Shinjuku Akhir Musim Panas
Shinjuku, salah satu dari 23 special wards yang bersama-sama dengan Tama membentuk Metropolitan Tokyo. Shinjuku bisa dibilang salah satu tempat tersibuk di seantero Jepang. Shinjuku juga tempat stasiun kereta api paling sibuk se-dunia. Gedung-gedung dengan banyak lantai menjulang-julang nyundul awan (haiyah ngarang!), berhimpitan dan membuat jalan-jalan kecil di antara gedung-gedung itu seperti terowongan angin yang tak bersahabat bagi perempuan penggemar rok berbahan halus dan ringan atau pengguna payung.
Gedung-gedung pertokoan, restoran, tempat-tempat minum, kantor pemerintah, sekolah dan hotel saling berdesakan seperti halnya orang-orang penghuni Shinjuku. Tak kurang dari 16 ribu orang berjejalan per km perseginya di Shinjuku, itu baru penghuni tetap. Para pekerja yang tinggal di luar ward Shinjuku menambah jejalan itu di hari-hari kerja. Jalur-jalur jalan raya dan kereta api nyaris tak pernah sepi di Shinjuku.
Di tengah hiruk pikuk seperti itu Shinjuku masih menyisakan keramahan alami dengan taman-tamannya. Dua taman untuk umum yang besar, Shinjuku Gyoen dan Shinjuku Central, yang ditata apik menawarkan kesejukan di tengah musim panas yang gerahnya ngalah-ngalahin Jakarta. Maka sesekali boleh juga saya melarikan diri dari kantor untuk rebah-rebah di bawah pohon sambil nonton tingkah burung-burung. Sebuah kemewahan yang sebentar lagi bakal hilang, musim gugur sudah mulai nyenggol-nyenggol dan angin dingin kadang datang tiba-tiba. Burung-burung juga sudah mulai beterbangan ke selatan, bermigrasi, beberapa akan berdiam untuk sementara waktu di Indonesia. Hanya gagak, merpati dan burung gereja yang masih mudah untuk dilihat dan mereka tak akan pergi ke mana-mana. Selamat tinggal musim panas, sampai ketemu tahun depan.