Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Wanti-wanti/pengingat: tulisan ini sebaiknya dinikmati (kalau bisa) sebagai bacaan ringan saja, ndak usah terlalu serius. Walaupun ada "sejarah-sejarahnya" perlakukan saja tulisan ini seperti cerita berlatar belakang sejarah lainnya, seperti sinetron silat itu. Jangan menjadikan tulisan ini sebagai referensi/acuan, apalagi buat bikin tulisan ilmiah. Sebagian tulisan ini informasinya saya ambil dari berbagai sumber bacaan yang akan saya sebut pada bagian akhir dari keseluruhan tulisan ini, tetapi sebagian besar informasi justru saya peroleh dari cerita kiri-kanan, dan cerita guru sejarah saya yang ayu itu. Sama halnya dengan sumber pustaka, nama mereka juga akan saya sebut dibagian akhir cerita.
Jalan Portugis untuk menjadi negara adidaya lumayan terjal. Di Eropa mereka harus bersaing keras dengan Spanyol yang juga hobi melaut dan para raksasa yang sedang tumbuh seperti Belanda dan Inggris. Sementara di daerah selepas Tanjung Harapan musuh-musuh Portugal yang lain sudah menunggu, para pedagang Timur-Tengah, India, Malaka dan Pasai. Walaupun bisa dibilang bahwa permusuhan itu ya karena kelakuan Portugis sendiri. Kebengisan Portugis memang tersohor kala itu. Pertemuan Portugis dengan siapapun di laut kadang harus diakhiri dengan pertempuran. Bagi Portugis sendiri, merugi tidak ada dalam perhitungannya dan untuk itu mereka harus terus ke Timur ... Malaka adalah sasaran berikutnya.
Pada tahun1509, orang-orang Portugis menjadi orang Eropa pertama yang tiba di Malaka, sebuah kesultanan yang berpusat di Semenanjung Malaya dan daerah kekuasaannya juga meliputi sebagian Pantai Timur Sumatera. Rombongan pertama Portugis ini dipimpin oleh Lopez de Sequira. Seperti sudah diduga, rombongan ini tak disambut ramah di Malaka karena berita kekejaman Portugis di Pembantaian Calicut telah sampai di Malaka. Rombongan pertama ini lantas diserang oleh Malaka dan berhasil diusir. Cerita belum selesai ternyata, Portugis tidak terima diusir begitu saja dan pada tahun 1511, armada besar Portugis datang untuk menggempur Malaka di bawah pimpinan Alfonso d'Albuquerque. Malaka akhirnya jatuh ke tangan Portugis dan jalan Portugis ke pulau rempah-rempah semakin dekat.
Berhubung Portugis sudah mulai dekat ke tanah rempah-rempah, ada beberapa hal yang perlu diterangkan yang berkaitan dengan nama dan produk rempah-rempah yang akan banyak disebut setelah ini. Nama Maluku saya pakai untuk wilayah yang saat ini ada dalam Propinsi Maluku Utara terutama untuk kawasan yang mencakup Ternate, Tidore, Bacan dan Halmahera. Sedangkan Banda adalah nama yang saya pakai untuk mengacu kepada kepulauan kecil yang terdiri dari tujuh pulau utama yaitu Lontor (Banda Besar), Gunung Api, Banda Naira, Ai, Run, Pisang (Syahrir) dan Rozengain (Hatta) . Yang saya maksud dengan pala adalah biji buah pala. Buah pala biasanya dibagi menjadi tiga bagian besar, bijinya (nutmeg) yang berharga tinggi, pembungkus biji (aril, fuli atau mace) yang juga dijual sebagai barang dagang dan daging buah pala yang sekarang sering dipakai untuk dibuat manisan, selai atau sirup, tetapi jaman dulu ya dibuang saja.
Adalah seorang tukang jalan-jalan dan tukang ndobos berkebangsaan Italia dari Bologna yang bernama Ludovico di Varthema yang mengaku dia telah pernah ke Banda dan Maluku. Varthema ndobos begini, dia tiba di Sumatera dan mendengar kisah tentang pulau rempah-rempah di Timur dan dia ingin mengunjunginya (semua juga begitu pada watu itu). Dia lantas menyewa sebuah kapal dan berlayar ke arah matahari terbit sejauh 300 mil selama 15 hari. Dalam perjalanannya dia melewati duapuluhan pulau yang sebagian ditinggali dan sebagian lagi tidak hingga suatu hari sampailah dia ke Banda (dia menyebutnya Bandan). Tempat ini digambarkannya buruk sekali, ndak ada bagus-bagusnya, orang-orangnya lemah dan bodoh serta hidup seperti hewan. Berlayar ke arah Utara selama duabelas hari dia tiba di Maluku, yang udaranya dikatakan lebih sejuk dibanding Banda tetapi orang-orangnya lebih buruk. Dia juga memberikan cerita tentang pala dan cengkeh yang diburu-buru orang Eropa itu.
Cerita Varthema ini dianggap banyak tidak akuratnya, sama seperti cerita Marco Polo tentang perjalanannya, sehingga cerita Varthema tidak layak untuk dipercayai dan namanya hanya jadi catatan kaki saja dalam sejarah sebagai orang Eropa yang katanya pernah ke Banda dan Maluku dan bukannya sebagai orang Eropa pertama yang sampai di sana. Jarak dari Sumatera ke Banda misalnya, tidak kurang dari 1500 mil, dan untuk jaman itu bisa ditempuh dalam waktu satu bulan berlayar. Tetapi bagaimanapun, cerita Varthema menjadi pemecut bagi rang-orang Portugis yang telah merebut Malaka untuk mulai melakukan eksplorasi ke pulau rempah-rempah. Perlu digaris bawahi, bagi orang Portugis jaman itu, kata eksplorasi juga bermakna eksploitasi.
Dari Malaka, d'Albuquerque yang terinsipirasi cerita Varthema lantas mengirim tiga kapal pada akhir tahun 1511 untuk berlayar ke Timur dengan dipimpin oleh Antonio d'Abreu. Dalam ekspedisi itu juga turut Fransisco Serrao yang mengomandoi salah satu dari tiga kapal Portugis. Akan tetapi saudara sepupu Serrao, Ferdinand Magellan tampaknya tidak turut disertakan dalam ekspedisi ini, dan diceritakan kemudian kalau Magellan malah pulang ke Portugis. Kisah tentang Magellan sudah saya ceritakan sebelumnya.
Akhirnya di suatu hari di tahun 1512, kapal-kapal Portugis di bawah pimpinan d'Abreu itu tiba di Banda, salah satu dari pulau rempah-rempah. Sebagai orang-orang Eropa pertama yang tiba di Banda (jika Varthema terbukti hanya ndobos), tak ada upacara penyambutan megah, meriah, bahkan tanggal pasti d'Abreu tiba di Banda tidak juga saya temukan. Sebuah sambutan kesunyian bagi keberhasilan upaya yang telah diimpikan begitu lama.
Tak lama berlabuh di tanah impian itu, d'Abreu kemudian berlayar ke Utara menuju Ambon. Setiba di Ambon, d'Abreu pun hanya mencatat ini itu soal posisi strategis dan dia memutuskan untuk berlayar kembali ke arah Barat, ke Malaka. Tak ada pos-pos dagang yang didirikan, tak ada orang yang ditinggalkan, sangat tidak Portugis, tetapi d'Abreu hanya menjalankan tugas seperti perintah yang diberikan oleh d'Albuquerque, misi pengenalan. Akan tetapi, lha kok ndilalah sekitar 200 km selepas Ambon, kapal yang dikomdani oleh Fransisco Serrao mengalami kerusakan karena menbrak karang. Awak kapal semua berhail selamat dan terdampar di sebuah pulau karang kecil. Dari tempat itu mereka berhasil "memanggil" sebuah kapal lokal, tapi dasar Portugis gila dan tak tahu terima kasih, kapal penolong itu malah dibajak ... diambil alih. Mereka lantas berusaha berlayar kembali ke Ambon, tetapi nyasar dan malah terdampar di Seram.
Sultan Abu Lais dari Ternate yang mendapat kabar tentang para pelaut Portugis yang terdampar itu, lantas memerintahkan agar mereka dijemput dan dibawa ke Ternate. Dia melihat, para prajurit ini bisa menjadi sekutu yang berguna jika terjadi konflik dengan kerajaan di sekitarnya seprti Tidore, Gilolo (Halmahera) atau Bacan. Begitulah, pada tahun 1512, orang Portugis pertama tiba di Ternate yang saat itu merupakan penghasil cengkeh terbesar di dunia. Fransisco Serrao kemudian memutuskan untuk tinggal di Ternate, membangun benteng dan gudang rempah, mengawini perempuan Jawa, menjadi pedagang rempah dengan memanfaatkan perahu-perahu dari Jawa dan Makassar. Serrao juga berkorespondensi dengan rekan-rekannya di Eropa termasuk dengan sang sepupu, Ferdinand Magellan. Berita dari jauh ini juga di dengar oleh para petinggi dan saudagar Spanyol yang lantas memutuskan untuk mengirim ekspedisi untuk kembali mencari jalur pelayaran yang lain dengan jalur yang dikuasai Portugis untuk menuju pulau rempah-rempah. Maka berangkatlah sang pesohor sejarah dan sepupu Serrao, Ferdinand Magellan yang telah membelot dari Portugis ke Spanyol, pada tahun 1519 menuju tanah rempah-rempah ... ke arah Barat melalui Amerika. Kisah pelayaran Magellan sudah saya ceritakan dibagian dua dari seri tulisan ini.
