Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Mari kita nJepang lagi, kali ini sekilas soal pedang, penggunanya dan peruntukannya, siapa tahu ada yang berminat main tusuk dan gorok ala Jepang, walaupun saya tidak bermaksud menganjurkan permainan penuh darah begini, tuberok ... bukan turun berok tetapi tusuk, tebas dan gorok. "Permainan" yang pada suatu masa yang telah lama lewat di Jepang sini adalah soal kehormatan dan jalan seorang kesatria yang dilakukan oleh para lelaki dengan potongan rambut yang "aneh".
Banyak orang di Indonesia menyebut pedang panjang khas Jepang dengan nama Samurai. Padahal Samurai sendiri adalah nama untuk seseorang yang mengabdi sebagai tentara kepada seorang bangsawan, dan kata Samurai sendiri secara harafiah berarti melayani. Seorang Samurai biasanya menyandang paling tidak dua buah pedang, yang satu panjang dinamai Katana dan yang satu lebih pendek dinamai Wakizashi. Jika Katana bisa ditinggalkan atau dititipkan pada saat seorang Samurai datang ke rumah seseorang, Wakizashi terus menempel di pinggang, pantang dilepas. Waktu tidurpun Wakizashi ditaruh di bawah bantal sang Samurai. Sering juga seorang Samurai menyandang pedang lain (atau lebih tepatnya pisau) yang ukurannya lebih kecil dari Wakizashi, yang disebut Tanto.
Katana dirancang untuk menebas atau mengiris pada pertarungan jarak dekat, walaupun bisa juga dipakai buat menusuk. Penggunaan Katana haruslah orang yang betul-betul jagoan pedang untuk mendapatkan hasil yang optimal. Salah-salah pakai, malah bilah pedangnya yang rusak. Jika Katana sedang tidak tersedia, perannya digantikan oleh Wakizashi dan di tangan seorang jagoan pedang bekas tebasan Wakizashi bisa tak terlihat. Kadang Wakizashi digunakan dalam ritual Seppuku, walaupun dalam ritual tersebut Tanto adalah alat yang pas untuk mengoyak perut. Tanto sebenarnya dirancang untuk menusuk dan mengiris. Ini dia senjata kesukaannya para ninja, kecil, enteng dan pas buat tugas yang pantang ada ribut-ributnya. Saat ini Tanto adalah senjata favorit para Yakuza, para penjahat Jepang yang terorganisir.
Seppuku adalah upacara untuk bunuh diri dan di luar Jepang lebih populer dengan istilah Harakiri, walaupun di Jepang sendiri istilah Harakiri dianggap sebagai istilah yang kasar. Ritual Seppuku biasanya memerlukan keterlibatan aktif paling tidak dua orang, satu yang mau bunuh diri dan satu lagi adalah pendampingnya (Kaishakunin) yang bertugas memenggal kepala orang yang melakukan Seppuku. Hanya saja, dalam pemenggalan itu leher yang dipenggal tidak boleh betul-betul putus, harus ada daging yang membuat kepala yang dipenggal tetap menempel pada tubuhnya. Lha...sulit ini, oleh karenanya sang pendamping haruslah jagoan pedang juga.
Sepuku biasanya dilakukan dengan upacara yang rada njelimet (Jepang ... apa sih yang ndak njelimet?). Yang mau bunuh diri mandi dulu bersih-bersih, lantas pakai pakaian putih-putih, makan dulu, lha baru sesudahnya siap-siap untuk tusuk dan iris dimulai. Duduk manis dengan Tanto diletakkan di depannya. Sabaaarrr ... nulis puisi dulu. Selesai, baru itu Tanto diambil lantas ditusukan ke perut agak ke kiri lantas Tanto digeser ke kanan, yang terakhir ke atas dikit biar ususnya keluar. Selesai, baru sekarang giliran Kaishakunin beraksi menyabet lehernya. Tanto bekas pakai tadi lalu diletakkan di piring bekas makan tadi.
Hanya saja pendamping untuk Seppuku hanya untuk orang yang Seppukunya untuk menjaga kehormatan. Misalnya, kalau seorang Samurai tertangkap oleh musuh, maka seorang pendamping akan ditugaskan untuk memenggalnya. Jika Samurainya itu Samurai mbeling yang nyolongan, tukang korupsi atau jadi penjahat kacangan lainnya .... ya tak ada pendamping, dibiarkan mati saja dengan kesakitan sampai kehabisan darah.
Lha ndobos saya ini asalnya dari cerita seorang kawan Jepang yang belum punya pengalaman sama sekali dalam melakukan Seppuku, jadi kalau ada salah-salah atau kurang-kurang ... ya dimaklumi saja, namanya juga dia cuma jago teori ndak pernah praktek sama sekali. Kalau saya? wong saya itu tukang ndobos, kok ditanya soal Seppuku. Soal ini saya kan taunya ya cuma seppuku dua pukku saja.
bebex September 29, 2006 03:47 PM PDT peristiwa TERHORMAT!!!!
yoyok September 28, 2006 05:54 PM PDT wah cerita ini aku jadi inget Taiko...
bangsari September 28, 2006 11:49 AM PDT apa kalo puasa tetep ada yang bunuh diri gitu?
Hedi September 28, 2006 02:25 AM PDT sepukku itu satu kakek-nenek kandung :p
tukang kebon September 27, 2006 04:20 PM PDT wuah ngampil pedang'e kuwi ben aku iso nyeppukuin mas sipyit di sini, kelamaan klo nunggu dia berseppuku ria..
siberia September 27, 2006 03:18 PM PDT kalo nggak pake njlimet2 namanya jisatsu :D kurang keren dan kurang terhormat :P
venus September 27, 2006 02:27 PM PDT jepang ki memang sarap kok ya? edian. mas, ada asinan bogor, mau gak? daripada jadi ulat sutera...:p
Blanthik Ayu September 27, 2006 02:10 PM PDT lay down dulu seppuku dua pukku pakdhe...kompie ku sekarat :(
pitik September 27, 2006 01:00 PM PDT Seppuku iku kan anak-e Pak lik utowo Pakdhe..
tito September 27, 2006 12:18 PM PDT aku mau jadi kaishakunin, sir. Ayo mau kapan? Pake piso mentega juga boleh :D wakakakakakakakak
kireina September 27, 2006 12:10 PM PDT pakde, dulu di jakarta ada orjep bunuh diri dgn cara terjun dari balkon apartemennya. mungkin terlalu ribet kalo pake ritual seppuku, ya?
april September 27, 2006 12:05 PM PDT he eh di taiko yo ngono....ngrepoti ga sih? eh pake diasah batu apung dulu ndak ya? ben luwih landep
Moes Jum September 27, 2006 12:04 PM PDT halahhh arep bunuh diri wae koq angel men sarate ... mbok ya langsung mencolot nang njurang utawa ngendat nang wit ringin lak gampang.