Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Sudah berapa tahun sampeyan kerja? Sudah berapa kantor yang sampeyan kerjai? Seberapa sering sampeyan gonta-ganti kerjaan? Pernah dihinggapi bosan yang teramat sangat? Dalam setahun, berapa lama sampeyan kerja? Apa ada cita-cita sampeyan buat kerja "secukupnya" saja? Lha kok nanya terus, kapan ndobosnya? Lho...tanya lagi kan?
Dibandingkan dengan kebanyakan orang saya termasuk amat sangat beruntung dengan yang namanya pekerjaan. Saya ndak pernah mengalami yang namanya bikin surat lamaran, riwayat hidup dan segala macam pernak-pernik untuk melamar pekerjaan ... karena memang saya ndak pernah melamar. Pekerjaan yang saya miliki sekarangpun kata banyak orang sangat menyenangkan, lha wong hobi kok dibayar. Selain itu, pekerjaan saya ini juga telah mengantar saya berkeliling ke banyak tempat di dunia dan lagi-lagi dibayari. Secara materi, apa yang saya dapatkan juga cukup.
Lantas, kenapa pula sekarang saya berkeinginan untuk mencoba hal baru? Sifat dasar manusia yang tak kenal puas? rumput di halaman tetangga lebih hijau? Lelah? Egois? Ada keinginan yang belum tercapai? Faktor kejiwaan akibat usia? Buat saya, tampaknya merupakan gabungan dari semua itu. Lantas sebagai alasan bela diri bernada narsis keluarlah kalimat "tempat yang ada sekarang terlalu sempit untuk saya bereksplorasi". Kemlinthi pol !!!
Keluar dari sebuah zona yang terbilang nyaman bukan berarti saya bebas dari kekhawatiran. Entah ganjil atau tidak, saya menikmati kekhawatiran itu. Saya yakin para petualang di masa lalu juga merasa begitu setiap kali mereka melangkahkan kaki menaiki kendaraan yang akan membawa mereka ke tempat asing. Kekhawatiran yang dulu selalu menyertai saya setiap kali saya menapakkan kaki memasuki pintu pesawat yang akan membawa saya ke negara yang jauh. Semua seperti sudah hilang, semua seperti sudah jadi rutinitas biasa saja. Ingin sekali rasanya pulang ke rumah dan lantas bisa berkata "saya menemukan sesuatu yang baru, begini ceritanya .....", dan lantas saya ndobos secara antusias semalam suntuk.
Posted at 01:34 pm by Sir Mbilung
kang bas November 6, 2006 01:20 AM PST waduh, jadi juga akhirnya.. Semar mudun kayangan..
q2 November 3, 2006 09:15 AM PST ada kerjaan apa om? mbok ya di bagi gitu loh..
dindajou November 2, 2006 07:04 PM PST iyah pak berenti ajah. terus bapak nulis banyak2. terus buat yayasan sendiri pak. terus nanti na bantu2 deh. pasti seru pak. ina ajah kalo udah seumur bapak (halah, kesannya bapak tua bgt yah?) gak mau kerja2 lagi. meres keringatnya sekarang ajah. go for it pak!
qq November 2, 2006 06:32 PM PST Wah Pakde, Qq juga lagi di persimpangan yang ini juga. Bukan karena bosan atau apa, tapi karena pengen improvement.
aku November 2, 2006 05:12 PM PST mau nyari yang deket2 bogor ya pakde?
fitri mohan November 2, 2006 04:22 PM PST barangkali karena saya tergolong manusia yang get easily bored and restless, saya loncat-loncat melulu tuh pakde. setiap kali pindah kerja, alhamdulillah selalu ke posisi yang lebih. tetep aja: bosen. jadi? ya pindah lagi. sampe orang-orang pada sebel karena biasanya orang dapet kerjaan susah, lha ini kok dengan cueknya pindah-pindah. :)
mbakDos November 2, 2006 02:13 PM PST namanya juga memacu adrenalin bukankah, paklik?! ;-)