Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
HHari Kamis kemarin saya resmi memasuki masa turne (turu mrono mrene), keliling dari kantor ke kantor seperti penilik sekolah. Lha ... masa-masa paling awal dari musim turne kali ini dimulai dengan kejadian mendebarkan dan bakat ndobos saya terbukti berguna banyak. Sampeyan masih ingat kan kalau saya itu punya sifat lali - pelupa yang agak-agak parah? Naaah, semua dimulai dari situ. Begini kisahnya.
Penerbangan pertama, Tokyo - Singapura, jam berangkat 11:30 waktu Tokyo. Halaaaah, ini artinya saya ndak bisa berangkat dari rumah, bisa kesiangan sampai di Bandara Narita. Ya sudah, tidur di hotel saja di Tokyo, cari yang dekat stasiun kereta api di Shinjuku. Penyakit insomnia saya masih belum sembuh, seperti biasa baru bisa tidur setelah lewat jam 3 pagi. Berhubung saya tidak membawa jam kesayangan penggugah tidur, saya pasang alarm yang ada di HP saja, jam 6:30 agar tak terlambat untuk naik kereta jam 7 pagi dari Shinjuku. Alarm terpasang, tidur lelap.
Kali itu saya bangun paginya sueeeger pol, lebih dulu dari alarm! Lho hebat ini. Akan tetapi...kok di luar terang sekali ya? Lho, jam tangan saya menunjukan pukul 8:30 kurang sedikit??? ... he!!!! Lha kok?!! Lupa ... terakhir kali jam di HP itu di set untuk Waktu Indonesia Bagian Barat dan jam 6:30 WIB itu sama dengan jam 8:30 waktu Tokyo. Sudah, ndak pake mandi langsung ngacir ke stasiun. Tiba bermandi keringat hanya untuk kecewa, karena kereta berikutnya baru ada jam 9:40 dan tiba di Narita jam 10:57, padagal itu counter chek-in tutup setengah jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat, lha dari stasiun kereta ke counter masih agak jauh, bakal ketinggalan pesawat ini. Sudahlah, tak ada pilihan, saya akan coba menghubungi perusahaan penerbangan itu saja dari kereta.
Saya lantas menelpon ke perusahaan penerbangan itu di Narita. Suara merdu menjawab, dan dengan sopan mereka bilang saya tidak akan bisa berangkat, kalau mau pakai penerbangan berikutnya saja yang jam 7-an malam. Lha, ndak bisa, karena penerbangan koneksi saya berikutnya itu jam 9 waktu Singapura, dan tiket yang dari Singapura itu ndak bisa diganti waktunya (murah sih!). Pemecahannya, ganti penerbangan yang dari Tokyo dan beli tiket baru untuk yang dari Singapura. Hajinguk, beli lagi!!! Mulailah perundingan yang tampaknya sia-sia itu dilakukan, hingga akhirnya sang suara merdu menang, saya harus mengambil penerbangan berikutnya dan ganti tiket yang dari Singapura, titik. Saya mulai menyerah, opsi itu saya ambil dan suara merdu meminta nama saya untuk pembelian tiket sambungan dari Singapura. nama diberikan dan rincian lain juga termasuk kartu keanggotaan penerbangan itu.
Tiba-tiba ... suara merdu bertanya "Are you a gold member?" saya jawab "Yes I am, dan sudah lama", ujug-ujug ada kosa kata baru yang keluar dari suara merdu ketika memanggil saya ... MISTER dan SIR ... lantas diikuti dengan nama lengkap saya. Begini katanya "Mister Mbilung, kalau tuan bisa tiba di counter sebelum pintu pesawat ditutup, kami masih bisa memasukan tuan ke penerbangan ini Sir". Ooo begitu?? ... hokeh. Tiba di Narita tepat jam 10:57, sampai di dekat counter sekitar jam 11:10-an, dua puluh menit sebelum jadwal keberangkatan. Jahil ... saya ndak langsung ke counter, tapi saya tunggu dulu, betul nggak janji mereka.
Lenggang kangkung saya ke counter jam 11:15, ho ho ho ... ada panitia penyambutan, koper, tiket dan passport saya langsung diambil, dan salah satu petugas berkata, "Mister Mbilung, anda ternyata sudah melakukan check-in online Sir, tetapi bangku yang anda pilih sudah kami berikan ke penumpang lain dalam daftar standby". Muka kecewa saya langsung terpampang jelas dan ndobos kalau saya kecewa .... "Begini saja Mister Mbilung, kami masih ada bangku kosong, kalau tuan berkenan, kami bisa pindahkan anda Sir". Saya mengangguk, masih dengan tampang kecewa. Boarding pass diberikan, daaaaaan...boarding pass itu tidak dengan warna seperti biasanya .... baca ... haiyaaaaaaa .... kelas bisnis!!! sumringah langsung keluar tapi tampang datar dipaksa untuk dipasang. Begitulah, dengan diantar oleh seorang mbak manis kami berlari menuju pintu keberangkatan, imigrasi lancar dan cangkingan tidak lagi diperiksa. Duduk manis di kursi lebar dan minuman, handuk hangat serta senyum manis menyambut kedatangan Sir Mbilung.
