Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Sunday, August 06, 2006
Sejarah

Akhir pekan ini saya isi dengan membaca dan menulis, sama sekali tidak keluar rumah. Ini gara-gara ibu yang satu ini, ujug-ujug juga minta didongengi seperti Mas Yoyok, MpokB dan Mas Gandrik. Bukan karena saya ndak hafal ceritanya, saya membaca lagi supaya ndak ada hal-hal penting yang terlewat, maklum ibu itu minta saya ndobos soal sejarah je.

Sejarah ... inilah salah satu mata pelajaran yang saya suka sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah dulu. Saya akui kalau guru sejarah saya itu, Suster Bernadeth, cantiknya pol, tetapi saya lebih tertarik karena gaya tuturnya yang lebih seperti orang bercerita, ndongeng. Suster Bernadeth juga tidak pernah memaksa kami menghafal angka-angka tanggal bulan tahun. Suatu kali dia bertutur manis "buat saya, yang penting kalian memahami mengapa suatu hal itu terjadi dan apa akibatnya di masa sesudahnya".  Buatnya, kapan perang Diponegoro itu mulai dan kapan selesai menjadi seperti pelengkap saja, tetapi kenapa Diponegoro memutuskan untuk berperang dan kenapa dia lantas memutuskan untuk mau berunding adalah hal yang penting.

Saya lantas sering terkagum-kagum dengan para saudara sepupu saya yang seumuran (mereka bersekolah di tempat yang ndak ada Suster Bernadeth-nya). Mereka hafal tanggal bulan tahun sebuah peristiwa atau kelahiran dan kematian tokoh. Tetapi mereka sama sekali tak pernah diberitahu soal masalah sengketa tanah dan harga diri yang menyebabkan Diponegoro memaklumatkan perang suci terhadap Belanda. Perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Jawa yang membuat bangkrut pemerintah kolonial Belanda.

Saya tak hendak menyalahkan para penganut jurus menghafal angka, saya hanya ingin menggugat jika jurus tersebut lantas dijadikan satu-satunya jurus untuk memahami apa yang sudah terjadi, memahami sejarah. Saya lantas bersedih ketika mengetahui bahwa jurus itulah yang umum diajarkan pada banyak sekolah di Indonesia, sementara para pejabat dan praktisi di dunia politik sibuk mbengok "kita harus belajar dari sejarah" ... belajar apa? belajar menghafal angka begitu? Lagi pula mengingat angka itu bukanlah pekerjaan gampang, bisa-bisa tertukar dengan nomor PIN ATM. Lantas jika ada kejadian tak mengenakan kita dikatakan sebagai bangsa pelupa, walaupun sebenarnya mungkin bukan lupa, tapi ya ndak pernah diberi tahu saja.

Agak lega juga saya ketika tahu anak saya lancar bercerita soal Perang Pasifik. Suatu malam, saya didongengi olehnya soal perang itu. Hari ini, ditengah baca-baca dan tulis-tulis, saya jadi kangen Suster Bernadeth.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung

gandrik
August 7, 2006   08:29 PM PDT
 
setuju pakdhe... sejarah memang harus begitu cara ngajarnya... hebat anak sampeyan... sama kaya fisika, saya baru tahu keindahan fisika setelah lulus, pas SMP/SMA mung ngapalke rumus thok, tanpa tahu sejarah/story dibalik rumus2 itu...
Eny
August 7, 2006   06:26 PM PDT
 
coba guru sejarah saya dulu model pakdhe mbilung "berandaiandai.com" :D
Eny
August 7, 2006   06:20 PM PDT
 
saya juga termasuk yg ndak punya kenangan manies sama guru sejarah saya dulu... yaa gitu sudah ndak manis plus ndak asyik kalo ngajar :(
yoyok
August 7, 2006   04:38 PM PDT
 
Eh bu guru sejarah saya juga cantik lo mas, Kaya Renee Russo

apalagi dia juga berprinsip sama seperti Suster Bernadeth, dia juga serign cerita,

wah uenak diceritain sama dia, tapi saya apalnya sama bu guru sejarah saya, bukan pelajaran sejarahnya :p

hehehe..murid yang nakal
-uTHe-
August 7, 2006   11:51 AM PDT
 
prinsip 'Jas Merah' yang diajarkan Bung Karno selalu aku ingat...
tapi prinsip belajar sejarah yang berarti menghapal dan bukan mengerti tentang suatu peristiwa, itu yang gak aku suka dan cukup diingat sampai batas waktu ujian sejarah berakhir...

(n-n)
Qq
August 6, 2006   10:36 PM PDT
 
Sedih memang nasib pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Zaman sekolah dulu Qq lebih suka ujian lisan krn lebih menekankan alurnya ketimbang ngafalin tahun kejadian. Dan bertahun2 sedari SD sampai SMA sejarah Indonesia sll diulang-ulang dgn materi yg sama, mulai dari manusia prasejarah sampai perang kemerdekaan, sampai bosen ngeliat bukunya. Makanya begitu berkesempatan belajar Sejarah Dunia Qq jadi semangat banget ... akhirnya ada sesuatu yang berbeda! hehehe
fitri
August 6, 2006   04:48 AM PDT
 
saya suka sejarah karena bapak saya. makanya ketika ada guru sejarah yang ngaco gitu saya mumet bin pusing. ngaconya tuh ya cuma menekankan soal tahun dan angka2.

toni tertidur di dalam kelas. bu guru galak
melihatnya tidur segera menegurnya: "Toni!!"
"Mm..Huh?" toni masih belum sadar.
"Jenderal Sudirman meninggal dunia...??" bu guru ingin toni melanjutkan tahun dan tempatnya.
"Apa?? Meninggal dunia??? Kapaaan???"

:D
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry