Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Himbauan untuk tidak memberi makan burung itu terpasang di dinding kaca tempat menunggu bus di bandar udara Heathrow. Burung yang dimaksud adalah merpati (Columba livia). Orang Inggris yang terkenal ramah terhadap burung, kali ini terpaksa "main keras". Larangan untuk memberi makan merpati berlaku di Trafalgar Square, London, yang terkenal dengan kumpulan burung merpatinya. Larangan yang diberlakukan oleh Walikota London ini dulu sempat ditentang oleh kelompok Save the Trafalgar Square Pigeons, dan kelompok ini tetap memberi makan merpati di salah satu sudut Trafalgar Square yang merupakan wilayah kekuasaan Westminster City Council. Pemerintah London ndak bisa apa-apa, hingga akhirnya mereka mencapai kesepakatan bahwa merpati tetap boleh dikasih makan tetapi hanya satu kali se hari, pagi-pagi jam setengah delapan, sesudahnya merpati harus cari makan sendiri.
Apa pasal larangan tersebut diberlakukan? Bukankah elok jika suatu kota dengan tamannya, atau pelatarannya untuk kasus Trafalgar Square, dipenuhi merpati, simbol perdamaian, simbol kesetiaan cinta. Merpatinya bisa saja elok, kesan yang ditimbulkan pada saat berada ditengah gerombolan merpati dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua bisa saja romantis, tetapi banyak merpati berarti banyak telek, kotorannya, dan ini jadi masalah.
Di alam, aslinya merpati itu bersarang di tebing-tebing dekat laut, lantas di kota gedung-gedung jangkung menggantikan fungsi tebing-tebing itu. Kotoran merpati bersifat asam, yang merusak dinding gedung-gedung di mana mereka membuat sarang. Makanan yang berlimpah membuat merpati rajin bersarang untuk bertelur dan mereka membuat sarangnya di dinding-dinding gedung itu.
Selain itu kotoran merpati juga menjadi sarana bagi menyebarnya beberapa penyakit, sebut saja Histoplasmosis dan Cryptococcosis sebagai salah dua contoh penyakitnya. Karena sebab-sebab itu, jumlah merpati harus dikendalikan dan larangan memberi makan hanya salah satu cara untuk mengurangi kecepatan berbiak mereka. Cara lain ya dijaring, diracun atau dibunuh dengan menempatkan musuh alaminya di sekitar daerah gerombolan merpati .... dengan menempatkan alap-alap. Ada pula cara lain untuk mencegah agar merpati tidak hinggap, dan lantas buang kotoran, di suatu tempat. Tempat itu dipasangi logam-logam yang disusun seperti duri landak.
Soal merpati sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaan? hihihihi ... merpati itu kerjanya gonta-ganti pasangan je, ndak yang jantan ndak yang betina, sama saja.
Posted at 01:51 pm by Sir Mbilung
Yoki November 10, 2006 09:09 AM PST Klo dikita nanti tulisannya "Atas nama pengelola kami mohon teramat sanget! merpati tidak untuk di goreng..!" huehuehuehue
Dian November 8, 2006 03:16 AM PST ooh kirain takut merpatinya jd gendut
Moes Jum November 7, 2006 11:50 PM PST Mesakno banget sih ... merpati Inggris masih kalah sama "doro keplekan" di Indonesahh. Di Inggris gak bisa makan kalo gak dipakani sama menungso.
tari November 7, 2006 11:36 PM PST Sir, kalo love bird itu emang setia kan???
pyuriko November 7, 2006 05:49 PM PST jadi merpati itu hewan yg tidak setia yaaa???
Rara November 7, 2006 03:39 PM PST Lha katanya merpati tak pernah ingar janji..