Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Foto di sebelah saya ambil tadi pagi di lorong bawah tanah penghubung peron-peron stasiun. Di bagian tengah foto itu ada sebuah cermin. Cermin bagi orang-orang yang hendak mematut diri setelah sebelumnya berlari-lari sehingga dandanannya rusak (mohon lihat pendobosan saya sebelum ini).
Berbagai gaya orang bisa disaksikan pada saat sedang bercermin. Ada yang hanya sekedar merapihkan tatanan rambut dengan tangan, ada pula yang lantas merasa perlu untuk mengeluarkan sisir. Beberapa bahkan ada yang mengeluarkan beauty enhancement tools lengkap dari mulai pewarna bibir, pewarna alis, pupur sampai benda-benda yang saya tak kenal. Tampaknya upaya untuk terlihat kinclong agar layak pandang telah menjadi sebuah kebutuhan yang tak mengenal umur dan jenis kelamin.
Saya lantas ingat sebuah percakapan lama dengan seorang kawan pada saat kami berdua masih bujang. Dia bertanya kepada saya, apakah perempuan idaman saya itu adalah yang berkarakteristik agar-agar atau ember. Karakteristik agar-agar memiliki penampakan sangat menarik -- mengundang selera --, kinclong sekaligus memberi kesan sejuk dan lembut. Karakteristik ember lain lagi, tak semenarik agar-agar, kukuh, pejal dan nyaris tak dilirik. Memiliki perempuan agar-agar sangat merepotkan, harus dibawa dengan hati-hati, kalau tersandung agar-agar bisa jatuh. Kalau agar-agar jatuh, tak ada suaranya tetapi hancur berantakan .... beyond repair. Sementara perempuan ember membawanya bisa santai, bisa sambil diayun-ayunkan, tak takut tersandung. Kalau ember jatuh, suaranya memang berisik tetapi ember tetap utuh ... low maintenance.
Agar-agar atau ember, sekedar nyisir atau menggincu saya dari tadi itu ndobos soal apa yang terlihat sedangkan yang tak terlihat saya tidak bisa ndobos soal itu, karena itu soal rasa.
Kembali lagi ke soal cermin di stasiun, saya tadi melakukan sedikit "penelitian" -- mengamati berapa orang yang menggunakan cermin itu selama setengah jam. Hasilnya: empat belas orang -- 5 perempuan, 9 laki-laki. Saya lantas memutuskan untuk menjadi laki-laki ke sepuluh ... mirror mirror on the wall, who's the most handsome one of all ...
Posted at 02:41 pm by Sir Mbilung
Cepot April 1, 2006 04:52 PM PST Lantas apa jawaban si Mirror? Sampeyan kah, yang paling handsome di antara 10 laki-laki itu?
dewe wae April 1, 2006 12:57 AM PST Cermin juga bisa jadi alat bantu untuk menyelamatkan gangguan fungsi hati (sedih, iri, kemaruk, kecewa, depressi dan sejenisnya)....!, jadi aku setuju kalau cermin dipasang di mana-mana sehingga setiap saat orang (terutama aku) bisa selalu berobat dan bertobat. tapi ada sedikit pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa aku jawab, tentang Petuah tua-tua " buruk rupa cermin di belah", na yang kasihan itu Tukang kaca ya..., masak semua Tukang kaca buruk rupa...???????