunia III . Phoenix adalah pesawat pertama buatan manusia yang mampu bergerak dengan kecepatan warp, kecepatan cahaya. Buat yang tertarik dengan cerita ini bisa nonton di Film Star Trek, First Contact. Nama Phoenix sengaja dipilih sebagai lambang kebangkitan kembali umat manusia dari abu kehancuran akibat perang.
Abu? ya ... karena menurut cerita Phoenix lahir dari abu. Mbundet? Begini kisahnya. Mitologi Phoenix itu berawal dari Mesir dan diceritakan bahwa ada burung suci yang bentuknya menyerupai cangak (seperti kuntul tapi lebih besar) yang mempunyai dua helai bulu sebagai mahkotanya. Oleh orang-orang Mesir, burung ini diberi nama Bennu. Nama Bennu tampaknya berhubungan dengan kata weben yang berarti bangkit atau bersinar, dan Bennu selalu dikaitkan dengan matahari dan kelahiran kembali. Walaupun begitu Bennu juga dikaitkan dengan kematian karena namanya juga muncul dalam Buku Kematian (sudah pernah nonton film The Mummy dan The Mummy Return?), dan di dalam buku itu ada tertulis "Akulah Bennu sang burung, nyawa dari Ra (dewa matahari), dan penuntun para dewa ke alam kematian" .... hiiiiii ....
Sudahlah saya ndak akan ndobos lebih jauh soal serem-serem begini, bisa-bisa saya jadi takut sendiri. Begitulah, entah melalui jalur mana, mungkin jalur dagang, kisah Bennu sang burung ini kemudian tersebar ke Yunani dan di sanalah nama Bennu berangsur berganti menjadi Phoenix. Phoenix sekarang mengambil sosok sebagai burung merak atau elang yang tentu saja berapi-api, membara. Phoenix itu adalah burung jantan dan dikatakan bisa hidup antara 500 sampai lebih dari 1000 tahun lamanya. Kata lagunya Ismail Marzuki "Tinggi Gunung Seribu Janji", seribu tahun itu tidak lama, hanya sekejap mata.
Jika tiba waktunya untuk mati, Phoenix katanya akan membangun sarang dari batang kayu manis dan rempah-rempah lain, lantas sambil angkrem dengan tenang ... bleng ... Phoenix mengobongkan dirinya sendiri, terbakar habis sampai jadi abu. Lantas dari abu itu keluarlah bayi Phoenix ... jantan lagi. Phoenix dikatakan bisa menyembuhkan lukanya sendiri, mirip Woverine dalam X-Men, sehingga praktis dia tidak bisa terluka atau mati. Abu-abu sisa membakar diri itu lantas dimasukan ke dalam telur yang terbuat dari getah pohon myrrh dan disemayamkan di Heliopolis (Kota Matahari) di Mesir. Begitulah Phoenix burung yang kagak ada matinya, lambang dari api, keabadian, kematian dan kebangkitan. Satu hal lagi, Phoenix burung gagah ini ndak makan daging, dia pemakan sayur, vegetarian, atau dalam dunia hewan dia dikenal sebagai herbivora ... kayak sapi itu.
Apa Phoenix lantas hanya ngetop di Mesir dan Yunani saja? Tidak sodara-sodara, Phoenix juga hadir di berbagai kebudayaan tua seperti Roma, Cina, Jepang, Russia dan Indian Amerika. Poenix juga hadir dalam berbagai produk modern seperti dalam beberapa kartun Jepang antara lain (yang saya ingat) Digimon, Pokemon serta Yugi Oh dan tentu saja dalam cerita Harry Potter. Tuh kan ... Phoenix emang kagak ada matinye ...
Dari hasil inget-inget dan berbagai sumber, gambar Phoenix diambil dari sini.
mpokb August 1, 2006 01:28 PM PDT "resistance is futile"
:D
Eny August 1, 2006 01:23 PM PDT matur nuwun sanget pakdhe..."tos dulu ah.. :D" pagi2 sdh bikin saya hepi..hehehe...tuh ada request lagi tentang naga pakdhe, secara saya juga pecinta saphira, naganya eragon..yo jelass saya juga menunggu penuh harap..:D selamat ndongeng oom..
Moes Jum August 1, 2006 01:12 PM PDT Betul tuh yang katanya Mas Gandrik, tapi gak cuman di Yogya ... wong aku dhewe punya satu sing warnanya ijo. Dulu belinya bekas piaraannya tukang ojek di daerah Kota. Tapi yang ini gak bisa keluar apinya.
gandrik August 1, 2006 11:04 AM PDT di Jogja Phoenix jadi merk sepeda... :-)
mas, tulisane apik. Nulis tentang naga yo... tak tunggu.. :-)
-tikabanget- August 1, 2006 02:23 AM PDT Biasanya, kalo ada mitos yang sama di beberapa tempat yang berlainan, ada asal muasalnya thooo..
*sok tau..*
jangan jangan, ada beneran ya yang namanya phoenix...
tifoso August 1, 2006 01:37 AM PDT wekekek... nyangkut ke Pokemon juga ternyata... :)