Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Lali Begins at Forty adalah topik percakapan saya dengan Kang Mas Ambyarndase barusan ini, plesetan dari adagium Life Begins at Forty. Saya sendiri lali -- lupa, bagaimana awalnya hingga istilah itu keluar, ah biarlah toh saya masih ingat intinya apa. Saya jadi ingin ndobos soal saya dan lali, yang sedikit berbeda dengan Kang Mas karena buat saya Lali Begins at Fourteen. Isi sel-sel kecil kelabu saya (meminjam istilah Hercule Poirot) memang gampang terhapus, sehingga saya jadi gampang lupa walaupun tak lantas menjadi lalijiwo (masih adakah tempat ini di Jl. Kaliurang Yogya?).
Saya itu memandang lali lebih sebagai anugrah yang perlu disyukuri. Lha apa-apa yang sudah diparingi oleh Gusti Allah itu kan mestinya disyukuri toh. Coba kita ini tidak bisa lali, apa ndak karu-karuan kita ini jadinya. Kita jadi ingat semua hal yang menyakitkan, menyedihkan, mengecewakan, menakutkan, yang ndak penting pokoknya semua diingat tak ada yang terhapus. Walaupun kalau argumennya dibalik menjadi, kita mengingat semua hal yang menyenangkan, kok ya kesannya jadi ndak seram. Hanya saja, seberapa banyakpun volume dan kerutan otak kita, kapasitasnya untuk mengingat tetap ada batasnya, sehingga kemampuan otak kita untuk menghapus kenangan menjadi penting agar tidak keluar tulisan not enough memory ... lantas hang.
Lalu seberapa sering saya lali? Sering sekali, walaupun saya tidak menenggak obat penghilang rasa sakit kepala yang katanya bisa bikin lupa itu ... teman-teman, saudara, ibu, bapak, anak-anak dan istri sering kali memberitahu saya (ini istilah halusnya lho) betapa pelupanya saya. Sejak dulu, julukan yang berkaitan dengan lali (terutama lalijiwo) kerap menjadi panggilan sayang buat saya ... marah? ya tidak juga karena memang begitulah adanya, dan lagi pula toh saya juga tidak ingat siapa yang harus saya marahi ... wis lali.
Hanya saja, ada satu lali yang membuat saya takut ... lali bojo -- lupa istri dan itu terjadi beberapa kali. Pada saat baru menikah dulu, saya sering terkaget-kaget pada saat bangun pagi atau sedang ngelilir tengah malam karena ada perempuan tidur di sebelah saya ... lha kok kayaknya kenal?? ... ooo iya ini istri saya (rentetan peristiwanya hanya terjadi sesaat kok). Pernah juga saya lali meninggalkan istri saya di supermarket ... kok kayaknya ada yang tertinggal ya? tapi apa? ... sesudah separo jalan ke rumah baru ingat. Untungnya saya tak langsung diberondong oleh istri saya, tapi ditanya "baik-baik" (ramah tapi giginya rapet) . "Dari mana?" ... "anu Jeng, saya ngisi bensin dulu tadi itu ... sudah selesai belanjanya?". Mestinya istri saya itu ya tahu kalau saya bohong, lha wong jarum penunjuk pengukur bensin tidak berubah kok, lagipula sejak kapan saya pernah pegang uang. Kalau sudah begini biasanya dia cuma melirik, sambil senyum. Tanggal dan bulan pernikahan kami persis sama dengan tanggal dan bulan ulang tahun saya. Istri saya itu memang penuh pengertian, dia tahu persis bagaimana pelupanya dan narsisnya saya ini. Coba kalau tanggal dan bulannya beda? Karena itu dia lantas saya anggap sebagai hadiah ulang tahun paling top buat saya dan hal ini tidak ingin saya lupakan. Lho ... jarang toh ada yang ulang tahun dikadoi bojo?! Malah dulu itu teman-teman saya yang pada kurang ajar itu waktu pertama kali hendak saya perkenalkan pada istri saya mereka langsung nanya "mana perempuan bernasib malang itu?" Lho?!
Di Jepang sini yang namanya lali itu harus ditebus dengan mbungkuk-mbungkuk sampai capek, meminta maaf karena lupa. Di sini orang tak boleh lupa, dan buat para pelupa lantas dibuatlah mesin pengingat yang kadang disatukan dengan alat lain seperti jam atau telepon genggam. Maka, seringnya telepon genggam seseorang meraung-raung tak berarti sang pemilik itu populer, bisa saja sang pemilik itu pelupa. Tidak boleh lali menyebabkan banyak orang Jepang lantas jadi lalijiwo, tak lagi berpikir sehat (saya cuma "nuduh" lho ya, atau halusnya menebak secara empiris ... educated guess ... he he). Lha bagaimana tidak, selama saya di sini entah sudah berapa kali ada kejadian kereta api terlambat. Bukaaaaan, bukan karena masinisnya lali, tapi karena ada yang menabrakkan diri ke kereta yang sedang melaju kencang. Kalau sudah begini, seluruh jalur yang terkait dengan jalur dimana bunuh diri terjadi lantas berhenti.
