Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, October 13, 2006
Ibis karau

Seribu Intan nomer 1

Suatu hari di tengah rimba belantara Kalimantan Timur, di tepian Sungai Mahakam yang berwarna coklat, ada bebauan hutan yang menemani ritual minum kopi di sore hari. Teropong itu masih basah oleh keringat, tergolek molek di samping, tidak lagi menggelayut manja di leher dan bersandar di dada yang sekarang terbuka tak lagi berbaju. Bayangan hitam besar itu muncul entah dari mana, menjejak bumi tanpa suara di tekukan sungai seberang. Teropong itu sekarang sudah melekat kencang di mata, entah bagaimana nasib cangkir kopi yang masih penuh tadi. Mahluk hitam tadi, burung, Ibis karau, Pseudibis davisoni, Ibis paling langka di dunia. Dia lelaki yang beruntung.

Halaaah, itu pembukaan kok ndak saya banget yak?! Saya itu sedang berusaha menggambarkan suasana indah yang muncul karena berjumpa mahluk super langka. Lha kok suasananya? bukan mahluknya yang diindah-indahkan. Itulah soalnya, mahluk yang bernama Ibis karau ini buat banyak orang ndak indah dipandang mata, ndak bisa bikin jatuh cinta pada pandangan pertama seperti kalau melihat merak yang sedang ngibing dahsyat dipacu birahi itu. Coba saja lihat morfologinya, paruhnya panjang bengkok ke bawah, kepalanya yang kecil itu  "gundul" tapi ya kegundulannya itu tak mencegahnya untuk tetap mengenakan bando berwarna terang. Tubuhnya? seperti tak seimbang dan kaki-kakinya  kurang jenjang. Tubuh didominasi warna gelap dengan seleret putih pada bagian bahunya yang lantas dijadikan nama burung ini dalam Bahasa Inggris, White-shouldered Ibis. Tengok juga gaya berjalannya, halah ... sudahlah.

Ketidak indahan itu mungkin menjadi salah satu sebab kenapa dia tak terperhatikan, tidak sebagaimana elang yang gagah atau cendrawasih yang molek. Walaupun Ibis karau saat ini menyandang status keterancaman tertinggi, Kritis (Critically Endangered), tak banyak yang perduli atau bahkan kenal dengannya. Dahulunya burung ini terdapat di Cina bagian selatan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia dan Indonesia (Kalimantan). Bebas berkeliaran di hutan-hutan dan di rawa-rawa Saat ini dia hanya bisa dijumpai di Vietnam bagian selatan, Laos bagian selatan, di utara Kamboja dan di Indonesia di Kalimantan Timur, Tengah dan Selatan. Jumlah yang tersisa juga tidak lagi banyak.

Kenapa pula dia lantas menghilang? Ada beberapa hal yang dituding jadi penyebabnya, dan biangnya ya manusia lagi. Hutan dan rawa yang jadi rumah sang Ibis diutak-atik sak enak udel. Hutannya dibabati dan rawanya dikeringkan, mungkin mikirnya kalau semua hutan dan rawa itu ya punya'nya sendiri, mahluk lain cuma ngontrak, akibatnya banyak korban termasuk si Ibis ini. Sang Ibis lantas mencoba bertahan dengan mengikuti perubahan jaman, mereka mulai sering terlihat di lahan-lahan persawahan manusia yang dulunya rawa rumah mereka. Tapi ya ndak aman juga, mereka diuber-uber, diganggu, dan dibunuh (katanya dagingnya layak santap). Padahal kalau dia dibiarkan saja di sawah ya juga bisa bantu-bantu mengurangi hama dan gulma lho. Makanannya Ibis ini serangga dan biji-bijian rumput. Mungkin karena ada yang ndak nyambung, sawahnya lantas disemproti racun pembunuh serangga, habis jugalah makanan Ibis di sawah.

