Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Awalnya adalah sebuah "laporan" kejadian biasa yang sering terjadi di rumah, kecil dan ndak penting. Adik senang memasak, kakak amat senang memakannya ditemani ibu dan ibu (harus) senang mencuci perlengkapan masak memasak. Pada kesempatan lain ibu yang memasak, adik membantunya, kakak senang memakannya dan ibu kembali (harus) senang mencuci. Maka komentar yang lantas muncul bisa berupa imperfect division of labour, spesialis dan generalis atau ibunya nyuci dan kakanya makan terus yak? Kalau saya melihatnya sebagai "saling mengisi" dan ini menggiring saya untuk ndobos soal keragaman.
Pada masa sekolah dulu guru ilmu hayat saya mengatakan "satu kelompok mahluk hidup, entah itu dalam ikatan populasi atau komunitas, akan sangat rentan untuk hancur jika anggotanya seragam". Mbulet? contohnya begini ... hutan alam lebih kuat terhadap berbagai cabaran hidup dibandingkan dengan perkebunan. Hutan alam dihuni oleh begitu banyak jenis mahluk hidup sementara perkebunan hanya didominasi oleh satu jenis saja, kebun kelapa oleh pohon kelapa, kebun kelapa sawit ya oleh pohon kepala sawit. Perkebunan kelapa bisa hancur lebur jika sexava menyerang, untuk menghancurkan hutan alam diperlukan berbagai macam hama yang menyerang secara serentak (ini jika manusia tidak digolongkan sebagai hama) dan peluang untuk terjadinya hal ini amat sangat kecil. Dalam dunia investasi, hanya bergantung pada satu macam investasi saja adalah tindakan yang tidak disarankan, spread your risks begitu sarannya. Kunci ketahanan adalah adanya perbedaan.
Dalam dunia manusia, perbedaan adalah kekayaan yang bisa berujung pada tarian yang diiringi nyanyian riang tetapi sayangnya juga bisa berujung pada bencana dengan iringan nyanyian duka. Saya berbeda dalam banyak hal dengan anda dan saling menghormati serta menerima perbedaan yang ada di antara kita adalah langkah awal bagi kita untuk sama-sama menari dengan lagu riang. Tengoklah penghuni Indonesia, haih haih ... ada banyak macamnya, ada Aceh, Arab, Bali, Batak, Bugis, Cina, Dayak, Jawa, Madura, Makassar, Minang, Nias, Papua, Sasak, Sunda dan masih banyak lagi dah. Waduh, ini mesti kuatnya ndak ketulungan. Perkara apakah penyatuan keragaman itu berawal dari sebuah sumpah terkenal ini :
Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa
atau karena sebab lain, kenyataannya sekarang semua ada di dalam mangkuk besar bernama Indonesia.
Sudah, saya ndobosnya stop di sini, mbok sekarang gantian sampeyan yang ndobos. Menurut sampeyan upaya penghilangan salah satu bagian, bagaimanapun kecilnya bagian itu, dan upaya penyeragaman budaya termasuk upaya penyeragaman pangan (baca: semua makan nasi) apakah akan mengurangi keperkasaan Indonesia?
Posted at 01:31 am by Sir Mbilung
yoyok October 12, 2006 07:41 PM PDT Andai ada dunia dimana semua dunia bisa cocok
mpokb October 11, 2006 04:27 PM PDT keanekaragaman mah udah dari sononya ya pak.. cuma orangnya aja yg suka parno kalo liat yg beda. tak kenal maka parno.. :P
pitik October 10, 2006 02:50 PM PDT sekarang lagi diseragamkan untuk mendapatkan bencana kayaknya, pakdhe...
tito October 9, 2006 11:45 PM PDT Analogi yg menarik tentang keseragaman. Membandingkannya dengan perkebunan. Salut! Saya pernah merasakan susahnya jadi minoritas dan sampai sekarang masih, hidup selalu was-was dengan penyeragaman budaya. Senang bila ada yg sadar sisi baik dari keanekaragaman. Thanks
ndoro kakung October 9, 2006 10:57 PM PDT penasihat keuanganku [haiyah] pernah bilang begini, investasi itu seperti telor. jangan ditaruh di keranjang yang sama.... :D
reza October 9, 2006 09:04 PM PDT menurut satu riset (mbuh siapa yang riset) seorang manusia akan berusaha - secara sadar atau tidak - untuk mencari pasangan dari gene pool yang berbeda.
mbakDos October 9, 2006 06:15 PM PDT mau dikasih seragam putih-putih, seragam kotak-kotak, atau seragam batik, ya tetep aja yang make beda tho?!
mungkin ini nih yang suka dilupakeun... mau dipakein baju yang sama kayak gimana juga... namanya orang ya tetep aja beda ;-)
tukang kebon October 9, 2006 03:58 PM PDT lah klo nda doyan nasi, opo meh dipaksa makan nasi? itu lak membunuh namanya
bambang October 9, 2006 02:38 PM PDT Pertanyaan duli Lord of Ndobos jelas jawabanya. Ya! itu mengurangi kediddayaan Indonesia. Sebenarnya ini kan sudah banyak nyang bicara. katanya, setiap daerah semestinya mempertahankan ke aneka ragam jenis makanan pokoknya. Seperti orang irian dengan sagu, orang madura dengan jagung, gunung kidul dengan gaplek dll. Dengan demikian beban untuk menyediakan makanan pokok menjadi lebih mudah karena setiap daerah bisa menyediakan sendiri. Tidak perlu harus menanam padi semua. Karena katanya untuk mendapatkan beras itu relatif lebih ribet dibandingkan menyediakan makanan pokok yang lain.