Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Minggu kemarin itu saya menghadiri mantenan keponakan perempuan saya yang paling besar. "Pakde...pokoknya kakak nggak mau tahu, De harus pulang kalo kakak nikah!" Namanya juga keponakan jaman sekarang, ndak dituruti bisa diprenguti berabad-abad sayanya. Maka sayapun mematuhinya. Tidak ada yang aneh dari perhelatan pernikahan dengan adat Betawi itu, saya sangat menikmati pertunjukan "buka palang pintu" yang dipenuhi adu pantun dan pencak silat. Malah yang adu silat, sangking semangatnya hampir nibani meja penuh minuman untuk suguhan tamu. Meja selamat, minuman juga selamat, hanya pesilatnya harus mendarat di lantai beton.
Kakak Ina, begitu saya memanggil ponakan centil satu itu, sudah menikah! Kalau kakak dan suaminya "bekerja cepat", dalam waktu yang relatif tak lama lagi saya akan mendapat julukan baru .... "Eyang Mbilung". Sebuah prospek yang ditanggapi sebagai hal yang "menakutkan" bagi beberapa saudara sepupu. Saya sendiri? takut? justru sebaliknya, saya sangat senang dan berharap semoga kakak dan suaminya lekas berhasil memperoleh putra atau putri ... atau dua-duanya saja sekaligus kalau bisa.
Banyak dari Bude, dan Bulik saya yang emoh dipanggil eyang oleh anak-anak saya. "Panggil Tante saja ya...", maka demi menghormati maunya orang yang lebih tua itu, anak-anak saya lantas memanggil mereka dengan sebutan Tante. Konsekuensi logisnya, mulai saat itu sayapun jadi "kurang ajar" dengan memanggil mereka tanpa embel-embel Tante, Bulik atau Bude, langsung nama kecil mereka saja. "Eni mana? Tiek kok Bakat (nama suaminya) ndak diajak sih? Mi ... kopiku mana?"
Kalau anak-anak saya lantas dibanjiri hadiah dengan menurunkan tingkat penyebutan dari Eyang ke Tante, maka buat saya yang ikut-ikutan menurunkan tingkat penyebutan juga dibanjiri hadiah ... dikeplak. Ah ... saya memang masih sulit untuk memahami apa maunya mereka-mereka itu. Yaaah sudahlah, mudah-mudahan kakak segera punya momongan, dan saya ingin tahu juga, minta dipanggil apa mereka nanti oleh anaknya kakak. Walaupun saya kok yakin mereka bakal ogah dipanggil Yangyut (eyang buyut).
"Eyang Mbilung, nomer buntut yang keluar besok apa ya?" ... dasar bocah ... kalo tahu besok keluarnya apa, saya udah masang duluan. He he he ... Eyang Mbilung.
Posted at 02:27 pm by Sir Mbilung
I&T October 1, 2006 01:41 AM PDT Lho.. kok, kami berdua taunya dari sini ya... waktu ke bogor terakhir kaya'nya nggak pernah ada ceritanya.. -rwkpi200
Moes Jum August 29, 2006 05:38 AM PDT Wahh mbah ... mbah ... njenengan itu pancen wis tuwek elek dan ngentutan koq, jauh sebelum si Kakak punya momongan. Pasti nanti kalo anaknya Kakak lahir panggilan njenengan Simbah "rambo" Mbilung
Luthfi August 29, 2006 01:15 AM PDT alah, itu paling ben isih ketok enom ....
Rara August 28, 2006 06:43 PM PDT Yang.... *menye2* Yang Kung.. *mbengok*
hadik August 28, 2006 03:57 PM PDT Mbah Mbilung...mbok saya dikasih jampi2 supaya cepet kaya....
ato kalo ngga ya dikasih jampi2 pengasihan yang mirip aji "jaran goyang" itu loh...