Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Sunday, October 08, 2006
Post-traumatic Stress Disorder

Saya ndak suka makan masakan India, agak berlebihan sebenarnya yang pas adalah saya sudah tidak lagi bisa (atau belum bisa lagi) makan masakan India. Aaahhh mbulet, pokoknya kalau saya sekarang disuguhi masakan India ndak akan saya makan ... dah begitu saja. Keengganan ini tampaknya ada hubungannya dengan sebuah peristiwa yang sudah agak lama, yang masih jelas gambarnya diingatan (tumben ini), karena dulunya saya tak ada masalah dengan makanan apapun. Namanya juga karung, garbage compactor. Begini ceritanya ....

Pada suatu ketika di pertengahan tahun 90-an di negri yang jauh (India jauh), kami berkumpul di sebuah kota di Selatan India yang bernama Coimbatore. Ada banyak orang dengan berbagai kebangsaan ngumpul di situ dan kami diinapkan dalam sebuah hotel yang sama. Hotel ini menyediakan masakan India yang apa-apa dibumbui dengan medoknya, kadang serasa sedang mengunyah rempah. Saya bisa melaluinya dengan sukses selama 2 hari. Tetapi banyak teman dari negara berperut lemah (seperti Jepang), langsung dapat masalah perut di hari pertama. Untungnya mereka berbekal obat hebat pemadat hajat, yang kemudian terbukti laku keras tandas tanpa bekas sebelum seminggu. Saya yang akhirnya menjadi salah satu penggunanya, menamai butiran kecil hebat itu the stone maker.

Lelah raga karena bekerja ditambah lelah mental karena makanan membuat kontingen Malaysia yang sebagian besar beretnis Cina mulai tak tahan. Bersepakat dengan kontingen Indonesia dua negara serumpun ini lantas melakukan serangan terencana ke dapur hotel. Saya yang ndak bisa masak juga ikut sebagai penggembira. Kawan Malaysia itu berkata, "kami hanya minta nasi putih ... plain rice ... jangan dikasih apa-apa". Sang koki hotel yang teritorinya dirambah secara semena-mena menolak mentah-mentah ... "itu bukan cara saya memasak". Lha...kokinya ngambek dan ndak mau masak. Maka, jadilah itu para pemrotes yang masak. Paling tidak hari itu kami makan nasi putih.

Menu masakan India itu mendominasi total acara makan pagi, siang dan malam. Kami rindu dengan sarapan pagi standard hotel-hotel biasa yang biasanya dimakan dengan malas. Hingga pada suatu pagi, pintu kamar digedor-gedor oleh seorang kawan yang sambil berlari dari kamar satu ke kamar lainnya membawa berita gembira .... "scrambled eggs and breads" ... telur orak-arik dan roti. Tanpa hirau acara mandi pagi, langsung keluar dari selimut dan melaju ke ruang makan. Waaaah .... iya ..... barang kuning terang itu teronggok indah di meja makan dikelilingi roti. Tak ada antrian, semua berebut seperti burung bangkai. Tak ada tata krama makan, masih dalam posisi berjalan ke tempat duduk, sendok sudah menyuap barang idaman itu. Lho ..... manis!!!! Itu telur orak-arik dicampur gulaaaaaa ....

Sudahlah, saya sudah pada taraf kapok dengan masakan India. Lha kok ndilalah kemarin itu saya diajak menghadiri acara makan malam di Roppongi Hills di sebuah restoran bernama Diya. Perut yang sudah kosong memilih untuk tetap kosong ... Diya itu restoran India. Kisah kemarin itu toh akhirnya berakhir bahagia, sangat bahagia. Persis di depan restoran Diya ada sebuah tempat makan lain bernama indah .... Putri Bali.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 12:48 pm by Sir Mbilung

cj
October 10, 2006   06:19 AM PDT
 
selama 3.5 th di jepang punya kolega org india yg tiap hari bawa bento. tiap siang sehabis dia manasin lunch-nya di microwave, ruangan lab berubah jadi restoran india :-) I like indian food though...
reza
October 9, 2006   09:02 PM PDT
 
aku suka makanan pakistan (sama gak ya?)
endang
October 9, 2006   04:33 PM PDT
 
Mas...itu yg buka bersama ya? Wah...gak sesuai angan-angan dong...
Dian
October 9, 2006   02:57 AM PDT
 
india tuh bumbunya buanyak banget yak. tajem rasanya
tito
October 9, 2006   12:35 AM PDT
 
aku seneng julukan obatnya, stonemaker. Kereen
nananias
October 8, 2006   10:34 PM PDT
 
hihihihihihi.... kalo inget rempah2 yang dikunyes kunyes abis makan masakan india kok jadi inget biskitnya lionel + tigger ya? :D
yati
October 8, 2006   07:46 PM PDT
 
ma kasih putri bali....:)) ga harus bawa bekal the stone maker :d
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry