Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Saturday, November 04, 2006
Gambar Malu-Malu

Monyet-monyet lucu bermain di tajuk-tajuk pohon, tangan, kaki dan ekornya bergantian memegang dahan. Mereka sedang lengah ... tiba-tiba mahluk terbang dengan panjang satu meter berbentang sayap 2 meter menyambar secepat sinar (*berlebihan*). Hari itu monyet-monyet itu kehilangan satu kawan main mereka, yang menjadi santapan siang sang burung perkasa, Elang Harpy (Harpy Eagle). Tak ada urusan dengan soal kejam-kejaman di cerita itu, ini adalah masalah bertahan hidup di belantara Amerika. Lengah di tajuk pohon disambar Harpy, lengah di tanah jadi santapan Jaguar, tak waspada di pinggiran kali ada buaya Caiman, berleha-leha di rawa bakal remuk dalam pelukan Anaconda.

Harpy Eagle (Harpia harpyja) adalah elang terbesar ke dua di dunia setelah Philippine Eagle (Pithecophaga jefferyi), dan dia adalah raja udara di Amerika Tengah dan Selatan mulai dari Mexico hingga ke Timur Laut Argentina. Burung betina lebih besar dari yang jantan dan mampu mengangkut mangsa hingga 6 kilogram . Tak hanya monyet yang menjadi makanannya, Coati yang imut hingga Sloth yang pemalas bakal dijadikan menu makannya jika tidak waspada.

Seperti hanya elang-elang besar lainnya, Harpy tak rajin bertelur, hanya satu saja setiap 2 hingga 3 tahun. Anaknya harus dijaga selama 6 bulan pertama dan masih diberinya makan hingga bulan ke 16 dan setelahnya, anak Harpy harus menjadi burung yang mandiri, cari makan sendiri, mencari pasangan dan melanjutkan kelangsungan keberadaan Harpy di muka bumi. Hanya saja, pohon-pohon besar untuk tempatnya bersarang dibabati, Harpy sendiri diburu dengan bedil dan sumpit dan burung raksasa ini makin tak mudah hidupnya. Dalam daftar burung-burung terancam punah di dunia, Harpy tak terdaftar, belum tepatnya, statusnya masih berada di ambang batas, mendekati terancam punah. Luasnya daerah sebaran dan hutan Amazon yang masih mampu tegak walaupun sudah doyong atau bahkan sudah bersih di sana-sini, seolah menjadi benteng bagi Harpy untuk tetap bertahan. 

Begitulah sedikit cerita soal Harpy. Lha saya ndobos soal burung yang tidak ada di Indonesia dan di luar hari Jum'at ini gara-gara dikirimi gambar Harpy oleh dokter hewan tukang komik, yang katanya kertasnya sudah dikuwel-kuwel mau dibuang. Tak banyak artis penggambar hewan apalagi gambar burung di Indonesia. Kalau hanya melukis burung untuk hiasan mungkin banyak, tetapi untuk kepentingan ilmiah dan untuk keperluan mengamati burung, bisa dihitung dengan sebelah jari-jari tangan. Seorang teman lain gambar burungnya malah nggilani pol detailnya dan saya yakin itu gambarnya sudah berkelas dunia. Hanya saja, para pelukis hewan begini masih malu-malu memajang hasil karyanya padahal ada banyak orang yang membutuhkan keahlian mereka itu.

Jika seorang pengamat burung (birdwatcher) pergi mengintip-intip burung (birdwatching) mereka selalu membawa buku panduan lapangan (field guide) yang berisi gambar-gambar burung dan ciri-ciri untuk mengenali burung yang dilihatnya. Tidak seperti kebanyakan negara lain yang memerlukan satu field guide untuk seluruh burung di negara itu, Indonesia memerlukan tiga, sangking banyaknya jumlah spesies burung yang ada di Indonesia. Tiga field guide yang paling banyak dipakai itu, semua gambar burungnya dilukis oleh orang bukan dari Indonesia dan ditulis juga bukan oleh orang Indonesia. Untuk buku yang digunakan di Indonesia bagian Barat, bukunya malah sudah tak ada lagi dijual di Indonesia, habis!!!

Lha kok orang Indonesia ndak ada yang bikin field guide? Alasannya klasik (bisa juga dibaca: basi), ndak punya modal (uang maksudnya). Tambahan lagi itu para tukang gambarnya ya masih malu-malu, malah ada yang mau membuang gambarnya. Sementara para penulis naskah untuk field guide? waaaah ini lebih parah lagi, malah sibuk ndobos ndak karu-karuan, termasuk ndobos soal kemalu-maluan para tukang nggambar burung itu.

Gambar oleh Tito.


Posted at 10:17 pm by Sir Mbilung

tito
November 6, 2006   05:09 PM PST
 
gimana nih, mosok mau ngomentarin gosip sendiri :D
Iwan
November 6, 2006   02:18 PM PST
 
Ternyata Om Tito jago gambar burung ya Kang Mbilung. Kenapa malu-malu...
Ayo Om! kita bikin field guide sendiri...
Luthfi
November 5, 2006   02:06 PM PST
 
kalo gak salah, buku panduannya itu disusun pake nomor tertentu ya Om, soalnya disini ngapalinnya, burung ini ada di halaman sekian dst (cerita dari teman yg jd asisten ornitologi)
mbakDos
November 5, 2006   03:54 AM PST
 
jadi ini menggosipkeun pakDok tho?! ;D
nananias
November 4, 2006   10:38 PM PST
 
diintimidasi yaaaaaaaaaaaaaaaa???

*lirik lirik dokter tito - kabuuuuuuur*
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry