Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, October 27, 2006
Celepuk siau

Seribu Intan nomer 3

Celepuk termasuk dalam keluarga burung yang walupun bertampang imut tetap saja diberi nama seram, burung hantu. Sifatnya yang aktif pada malam hari dan suaranya yang memicu berdirinya bulu tengkuk menyebabkan burung "lucu" ini lantas diasosiasikan dengan hantu. Sesungguhnya tak ada keseraman pada burung yang satu ini kecuali nasibnya yang agak-agak menakutkan karena Celepuk siau tidak lagi pernah terlihat sejak ia pertama kali dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan pada tahun 1866.

Celepuk siau (Otus siaoensis) di dunia ini diketahui hanya hidup di satu pulau kecil yang bernama Pulau Siau di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Siau yang kecil saat ini memiliki luas hutan yang sudah sangat sempit dan karena itu pulalah celepuk yang satu ini lantas dikategorikan ke dalam kategori keterancaman tertinggi, Kritis, Critically Endangered. Ukurannya yang kecil (hanya 17 cm), tempat hidupnya di sebuah pulau yang sangat terpencil dan jarang terdengar namanya, serta sifat hidupnya yang hanya aktif di malam hari, mungkin menjadi sebab kenapa celepuk yang satu ini sudah tak pernah lagi terlihat sejak ia ditemukan pertama kali 140 tahun yang lalu.

Hingga tahun 1995  rumah (habitat) Celepuk siau diketahui masih ada di sekitar Danau Kepetta yang terletak di bagian Selatan Pulau Siau tetapi hutan yang sudah tinggal sedikit itupun lantas ditebangi pada tahun 1998 untuk dijadikan lahan pertanian. Selain di sekitar Danau Kepetta masih ada hutan seluas 50 ha yang masih tersisa di sekitar Gunung Tamata yang berada di bagian tengah Pulau Siau dan gunung tersebut hanya bisa didatangi melalui Desa Lai yang ada di bagian Barat Pulau Siau.

Beberapa ahli burung masih berspekulasi kalau celepuk satu ini mungkin juga ada di Pulau Tagulandang yang terletak di sebelah Selatan Pulau Siau. Kalaupun ternyata benar adanya, hutan di Pulau Tagulandang juga sudah sama hancurnya dengan hutan di Pulau Siau. Kalau sampeyan berkesempatan berkunjung ke dua pulau tersebut, kesempatan untuk menjadi selebritis di dunia perburungan bisa terbuka lebar jika sampeyan bisa sampai menemukan burung yang satu ini. Tidak heran jika jenis burung yang satu ini termasuk salah satu jenis burung yang paling diincar untuk di lihat oleh para penggemar intip-intip burung di alam bebas (birdwatcher) dari seluruh dunia.

Jika sampeyan sangat berminat untuk menjadi pesohor di dunia perburungan, sebagai langkah awal menuju ketenaran adalah membuka peta Indonesia dan mencari di mana Pulau Siau itu berada. Cari pulau tempat hidupnya saja sulit apalagi nyari burungnya.   Celepuk termasuk dalam keluarga burung yang walupun bertampang imut tetap saja diberi nama seram, burung hantu. Sifatnya yang aktif pada malam hari dan suaranya yang memicu berdirinya bulu tengkuk menyebabkan burung "lucu" ini lantas diasosiasikan dengan hantu. Sesungguhnya tak ada keseraman pada burung yang satu ini kecuali nasibnya yang agak-agak menakutkan karena Celepuk siau tidak lagi pernah terlihat sejak ia pertama kali dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan pada tahun 1866.

Celepuk siau (Otus siaoensis) di dunia ini diketahui hanya hidup di satu pulau kecil yang bernama Pulau Siau di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Siau yang kecil saat ini memiliki luas hutan yang sudah sangat sempit dan karena itu pulalah celepuk yang satu ini lantas dikategorikan ke dalam kategori keterancaman tertinggi, Kritis, Critically Endangered. Ukurannya yang kecil (hanya 17 cm), tempat hidupnya di sebuah pulau yang sangat terpencil dan jarang terdengar namanya, serta sifat hidupnya yang hanya aktif di malam hari, mungkin menjadi sebab kenapa celepuk yang satu ini sudah tak pernah lagi terlihat sejak ia ditemukan pertama kali 140 tahun yang lalu.

Hingga tahun 1995  rumah (habitat) Celepuk siau diketahui masih ada di sekitar Danau Kepetta yang terletak di bagian Selatan Pulau Siau tetapi hutan yang sudah tinggal sedikit itupun lantas ditebangi pada tahun 1998 untuk dijadikan lahan pertanian. Selain di sekitar Danau Kepetta masih ada hutan seluas 50 ha yang masih tersisa di sekitar Gunung Tamata yang berada di bagian tengah Pulau Siau dan gunung tersebut hanya bisa didatangi melalui Desa Lai yang ada di bagian Barat Pulau Siau.

Beberapa ahli burung masih berspekulasi kalau celepuk satu ini mungkin juga ada di Pulau Tagulandang yang terletak di sebelah Selatan Pulau Siau. Kalaupun ternyata benar adanya, hutan di Pulau Tagulandang juga sudah sama hancurnya dengan hutan di Pulau Siau. Kalau sampeyan berkesempatan berkunjung ke dua pulau tersebut, kesempatan untuk menjadi selebritis di dunia perburungan bisa terbuka lebar jika sampeyan bisa sampai menemukan burung yang satu ini. Tidak heran jika jenis burung yang satu ini termasuk salah satu jenis burung yang paling diincar untuk di lihat oleh para penggemar intip-intip burung di alam bebas (birdwatcher) dari seluruh dunia.

Jika sampeyan sangat berminat untuk menjadi pesohor di dunia perburungan, sebagai langkah awal menuju ketenaran adalah membuka peta Indonesia dan mencari di mana Pulau Siau itu berada. Cari pulau tempat hidupnya saja sulit apalagi nyari burungnya.  Mungkin untuk perkara yang satu ini diperlukan pemburu hantu beneran, tanpa keris, kemenyan atau lisong.

Gambar diambil dari sini.

 

Posted at 09:02 am by Sir Mbilung

ccccccuuuupppuuu
November 4, 2008   03:16 AM PST
 
mas pullau siau dimanaaaaaa..... ta goleki koq rak ketemu.. opo petaku sing rak bner yoooo..
Iwan
October 31, 2006   03:11 PM PST
 
Akhirnya nongol juga. Yang ini yang saya tunggu-tunggu. Kebetulan kami berencana untuk "memburu" jenis yang satu ini. Semoga aja tidak akan ketemu Hantu beneran :)
Hedi
October 31, 2006   06:00 AM PST
 
Celepuk itu ada berapa macem sih Sir? nanti kalo di rumah saya mau cari di peta ah pulaunya :D
april
October 30, 2006   02:26 PM PST
 
blm nemu pulau siau-nya di peta ktr
Nero
October 28, 2006   01:09 AM PDT
 
mungkin sayah bisa membantu mencarikeun *berasa pemburu hantu
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry