Membaca tulisan Kang Mas Pecas Ndahe soal busana patung, mengilhami saya untuk mengisi hari Minggu ini dengan meluntang-lantungkan diri ke kawasan Ginza di Tokyo, hanya saja sasaran saya bukan patung. Kawasan ini dikenal sebagai tempat orang unjuk busana dan dandanan, begitulah ceritanya. Karena musim semi baru saja tiba dan udara dingin serta angin kencang masih tersisa, maka saya membungkus diri serapat mungkin. Tak lupa masker penyaring serbuk sari.
... para pemudi dengan rok berketinggian ekstra serta orang-orang dengan busana seperti habis dicabik-cabik Godzilla, apa nggak pada kedinginan?
Begitu keluar dari stasiun kereta, pemandangan yang bisa bikin Kang Mas Pecas Ndahe berkeping-keping pun tersaji. Saya lantas duduk untuk menikmati pemandangan yang terhampar. Rambut warna-warni ungu bercampur hijau atau biru bercampur merah melambai-lambai, kaca mata hitam bertenggeran walaupun cuaca saat itu mendung. Para pecel lele (Pemuda/i Celana Lebar-Lebar), para pemudi dengan rok berketinggian ekstra serta orang-orang dengan busana seperti habis dicabik-cabik Godzilla, ada di mana-mana. Tiba-tiba saya merasa asing di sini karena kostum saya seperti keluar dari tema. Saya tidak mempermasalahkan apakah yang dipakai itu senonoh atau tidak -- saya tidak "konservatif" untuk soal yang satu ini -- yang bikin saya heran itu, apa nggak pada kedinginan?
Rasa dingin mungkin adalah harga yang harus dibayar oleh mereka agar mereka bisa mengekspresikan diri dan itu bisa menimbulkan rasa senang di hati -- ongkos kelakuan. Sama seperti saya yang harus berendam di rawa dan dirubung lintah pada saat mengamati burung, Pak De Kere Kemplu yang lantas menjadi objek tontonan pada saat memotret sebuah papan reklame yang sudah dijahili atau adik Dinda yang harus rela dilucuti agar bisa diluluri. Ada rasa senang serta puas hati sesudahnya. Mungkin rasa puas hati itu juga yang menyertai para pematung setelah dia mematungkan objek dengan busana tak lengkap seperti yang ditulis oleh Kang Mas Pecas Ndahe. Perkara apakah yang melihat hasil dari kelakuan tersebut lantas terpesona, terkikik atau malah mecucu sambil mengerutkan dahi, kembali ke soal rasa.
Kembali ke soal muhibah singkat saya ke Ginza, pada akhirnya saya tidak lagi merasa asing, karena saya mengenakan sesuatu yang beda dengan yang lain. Saya merasa hangat dan hati saya senang. Saya pun lantas bangkit dari duduk dan mulai berjalan dengan mantap. Balenggang pata-pata, ngana pe goyang pica-pica, ngana pe bodi .... poco-poco ....