Rupa tidak indah, tubuh tak simetris, jalannya tidak anggun, klayaban di tempat-tempat becek, holoh holoh, kok ya ndak ada indah-indahnya sih? Tambahan lagi, burung ini tak muncul dalam hikayat tua, tak sebagaimana saudara jauhnya Sacred Ibis dari Mesir yang lantas diidentikan dengan dewa agung bangsa Mesir kuno, Toth. Mitologi kuno menceritakan bagaimana Toth merubah 360 hari dalam setahun menjadi 365 hari setelah dia menang berjudi dengan bulan dan mendapatkan 5 hari tambahan dalam setahun. Lantas, apakah Ibis karau juga harus berjudi dengan manusia untuk mendapatkan kesempatan agar bisa tetap hadir di bumi. Tak usahlah rasanya dia dipaksa harus berjudi untuk hidupnya dan tak usah jugalah dia lantas dipaksa menjadi cantik agar dapat sekedar lirikan. Jika kita belum kikir perhatian tengoklah kembali Ibis yang satu ini, mungkin kita saja yang belum bisa menangkap keindahannya itu.

Foto: © James Eaton/Birdtour Asia diambil dari sini.


Posted at 02:02 am by Sir Mbilung

zammore
October 16, 2006   03:53 PM PDT
 
fiuhh.. akhirnya sempat juga ane buka2 blog meski lumayan kasip.. langsung nyari edisi jumatan ente.. kueren.. tertangkap sudah keindahannya dari cara pembahasan ente yg ciamik..
april
October 14, 2006   10:09 AM PDT
 
ibis karau....nambah ilmu selain ibis slipi & ibis tamarin :))
pipit
October 13, 2006   05:56 PM PDT
 
waduh. mbahas Ibis Karau saja bisa sebagus ini detilnya. bagaimana kalo soal seks? *halaaahhhhhh!* salut!
Budhe nya Bex
October 13, 2006   04:16 PM PDT
 
yukk cari ibis karau di kaltim skalian mampir kerumah aye :D :P
atta
October 13, 2006   02:45 PM PDT
 
sungguh blog yang memberi banyak pengetahuan
seumur2 baru sekali ini nih denger yang namanya Ibis karau
mpokb
October 13, 2006   02:36 PM PDT
 
dagingnya layak santap? kok tega ya yg makan. kan masih banyak jenis unggas lain..
pitik
October 13, 2006   01:35 PM PDT
 
Ibis makin makin banyak lho di jakarta, tapi dalam bentuk Hotel..
meiy
October 13, 2006   12:47 PM PDT
 
Jgn2 di Kalimantan juga udah punah kali pak...hiks...hiks...
lha hutan2 pd terbakar

menyedihkan bangsaku ini...
Iwan
October 13, 2006   12:42 PM PDT
 
Hebat. Saya suka gaya penulisannya. Informasi ilmiah dibikin jadi popular (ala Kang Mbilung) jadi enak masuk ke otak (gak mumet). Saya lebih setuju kalo pesan pelestarian di sampaikan dengan gaya seperti ini.
Sekalian saya minta ijin untuk meng-copy article ini sebagai arsip pribadi (tentunya dengan tidak melupakan sumbernya :)). Boleh yaa Kang?
nana
October 13, 2006   10:01 AM PDT
 
mantabbbbb... lha gitu sukses lho ama gaya penulisan baru :D dan errrr crazy in good sense tambah keliatan, sungguh ndak aliran utama to ngobrol soal burung kok puitis soal ndak pake baju karena keringetan huiiiiiii...
bebex
October 13, 2006   03:26 AM PDT
 
brati tiap jumat bex bisa nambah ilmu burung neh ;) hehe...

btw,,,kasian yah pakdhe...
mentang2 jelek dan ga banget, si ibis karau rumahnya di seenake dewe ama manusia... :(
manusia tuh dsarnya mang pada jahat kali yah...
ga ngargain makhluk hidup yang laen...hikz *nangis inget si sapi gelondongan
Tito
October 13, 2006   02:53 AM PDT
 
Kalau menang judi bisa bikin dia lestari saya rela kalah main judi
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry