Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Adalah sebuah keinginan lama manusia untuk mengabadikan dirinya sehidup mungkin dalam berbagai media dan lantas bermunculanlah patung, lukisan dan pahatan di mana-mana. Hanya saja yang namanya manusia ya belum puas juga, maunya yang seindah warna aslinya ... atau kalau aslinya tidak indah, ya mbuh piye carane dibuat indah. Lagi pula yang namanya matung dan melukis itu prosesnya lama, hasilnya? ... kadang harus membawa serombongan budak belian hanya untuk memamerkannya kepada para tetangga. Lagi pula, jika hendak bepergian ke tempat yang jauh dan ingin membawa obat kangen orang terkasih ... lha itu patung dan/atau lukisankan harus digotong. Repot.
Namanya manusia kalau sudah punya mau ya ... pokoknya harus ... hingga akhirnya Joseph Niepce seorang penemu berkebangsaan Prancis berhasil membuat foto untuk pertama kalinya. Kejadiannya sendiri ndak jelas apakah 1826 atau 1827, pokoknya awal musim panas gitulah. Niepce menyebut kegiatan mengambil gambar tersebut sebagai heliografi (tulisan matahari). Hanya saja alat untuk membuat fotonya sendiri dibuat oleh orang lain dan hanya berupa kotak kayu yang bisa digeser-geser untuk mendapatkan fokus yang pas. Sangat sederhana, dengan waktu pengambilan gambar yang sangat lama dan media "penyimpan" gambarnya juga harus diperlakukan seperti pusaka keramat, pokoknya hati-hati sekali.
Saat ini, lebih dari 170 tahun sejak Niepce bermain-main dengan tulisan matahari, kita memiliki berbagai macam alat untuk mengabadikan alam - manusia - kegiatannya, alat yang kita kenal dengan nama generik kamera. Pada dasarnya ada dua kamera, yang dipakai untuk mengambil gambar diam (kamera foto) dan gambar bergerak (kamera video). Bentuk dan ukurannya juga macam-macam, yang terbesar ada di Mauna Kea (Hawaii) nempel di teleskop untuk meneropong benda-benda langit. Kamera itu digunakan untuk memotret bulan-bulan yang mengorbit di planet-planet dalam tatasurya kita. Lha...yang terkecil mungkin sekarang ada di saku atau di genggaman sampeyan, jadi satu dengan telepon genggam. Kamera terkecil bisa dipakai untuk mengabadikan kegiatan sehari-hari atau juga kegiatan yang tidak sehari-hari dilakukan tetapi hasilnya bisa jadi omongan sehari-hari banyak orang, apalagi kalau lantas hasilnya itu bisa diunduh di internet.
Ada banyak orang yang lantas sangat menyukai kamera, perkara wajahnya disukai oleh kamera (fotogenik) atau tidak itu urusan lain. Para penyuka kamera tersebut tidak harus orang yang berprofesi sebagai penulis cahaya (fotografi ~ tulisan cahaya) ada juga yang hanya sekedar suka (baru bisa) lihat-lihat saja sambil mimpi suatu saat nanti bisa mendapatkannya seperti ibu yang satu ini. Ada juga yang tidak begitu suka kamera tetapi harus menenteng kamera dengan alasan macam-macam dan saya termasuk golongan ini (juga golongan yang wajahnya tak disukai kamera). Hanya saja kamera yang saya bawa-bawa itu ya kamera ketendang jadi, atau Paman Tyo menamainya kamera kuaci.
Apapun kameranya prinsip kerjanya sama saja. Sederhananya begini, cahaya alami maupun buatan yang membentur objek foto ditangkap oleh media penangkap cahaya pantulan tadi, lantas terabadikanlah. Lha sekarang tinggal ngatur berapa banyak cahaya yang boleh diterima oleh media tadi, terlalu banyak putiiiiih semua, terlalu gelap ... hitam saja. Pengaturannya biasanya dilakukan melalui dua mekanisme. Pertama lewat diafragma yang mengatur besarnya bolongan cahaya lewat dan satu lagi kecepatan yang mengatur berapa lama bolongan itu bisa dilewati cahaya.
Foto sudah jadi bagian hidup manusia dari semua kalangan, dari yang punya puluhan kamera sampai yang hanya bisa memanggil tukang foto keliling. Kamera merekam banyak hal, perjalanan, kegembiraan, kesedihan, kekalahan, kemenangan, perang, senyum si kecil, tubuh tanpa busana, busana tanpa tubuh, kejahatan, kebaikan, bulan, planet, bintang, nebula, macam-macam lah ..... oh iya, ini penting .... kolak pisang.
Foto sebagai hasil rekaman kamera lantas banyak dinikmati banyak orang, dipuji, dicaci, ditertawai dan bahkan diteliti. Dalam dunia yang saya geluti, untuk membuktikan penemuan penting, menyertakan foto merupakan syarat yang nyaris mutlak. Untuk foto-foto "ilmiah" hasilnya dikaji, dibahas dan lantas disimpulkan ini itunya. Untuk foto-foto "tidak ilmiah" tetapi memiliki "nilai berita" yang tinggi dan jadi pembicaraan khalayak, fotonya juga dikaji, dibahas, diperbincangkan dan tak lupa pakar dicari untuk dimintai hasil kajiannya ... kamera yang digunakan apa? Oooo dari hp ya, hp-nya merk apa, dsb dsb.
Foto ... citra dari peristiwa pada sebuah titik waktu, kadang menggetarkan. Maka, untuk menggetarkan saya lantas sering berkata "Mas ... Mbak, saya mbok di kodak (generic brand) sambil duduk di atas honda baru itu lho (generic brand lagi), saya kan sudah sikat gigi ... eh iya situ pepsodentnya apa? (haiyaaaah).
Foto oleh bunder.
Posted at 03:05 pm by Sir Mbilung
Dian October 6, 2006 03:55 AM PDT huhuhu canon....aku pengen canon....
tito October 5, 2006 08:22 PM PDT itu EOS? punya sendiri?
yoyok October 5, 2006 03:38 PM PDT enakan D50 atau D70 ?
nabung teruuus...
emil October 5, 2006 03:16 PM PDT saya masih nggak ngeh, kok kamera ketendang bisa jadi... dan kenapa disebut kamera kuaci...
unai October 5, 2006 02:54 PM PDT sinih aku kodak di atas honda ..:P
mpokb October 5, 2006 01:23 PM PDT ada dua tipe orang sehubungan dengan semakin maraknya poto2an. penjahat kamera dan banci potret. kagak bisa kagak pose kalo liat kamera :P
mbakDos October 5, 2006 12:42 PM PDT ah ndak mau saya kalo disuruh ngodakin sampeyan... kan sampeyan sing kodak'e anyar?! ;D
Luthfi October 5, 2006 12:10 PM PDT kamera baru?
Makan2
Yoki October 5, 2006 11:12 AM PDT Beli kamera anyar neh??? 5D lagi :O