Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Terus terang ini bukan ide asli, saya cuma nyontek idenya pak dokter komik tukang terapi hewan. Pak dokter setiap hari Rabu bikin komik strip yang buat banyak orang (termasuk saya) menjadi teman pemunah duka. Ya ... saya menirunya, tetapi saya tidak membuat komik. Maka mulai hari ini, setiap hari Jum'at saya akan ndobos soal burung-burung bukan sembarang burung-burung, tetapi burung-burung yang ada di Indonesia yang terancam punah. Lho ada burung yang terancam punah, kok serem? Lha iya, maka itu tulisannya dipajang di hari Jum'at, untuk menambah aura keseramannya. Agar tidak seram dan malah "berkesan ilmiah sedikit", seri tulisan ini saya namai "Seri Burung-Burung Indonesia yang Terancam Punah" (waaah namanya ndak kreatif .... biarin), atau biar ndak kepanjangan saya singkat jadi "Seribu Intan".
Sebagaimana lazimnya kisah-kisah dituturkan, saya ingin membuka seri ini dengan pendahuluan, tanpa kata-kata pada suatu hari atau pada jaman dahulu kala yang rasanya kok basbang. Pendahuluan ini bertutur tentang kenapa burung kok ya bisa terancam punah, bagaimana menentukannya dan golongannya apa saja. Sudahlah, mari kita mulai saja dan mudah-mudahan bermanfaat.
Dari semua negara di dunia yang berburung, Indonesia punya jumlah jenis burung nomer empat terbanyak setelah Kolombia, Peru dan Brazil. Jumlahnya hingga hari ini ada 1558 jenis burung. Saya mengatakan hari ini karena bisa saja besok jumlahnya sudah bertambah (mudah-mudahan tidak berkurang) karena masih banyak daerah di Indonesia yang belum dijelajahi untuk dicari tahu isinya. Peneliti burung di Indonesia jumlahnya juga tak banyak (jelaskan kenapa orang gemblung seperti saya bisa dapat kerja?) dan kalau semua peneliti ini disebar ke daerah yang belum dijelajahi, hingga umur harapan hidupnya habis tetap saja masih ada yang bolong. Dari 1558 jenis burung itu, ada 118 jenis yang termasuk dalam kategori terancam punah. Angka itu jadi serius karena jumlah segitu itu yang paling tinggi di seluruh dunia.
Lha kok lantas bisa terancam punah? Ya beraneka rupa sebabnya, tetapi yang paling umum penyebabnya adalah kehilangan atau rusaknya tempat tinggal (habitat loss/degradation). Wooo kerjaan manusia ini. Belum tentu juga, walaupun sebagian besar kehilangan habitat itu ya karena polahnya manusia tetapi faktor alam kadang juga ikut. Selain itu ada faktor-faktor lain seperti perdagangan burung, polusi, penyakit, masuknya hewan yang mestinya ndak ada di situ (invasive species) dan kegiatan manusia di luar perusakan habitat. Beberapa jenis burung menjadi terancam punah karena beberapa sebab. Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) misalnya, terancam punah karena kehilangan habitat dan perdagangan.
Nah lantas bagaimana menentukan suatu jenis burung itu terancam punah. Ini agak mbulet urusannya, tetapi gampangnya begini. Semua data yang berkenaan dengan jenis yang akan ditelaah dikumpulkan. Sumbernya macam-macam, dari mulai yang telah ditulis dan diterbitkan, ditulis tapi tidak diterbitkan (grey literature), awetan di museum (specimen), hasil wawancara dengan banyak pengamat dan "pemanfaat" burung hingga ke peta-peta tua dan modern. Lantas dari data tersebut yang pertama kali dicari adalah di mana burung itu pernah dan masih terdapat yang kemudian digambar di peta, maka munculah daerah sebaran untuk jenis itu. Baru kemudian dipilah untuk dilihat sebaran dulu dan sebaran saat ini. Adakah penurunan luas sebaran, kalau ada, berapa besar penurunannya. Data yang dikumpulkan juga memberi banyak informasi soal ancaman yang ada, cara hidup burung tersebut, dan juga data yang bisa dipakai untuk meperkirakan kemampuan burung menyusaikan diri terhadap perubahan. Hasil dari semua keruwetan itulah yang lantas dipakai sebagai dasar penentuan jenis burung itu terancam punah atau tidak.
Lha siapa yang gemblung kurang kerjaan sampai ngurusi yang begini-begini ini? Ndak banyak kok orangnya, tetapi untuk demi menghindar pergunjingan individu saya pakai nama lembaganya saja. Adalah sebuah organisasi yang namanya bisa bikin bibir keriting The International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources atau dikenal juga dengan nama IUCN - The World Conservation Union yang diberi mandat untuk menelaah status keterancaman semua jenis hewan dan tumbuhan di dunia. Semua??? ya, kecuali burung. Untuk burung status keterancamannya dimandatkan kepada lembaga yang bernama BirdLife International. Untuk burung, statusnya dikaji nyaris setiap saat dan setiap tahun daftar burung terancam punahnya dikeluarkan dan pada situasi tertentu lantas diterbitkan dalam sebuah buku yang diberi nama Red Data Book. Bukunya blas ndak menarik buat orang kebanyakan. Untuk Asia saja bukunya tebal (lebih dari 3000 halaman dengan ukuran huruf yang menyiksa mata) beratnya 5 kg (bisa jadi senjata yang mematikan sekaligus bisa buat ganjal pintu) dan isinya lebih garing dari pada kerupuk udang.
Dalam daftar burung yang terancam punah tersebut, setiap jenis diberi status seberapa terancamnya jenis tersebut. Ada tiga golongan status, yang paling tinggi adalah Kritis (Critically Endangered -- atau Critical) lantas Genting (Endangered) dan yang paling bawah adalah Rentan (Vulnerable). Satu jenis burung statusnya bisa saja berubah-ubah setiap tahunnya. Bisa karena kondisinya membaik sehingga statusnya turun atau bahkan keluar dari daftar atau kondisinya makin parah sehingga statusnya naik. Karena pengkajian ini dilakukan setiap tahun, orang-orang yang bekerja di bagian ini lantas sering digelari pekerja nir-miskin orderan atau adapula yang memberi istilah gagah semacam sustainable job specialist group.
Begitulah sederek sedoyo, pembukaan yang sudah saya usahakan dutulis seringkas mungkin. Minggu depan kita akan mulai dengan jenis pertama, Ibis karau burung bernama Inggris White-shouldered Ibis dan bernama latin Pseudibis davisoni, yang di Indonesia hanya ada di Kalimantan dan berstatus Kritis boooo ...
meiy October 9, 2006 03:15 PM PDT Ahli burung juga ya mas...jadi inget temenku di Aceh yg ahli burung...dulu suka jln2 mengamati burung di ...terusin postingannya ya....Menarik!
pitik October 9, 2006 01:26 PM PDT Pak dhe itu,fosilnya burung dodo ya?
yati October 7, 2006 12:01 AM PDT trus NGOMPOLnya kapan? masa keinginan fans yg satu ini ga dapet tempat sih?
padahal kan udah banyak nama penjahat yg bisa dijadiin topik. Penjahat yg mudah2an juga tar lagi punah
:(
zammore October 6, 2006 09:03 PM PDT congrats, broer! posting jenis gini gw salut banget dan iri smoga mampu serutin lo punya kepiawaian dlm berblogging... okeh, seribu-intan saban jumatan kan?
april October 6, 2006 07:14 PM PDT tertarikkkkkkkk...............lanjutttt
reza October 6, 2006 07:02 PM PDT saya masih gak gathuk sama kepanjangannya "seribu intan" dibanding "Seri Burung-Burung Indonesia yang Terancam Punah"
Hedi October 6, 2006 01:29 PM PDT mulai bertopik nih ndobosnya hehehe
keep going bos!
tukang kebon October 6, 2006 01:17 PM PDT jeneng latine burung ibis apik mentow, aku prnh tuh ngeker burung 2 hari di gunung merbabu, jan ampe leherku pegel, kekere abot tenan
Yoki October 6, 2006 12:29 PM PDT Ihhh akhirnya perburungan juga :D
Iwan October 6, 2006 11:28 AM PDT Assyiiik...mungkin saya adalah salah satu dari orang-orang yang senang dengan adanya seri ini. Kang Mbilung pasti udah tau alasanya...Kalau di kuliahkan ini bisa berapa SKS yaaa..???