Serrao tetap berada di Ternate dan meninggal tahun 1521. "Undangan" Serrao kepada Magellan untuk bertemu di Ternate, tidak pernah terlaksana. Keduanya meninggal dunia pada tahun yang sama jauh dari tanah air mereka di Portugis. Magellan tewas di Mactan, Philippina, sementara Serrao meninggal dunia di Ternate.
Sepeninggal d'Abreu, Portugis kembali mengirimkan beberapa ekspedisi ke Banda dan Maluku untuk mendapatkan dan menguasai sumber-sumber pala dan cengkeh. Jaman itu pala hanya bisa didapat di Banda sedangkan cengkeh hanya ada di Maluku ... Portugis berhasil menguasai sumber rempah-rempah dan jalur ke pasar utamanya di Eropa ... Portugis menjadi superpower dunia.
Berikutnya, kita harus mundur sedikit ke akhir abad ke-15 untuk melihat ulah Spanyol di Amerika Tengah dan Selatan, lantas loncat ke akhir abad ke-16 untuk melihat melemah dan "hilangnya" Portugis dari peta dunia, masuknya Belanda dan Inggris ke pulau rempah-rempah dan pergulatan untuk menjadi superpower dunia dengan memperebutkan sepetak kecil tanah yang ditumbuhi tanaman harum dan manis. Bumbu dapur memang gila.
Name meneerlee January 16, 2009 12:54 PM PST Cengkeh emang bnyk di maluku krn karakteristik daerah yg panas dan tanah vulkanis
yoyok August 10, 2006 12:04 AM PDT oo..gitu..mulai terkuak apa maksud mas Mbilung ttg rempah mengubah wajah dunia...
siip, nanti kalo ketemu bu guru ku yg cuantik itu aku mau ceritain berdasar cerita punya mas Mbilung aah..
biar ibu guru terkesima :D
april August 9, 2006 07:45 PM PDT tumben ga pake burung
^_^
Eny August 9, 2006 05:48 PM PDT wuihh..mocone wae nganti mengkis2 pakdhe :D ndahnio sing nulis yo... sakti tenan yo polo kui...."manggutmanggut"
balung August 9, 2006 05:06 PM PDT pak dhe... kalo urusan peyut emang bikin orang pada kalang kabut yah....
orang ternate August 9, 2006 04:27 PM PDT bener lho ternate penghasil lada terbesar... ha wong ladane seupil-upil...halah!!!
paklik, sampeyan bar nguntal buku sejarah po??? kekekekeke (dadi nglangut)
nengjeni August 9, 2006 12:44 PM PDT Katanya siih, cengkeh sudah lama dikenal oleh masyarakat Cina, terutama dinasti Han yang berkuasa sejak 207 BC! Pada jaman itu, siapapun yang akan menghadap raja diwajibkan mengulum cengkeh agar mulutnya berbau harum ketika bicara. Cengkeh juga sudah diimpor ke Mesir sejak abad kedua, dan dari sinilah awal muasalnya bangsa Barat mengenal rempah berharga ini lewat Emperor Constantine yang berkuasa pada tahun 306 – 337.
koeaing! August 9, 2006 12:19 PM PDT ik soeka sekalih degnen koweorang poenja tjrita boeng.....
Qq August 9, 2006 01:36 AM PDT Ruar biasa! Tulisannya Pakde emang bikin pikiran melayang ke zaman itu. Ngebayangin gimana hubungan yg saling terkait antar pengarung dunia masa lalu. Bumbu masak emang sakti ya? Ck...ck...ck.
Ngomong2 Pakde, mundur dikit ya. Kenapa rempah2 hanya bisa ditemukan di maluku sana ya? Apa karena tumbuhan endemik atau belum tersebar aja ke belahaan dunia laen?