Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Tiba di London pagi tadi jam lima pagi lebih sedikit waktu GMT disambut cuaca khas Inggris, dingin dan berkabut. Tubuh yang masih terbiasa dengan udara tropis yang hangatnya suam-suam kuku memaksa saya langsung membongkar isi koper begitu koper muncul di conveyor belt barang, untuk mengambil baju hangat serta tutup kepala. Maklum saja suhu di luar itu 3 derajat Celcius di atas titik beku, bandingkan dengan Bogor yang pada saat saya tinggalkan bersuhu sekitar 29 derajat Celcius. Tanpa baju hangat dan penutup kepala, saya bisa jadi es loli berjalan di luar sana pada saat menunggu bus.
Ada satu bagian tubuh saya yang sangat rentan terhadap serangan hawa dingin yang sedihnya tidak bisa ditutup. Hidung. Pada keadaan ekstrim darah bisa mengucur deras dari hidung saya jika suhu terlalu dingin (atau terlalu panas). Beruntung sekali saya memiliki hidung dengan rambut hidung yang lumayan gondrong, dan ini sangat membantu untuk menjaga rongga dalam hidung tetap hangat dan lembab sehingga pembuluh darah tidak pecah dan darah mengalir ke luar. Rambut hidung? kok bukan bulu hidung? Buat saya bulu itu ya seperti yang dimiliki oleh burung, dan yang ada di rongga hidung saya itu rambut.
Ada banyak orang yang dengan alasan estetika, mencukur atau mencabut rambut hidungnya, biar rapih katanya. Padahal rambut hidung itu berfungsi untuk menyaring partikel halus di udara agar tidak masuk ke paru-paru dan untuk menjaga kelembaban rongga dalam hidung. Partikel halus yang terperangkap di rambut hidung pada proses lanjutan akan diselaputi lendir, dan lendir yang mengering itulah yang dikenal dengan upil. Pada tahapan selanjutnya upil tadi dikeluarkan secara alami ataupun keluar dengan paksa (melalui proses ngupil) ... kotoran terbuang.
Lantas soal menjaga kelembaban hidung, begini ceritanya. Pada saat kita mengeluarkan nafas, udara yang mengandung air melewati rambut-rambut hidung, dan udara yang mengandung air itu sebagian terperangkap oleh rambut-rambut sehingga rongga hidung tetap lembab. Jika rambut hidung digunduli, uadar akan bablas langsung keluar tanpa hambatan dan akibatnya rongga hidung bisa kering kerontang. Dingin, kering, pecahlah pembuluh darah di rongga hidung dan darah bocor keluar ... mimisan.
Pagi tadi, saya tidak mimisan, terima kasih pada rambut hidung yang gondrong. Penggundulan paksa rambut hidung tampaknya tak cocok untuk saya. Tanpa rambut hidung saya bisa mimisan dahsyat dan .... bisa-bisa ndak punya upil.
Yoki November 10, 2006 09:11 AM PST Wakaakakaaakak DOF nya kurang tuh....klo gw kebalikannya...sudah terdeforestasi dari awal secara genetis...dan syukurnya ketakutan kena mimisan di udara dingin kejadian....:P
bebex November 7, 2006 09:04 PM PST itu terowongan menuju ke mana yah pakdhe?
apa jangan2 ini yang namanya terowongan "mina"?
alamak! November 7, 2006 12:27 PM PST disebut bulu, karena digondrongin segondrong2nya, paling seputar situ aja.
nah kalo rambut, kalo digondrongin, bisa nyapu lante, lho...om!
salam kenal...
unai November 7, 2006 11:38 AM PST Semua yang diciptakan Allah, meski kita anggap kecil pasti sangat bermanfaat ya pak. Saya termasuk alergi dingin dan panas, hmm pasti karena lubang hidung saya gundul nggak seperti Bapak yang memiliki rambut hidung yang gondrong. Saya jadi sering flu..dan mimisan. satu lagi..produksi upil saya sedikit, padahal ngupil asik kan pak ;)
bangsari November 7, 2006 10:52 AM PST ternyata upil juga berguna ya pakde?
pyuriko November 7, 2006 09:41 AM PST lutchu.. hehehehe....
endang November 7, 2006 08:45 AM PST Idiiih...nggilani deh, close up-nya...untung gak ada upilnya..hehehe
Dian November 7, 2006 06:42 AM PST astaghfirullah...