Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Orang Jepang gemar makan mie, istilah generik untuk makanan yang dibuat dari tepung terigu dan lantas dibentuk panjang-panjang seperti tali atau benang itu .... ya mie. Macam-macam namanya di sini, ada Soba, Ramen, Udon, Somen, Yakisoba, dan mbuh apa lagi, pokoknya mie lah.
Walaupun saya bisa (dan suka) makan mie-mie begitu, tetapi berdasarkan standard Jepang saya belum lulus dalam soal makan mie yang baik dan benar, serta sopan. Untuk dapat disebut sebagai penyantap mie yang layak, makan mie-nya harus dengan cara disedot dan proses penyedotannya harus diiringi dengan bunyi slurrrppp begitu.
Lha sulit ini bagi saya. Sedari kecil saya diajari oleh orang tua untuk tidak mengeluarkan suara pada saat bersantap. Baik itu suara karena omongan, mulut berkecipak atau berbunyi slurrrppp itu tadi. Kalau itu dilanggar, tatapan bapak saya yang kurang bagus dan omelan ibu saya yang lebih deras dari hujan itu adalah imbalannya. Pokoknya ndak sopan katanya.
Lha kok ndilalah aturan makan mie di negara ini berkata lain, harus pakai slurrrppp begitu. Ya sudah, toh pepatah bilang "dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" yang artinya junjunglah langit kalau tidak mau ketiban langit. Maka dengan semangat agar tidak ketiban langit, sayapun mulai belajar slurrrppp yang baik dan benar.
Sudah lama pelajaran ini saya lakoni, dan makan siang yang namanya menu mie itu jadi menu yang rajin dipilih. Gagal maning gagal maning, sulit sekali ini pelajaran, lha wong saya itu ya pada dasarnya anak yang sopan dan trauma slurrrppp kok. Tetapi dengan upaya yang keras dan bersungguh-sungguh, berita bahagia ini bisa saya bagi ke semua pembaca.
Siang tadi, sekitar pukul 12:45 waktu Tokyo dengan mie jenis soba saya berhasil menyelurup mie itu. Kekerasan bunyi dinyatakan lulus, kemulusan mie masuk ke dalam mulut pun saya lulus dan mangkok licin tandas diakhir acara bersantap. Sudah luluskah saya? .... lulus sih, tetapi dengan catatan.
Jika sedang ber-slurrrppp begitu, itu kuah mie tidak boleh blepetan kemana-mana. Saya itukan namanya juga baru bisa bunyi saja, jadi tadi siang itu bukan hanya baju bagian atas yang dibasahi kuah mie tetapi juga muka. Kali itu, sehabis makan saya tidak hanya cuci tangan, tetapi juga cuci muka.
Mungkin kalau dalam Bahasa Jawa, mie soba itu harus diterjemahkan sebagai Mie Raub. Sampeyan mau saya slurrrppp, nanti kalau sudah bisa raub.
kireina August 11, 2006 12:33 PM PDT hati2 pakde, kebanyakan makan mie kuah yang panas bisa bikin bulu hidung bertambah panjang (kata bangiru yang pernah nonton acara tipi di jepang :D)
gandrik August 7, 2006 08:23 PM PDT mas, jangan banter2 lo slurrrppp-nya... bisa keluar dari hidung ntar... btw, udah coba makan mie yang mengalir pakai talang? aku lihatnya cuman di komik kariage-kun.. Ada betulan nggak sih?
Eny August 7, 2006 06:16 PM PDT mbesok kalo makan mie lagi bekel handuk pakdheee..buat raub dan nutupi kemeja :p
siberia August 5, 2006 08:14 PM PDT udah bisa slurrrp utk udon yg panas panas panas? :D
Qq August 5, 2006 04:27 AM PDT Hahahaha .. baru tahu klo makan mie ala jepang harus begitu, Om saya yang tinggal di Jepang ga pernah ngasi bocoran seh. Saya penggemar berat mie Pakde, lain kali mo nyobain ah makan mie ala sluurrrppp ... seru jg kali yaaa.
yoyok August 5, 2006 04:23 AM PDT hayo saya tantangin...
makan mie pake sedotan bisa nggak ?
saya sih...
nda bisa :D
paman tyo August 5, 2006 12:54 AM PDT makan mi?
teman saya berpendapat yang namanya mi, soto, dan apapun yang berkuah itu "diminum".