Bagaimana saya tidak mengatakan orang itu lalijiwo, selain karena orang itu menghilangkan nyawanya sendiri dia juga membuat keluarganya bangkrut. Keluarganya harus membayar ganti rugi akibat perbuatannya itu kepada para konsumen yang merasa dirugikan oleh kelakukannya itu melalui perusahaan kereta api yang keretanya dipakai untuk bunuh diri. Besarnya ganti rugi yang harus dibayar oleh "para ahli waris nombok" ini sekitar 100 juta Yen, bahkan pernah ada yang harus membayar 140 juta Yen (lebih dari 10,6 milyar Rupiah). Herannya lagi, waktu yang dipilih sering kali bertepatan dengan jam-jam sibuk saat orang-orang hendak berangkat kerja atau pulang kerja. Jadilah gerutuan (dalam kasus ekstrim mungkin sumpah serapah) berjuta orang yang mengiringi kepergiannya (Stasiun Shinjuku saja melayani lebih dari 3 juta orang per hari). Jika stasiun Shinjuku dipakai untuk bunuh diri maka paling tidak ada 11 jalur layanan (lines) kereta yang bisa terganggu.
Lali memang sudah menjadi sifat manusia, begitu kata orang bijak, dan lali tidak kenal umur. Walaupun ada banyak hal yang katanya harus selalu diingat -- tak boleh dilupakan. Perkara setelah usia empat puluh lali lantas menjadi kebiasaan saya belum nemu ada statistik yang menunjukan bahwa itulah usia rata-rata bagi berkuasanya sifat lali tadi. Kita perlu lali dalam kadar yang tepat untuk tidak lalijiwo, karena terlalu sering lali jadi merugikan diri sendiri (dan orang lain). Lali menyampaikan pesan atau lali bagaimana pesan itu seharusnya disampaikan juga berbahaya, misal: pesan aslinya berbunyi begini "Pak ... Boyolali, Bojonegoro, kacau balau". Pada saat pesan itu sampai ke tujuan bunyinya jadi begini: "Pak Boyo lali bojo negoro kacau balau". Ndak sehat ini.
Hanya saja ada jenis lali lain yang justru membuat kita jadi tambah sehat dan bugar lho, yaitu lali santai, lali pagi dan lali gembila .... *kriuuk .. garing .. biarin, dari pada kusut seperti lali lemali?*
aku lali tenan pakdhe sebenernya mau komen apa disini, nanti kl inget balik lagi ya ;)
ilingjiwo August 23, 2006 05:43 PM PDT sik tho...iki mau blog e sopo tho yo?
nananias August 23, 2006 10:28 AM PDT saya malah ndak pernah lali om kecuali ... doooohh aku kok lali yo kapan aku lali :p
restituta August 22, 2006 10:26 PM PDT saya juga mulai sering dihinggapi penyakit lali sementara, padahal umur masih jauh dari usia forty. berarti (mungkin) saya termasuk generasi lali begins @ fourteen ya.
kemampuan mengingat padanan nama juga kadang kacau. pernah pergi ke warung mau beli kopi kapal api, nyebutnya kok kopi kapal merah... oalah.. pantesan bapak penjaga warungnya bengong...
untung saya belum pernah salah nyebut pempek kapal selam jadi pempek kapal pesiar.. hahaha...
zam August 22, 2006 10:05 PM PDT loh? iki opo toh?
Rara August 22, 2006 07:41 PM PDT Lha yg parah, saya ini sudah mengidap "premature lali nan"..
chantee August 22, 2006 09:28 AM PDT walah..penyakit lali juga tho :D
sama, chan2 suka lali td udah makan apa blm padahal baru 1 jam trus suka mimpi tapi lali mimpinya apa :D
Moes Jum August 22, 2006 05:15 AM PDT Gara-gara libur ... aku sampe "lali" ngup-date blog-ku ... hehehe
tifoso August 22, 2006 02:32 AM PDT btw, bunuh diri di jepang mahal banget yak...? :P
mariskova August 22, 2006 02:03 AM PDT Sesaat sebelum menikah, saya bertanya pada si Papap,
"Kita pesen cincin dimana nanti?"
"Cincin?"
"Iya, cincin. Benda bundar yang dipake di jari."
"Memangnya beli cincin buat apa?"
"............"
Habis itu saya dihadiahi jam tangan lawas supaya gak ngambek lama2...
aku August 22, 2006 01:34 AM PDT lalian yo,mas?same thing here. aku agak lebih ngawur,ada beberapa moment yg ilang sama sekali. kyknya sama sekali gak kerekam. jadi lumayan sering diomelin temen2ku.."itu lho,waktu itu yg di parangtritis,yg kita nginep di rumah si anu 2 hari.." hah?? parangtritis? kapan? nginep 2 hari? emang pernah?yg kapan sih? hehe..parah kan..yg 2 hari itu dan semua yg terjadi di dalamnya sm sekali gak ada jejaknya di otakku. vanished. boom. ilang begitu saja. malah medeni tho?