Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Musim panas di Jepang ndak lengkap tanpa hanabi, begitu katanya, sebuah tradisi tua main petasan. Hanabi yang konon kabarnya sudah ada sejak jaman Shogun Ieyasu Tokugawa itu kabarnya dipertontonkan untuk pertamakalinya oleh orang Inggris kepada Ieyasu pada tahun 1613. Konon kabarnya hanabi adalah pertunjukan kembang api paling indah se-dunia dan tak seorangpun di Jepang yang (katanya) ingin melewatkan kesempatan untuk ber-hanabi. Lagipula pertunjukan kembang api tidak hanya dipertunjukan di satu tempat saja. Ada banyak sekali tempat yang menawarkan tontonan gratis ini.
Indah? tak boleh melewatkan? maka saya lantas mengangguk setuju ketika seorang teman di kantor pada hari Kamis yang lalu, tanpa peringatan lebih dahulu, mengajak saya untuk menikmati pertunjukan penuh ledakan itu. Pertanyaan saya kepada dia adalah, di mana acaranya dan berapa banyak orang yang bakal datang nonton acara bakar-bakar petasan itu. Lha wong saya itu orangnya males jalan kaki jauh dan umpel-umpelan je. Oooh dekat saja kok dari rumah dan yang nonton ndak begitu banyak, paling hanya beberapa ribu orang. Ya, beberapa ribu memang tidak banyak, karena pertunjukan di Teluk Tokyo katanya bisa dihadiri oleh ratusan ribu orang.
Maka berangkatlah kami ber-enam untuk nonton bakar-bakar kembang api. Tiba di stasiun kereta api terdekat dari tempat pertunjukan orang sudah berjejalan dengan berbagai gaya dandanan, ada yang berkimono, beryukata, bercelana pendek atau ngerok mini. Keluar stasiun tukang jual jajanan sudah berjubel di pinggir jalan sambil teriak-teriak membualkan kelezatan barang daganganya dan sesekali ditimpali suara para penunjuk jalan yang mengarahkan rombongan manusia menuju tempat pertunjukan. Itu gerombolan orang yang lebih mirip calon peserta karnaval untungnya tertib dan mau patuh untuk diatur.
Tempat pertunjukan yang saya datangi ada di tepi Sungai Tama, para penonton berjubelan di satu sisi dan para pelepas petasan di sisi lain. Acara katanya dimulai pukul setengah delapan, dan dasar Jepang, pukul setengah delapan teng petasan roket pertama meluncur ..... suiiiiiiiiiiit ... dhier, bleng, pretekpretekpretek, bleng. Orang-orang bertepuk sambil sorak-sorak. Begitulah acara yang berlangsung selama satu jam kurang sedikit itu diisi oleh segala macam rupa kembang api warna-warni yang meluncur, menyembur, meledak ndak putus-putus. Selesai pertunjukan, kisah buat saya baru dimulai.
Sebagaimana lazimnya keriaan di semua tempat, orang datang ke tempat keriaan tersebut dalam beberapa gelombang, tetapi begitu keriaan selesai, semua pulang dalam satu gelombang. Seorang kawan lantas berinisiatif untuk berjalan kaki ke stasiun kereta lainnya saja kalau tidak mau umpel-umpelan di stasiun terdekat, lagipula tempatnya tidak jauh, begitu katanya. Tidak jauh mestinya kalau tidak pakai acara jalan-jalan tanpa arah dulu ... nyasar. Akhirnya dengan diiringi napas memburu, stasiun yang tak ramai itu bisa ditemukan, lega rasanya ... lha wong kami sudah jalan setengah jam je.
Lha kok ndilalah, seorang teman yang rumahnya dekat rumah saya malah mengajak saya untuk jalan kaki saja pulang ke rumah, "tempat tinggal kita sudah dekat dari sini" begitu katanya. Ah ya sudahlah, saya temani saja kawan satu ini, toh nanti bisa naik bus ke rumah. Maklum saja, rumah saya itu ada di puncak bukit dan jalan kaki nanjak bukit di malam yang gerah seperti saat itu bukan ide bagus. Berjalanlah kami. Katanya dekat? lha kok ndak sampai-sampai toh, dan saya mulai misuh-misuh dalam berbagai bahasa daerah di tanah air. Teman itu lantas bertanya apa arti kata-kata itu. Saya katakan bahwa itu kata-kata penyemangat ... maka diapun lantas ikut-ikutan menyemangati saya dengan "kata-kata penyemangat" itu. Jaaan ... bajigur bosok tenan bocah iki.
Setengah jam kemudian tibalah kami disebuah pertigaan yang tidak saya kenal, dan teman itu berkata, "kamu belok di sini, ikuti saja jalan itu, kira-kira setengah jam kamu bakal sampai di rumah". Lho? halte busnya mana? Teman itu bilang lagi ... "ini bukan rute bus karena bus ndak akan kuat lewat tanjakan itu, bus lewat jalan satunya lagi, masih agak jauh". Heh? nanjak, setengah jam, seketika itu juga terbayanglah seraut wajah tampan yang sedang tersengal-sengal dan banjir keringet. Saya lantas bertanya, dia mau kemana, kan rumahnya dekat rumah saya? "Saya harus ke kantor saya dulu, mau ngambil skuter ... sampai ketemu lagi ya, jane ... konbanwa" sembari melambaikan tangan. Saya hanya bisa senyum asem sambil menjawab salamnya diiringi senyum ramah ... "jane kon asu".
Jan njeblug ndase tenan kawan satu itu.
Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
pengunjung setia August 16, 2006 04:34 PM PDT hmmm hanabi di teluk Tokyo kabarnya indah jadi kepengen...kalo masih mau liat hanabi boleh dicoba juga disini. Tahun ini 2x sudah hanabi disini dengan 3man hanabi...
kopiholic August 13, 2006 10:42 PM PDT gak wong jowo thok dadakno..wong jepang mayak pisan tho...huhihihihihi kesyaaan de....
tifoso August 12, 2006 01:45 PM PDT hueheuhue... kapusan wong jepang to critane... :D
mariskova August 12, 2006 01:12 PM PDT huahahaaaaa................ mestinya Pak Dhe tetep ikut sikut2an di stasiun sajah. Mana mungkin orang Jepan menang sikut2an sama kita...... *pengalaman pribadi kkekeks*
fitri August 12, 2006 09:11 AM PDT indahnya hanabi berbuah berabe di kaki dong :D (njeblugnya nyaingin hanabi-nya ya pakde hahahahah!)
yati August 12, 2006 01:56 AM PDT jadi...? hahahaha....
thuns August 12, 2006 01:20 AM PDT hanabi... sodaranya miyabi yah mas :D hehehe...