Sudah selesai ndobosnya? belum. Saya langsung memanggil salah satu awak kabin dan bertanya "apa nomer registrasi pesawat ini" (saya memang hobi nyatet begini), kebingungan di wajah awak kabin berbaju ketat banget itu langsung saya timpali "saya suka mencatat semua detail penerbangan saya untuk diceritakan". "Ah I see, you are a writer, right Sir?", mengangguk sayanya, dan saya ndak bohong ... kan saya sering nulis buat blog saya ini.
Penerbangan agak panjang itu kemudian diisi dengan limpahan makanan, minuman dan senyuman, yang setiap akan dihidangkan selalu diawali dengan pertanyaan, "Mister Mbilung ... bade kersa ngunjuk lan dahar?" Selalu dijawab dengan anggukan ... "kopi Mbak!" ... "Sendiko dawuh Mister Mbilung, ini daftar jenis kopi yang tersedia Sir". Bingung sayanya, lha wong namanya aneh-aneh je, mana kopi tubruk ndak ada di daftar ... "what do you recommend?" ini jawaban tipikal saya buat ngeles kalau bingung. Pertanyaan-pertanyaan kecil dari para awak kabin lantas rajin datang, seperti "sering bepergian? sudah ke mana saja? memakai penerbangan apa saja?, dll", semua bisa saya jawab dengan baik, tanpa harus "berbohong" ... betul, saya ndak bohong saya hanya economical with the truth.
Begitulah sodara-sodara ... tampaknya saya harus ganti nama menjadi Sir Mbilung Lord of Ndobos ... sampeyan setuju?
Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Jarwadi October 15, 2009 12:58 AM PDT tika punya temaaaaaaaaaaaaaaan
wara August 26, 2006 05:56 AM PDT Ne' kuwi uji nyali jenenge to..... uji nyaline..... petugas penerbangan.... he he he he
TIto August 25, 2006 08:21 PM PDT Sudah saya duga sebelumnya, postingan berikutnya pasti tentang burung. Betul, kali ini "burung besi". Aku kok penasaran sama si suara merdu.
gandrik August 25, 2006 06:40 PM PDT setuju banget... One Ndobosan to Rule Them All...
aku dulu pernah dimintai boarding pass waktu ke lavatory di bisnis klas yg paling depan (aku lingguh di bisnis klas bagian mburi), beginilah nasib tampang kere - masih aja dicurigai sebagai penyelundup...
Reza August 25, 2006 06:12 PM PDT rejeki nomplok kalo jadi gold finger eh member yah mas :)
Eny August 25, 2006 05:49 PM PDT sendiko dawuh, sir :D
yoyok August 25, 2006 04:46 PM PDT kata almarhum Kasino...
"Yah, namanya juga usahaaa...."
Iya gak mas ? eh Sir !
;)
Indie August 25, 2006 03:15 PM PDT Dakyu sih bukan Setujuh lagee tapi SEPULUH gituuuuuu !!
"Lord of Ndobos" hihihi lucu jugakkk .....
mariskova August 25, 2006 03:09 PM PDT Ntar di ketemuan di shinjuku, saya pinjem gold cardnya ya hehehehe...
-uTHe- August 25, 2006 02:41 PM PDT SETUJUUUUU!!!
*pake huruf gede semua*
(^-^)
tifoso August 25, 2006 11:57 AM PDT waah... ra mutu tenan ki... :D
wes telat salahe dhewe koq malah entuk bisnis klas... :P
sip.. Sir Mbilung Lord of Ndobos ini memang top markotop.. la nek ini temennya temen saya, yang ngaku-aku Priyayi Sae penguasa Jalur Selatan itu.. wahahaha..
eh, sir... di Jepun itu bisa boso Jowo kromo mekaten nggih? weeh... keren-keren... hakakakak
fitri August 25, 2006 09:54 AM PDT siap sir. nggak ada lagi pakde-pakdean setelah ini dehh :D
Moes Jum August 25, 2006 04:51 AM PDT mbahku dulu pernah bilang kalo model2 orang kayak gini ini disebut sebagei "kemlinthi" alias sok jago ... jago adol abab ..... hehhehee. Padahal udah telat karena salahe dhewe, tapi masih aja nyoba ngetes ...