Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Sunday, April 02, 2006
Baju Poco-Poco

Membaca tulisan Kang Mas Pecas Ndahe soal busana patung, mengilhami saya untuk mengisi hari Minggu ini dengan meluntang-lantungkan diri ke kawasan Ginza di Tokyo, hanya saja sasaran saya bukan patung. Kawasan ini dikenal sebagai tempat orang unjuk busana dan dandanan, begitulah ceritanya. Karena musim semi baru saja tiba dan udara dingin serta angin kencang masih tersisa, maka saya membungkus diri serapat mungkin. Tak lupa masker penyaring serbuk sari.


... para pemudi dengan rok berketinggian ekstra serta orang-orang dengan busana seperti habis dicabik-cabik Godzilla, apa nggak pada kedinginan?

Begitu keluar dari stasiun kereta, pemandangan yang bisa bikin Kang Mas Pecas Ndahe berkeping-keping pun tersaji. Saya lantas duduk untuk menikmati pemandangan yang terhampar. Rambut warna-warni ungu bercampur hijau atau biru bercampur merah melambai-lambai, kaca mata hitam bertenggeran walaupun cuaca saat itu mendung. Para pecel lele (Pemuda/i Celana Lebar-Lebar), para pemudi dengan rok berketinggian ekstra serta orang-orang dengan busana seperti habis dicabik-cabik Godzilla, ada di mana-mana. Tiba-tiba saya merasa asing di sini karena kostum saya seperti keluar dari tema. Saya tidak mempermasalahkan apakah yang dipakai itu senonoh atau tidak -- saya tidak "konservatif" untuk soal yang satu ini -- yang bikin saya heran itu, apa nggak pada kedinginan?

Rasa dingin mungkin adalah harga yang harus dibayar oleh mereka agar mereka bisa mengekspresikan diri dan itu bisa menimbulkan rasa senang di hati -- ongkos kelakuan. Sama seperti saya yang harus berendam di rawa dan dirubung lintah pada saat mengamati burung, Pak De Kere Kemplu yang lantas menjadi objek tontonan pada saat memotret sebuah papan reklame yang sudah dijahili atau adik Dinda yang harus rela dilucuti agar bisa diluluri. Ada rasa senang serta puas hati sesudahnya. Mungkin rasa puas hati itu juga yang menyertai para pematung setelah dia mematungkan objek dengan busana tak lengkap seperti yang ditulis oleh Kang Mas Pecas Ndahe. Perkara apakah yang melihat hasil dari kelakuan tersebut lantas terpesona, terkikik atau malah mecucu sambil mengerutkan dahi, kembali ke soal rasa.

Kembali ke soal muhibah singkat saya ke Ginza, pada akhirnya saya tidak lagi merasa asing, karena saya mengenakan sesuatu yang beda dengan yang lain. Saya merasa hangat dan hati saya senang. Saya pun lantas bangkit dari duduk dan mulai berjalan dengan mantap. Balenggang pata-pata, ngana pe goyang pica-pica, ngana pe bodi .... poco-poco ....


Posted at 04:50 pm by Sir Mbilung

[em-eijs]
April 3, 2006   09:49 PM PDT
 
wah kereeen. THAT's a spirit
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry