Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Tetapi adalah kata yang sering saya hindari pemakaiannya, sangat hemat guna, terutama jika ada teman yang dengan sangat bersemangat sedang mengemukakan idenya. Adalah kekejaman tak terperi jika ada teman yang sedang mengemukakan idenya lantas ditanggapi dengan "bagus sih, tetapi ....". Jika kata "tetapi" terlalu diumbar maka sebagai pengumbar, julukan sebagai orang yang bisanya protes bisa melekat erat. Tak sedap pula julukan itu. Lantas bagaimana caranya?
Coba ganti kata "tetapi" dengan "apalagi jika" dan perhatikan dua kalimat berikut. 1) "Idemu bagus, tetapi ....", 2) "Idemu bagus. Apalagi jika ...." . Perhatikan tanda koma dan titik, sangat penting. Jika ditambah dengan keahlian bermain bahasa tubuh dan mimik muka, hasilnya akan luar biasa. Bayangkan ini, tahap pertama, saat mengucapkan kata "Idemu bagus." alis terangkat, ujung bibir ikut terangkat, mimik antusias. Lantas, pada tahap ke dua adalah saat diam, seolah berpikir, ibu jari dan telunjuk menempel di dagu dan jari-jari lainnya mengepal, cukup dua detik saja. Kemudian pada tahap ketiga dengan raut wajah yang serupa dengan tahap pertama, saatnya mengucapkan kata "Apalagi jika ..." dibarengi dengan telunjuk teracung dan ujung telunjuk berada pada posisi sejajar hidung. Mengikuti kata "Apalagi jika ..." adalah ide-ide anda.
Jika kata "Apalagi jika ..." ini digunakan secara beruntun dengan bijak, maka hasil akhirnya bisa jadi ide sampeyan yang akhirnya jadi, sementara ide teman tadi hilang ditelan kemegahan ide sampeyan. Lha lantas edannya lagi itu teman yang tadinya mengemukakan ide awal merasa turut memiliki produk jadinya dan bisa-bisa dia malah berterima kasih sampai bongkokan ke sampeyan. Dengan kata lain yang lebih langsung-langsung saja .... sampeyan sudah menyuruh orang melaksanakan apa yang sampeyan mau dan orang yang disuruh dengan riang gembira dan dipenuhi rasa terima kasih melakukannya.
Mind deception? mungkin saja, walaupun (*menghindari kata tetapi*) saya lebih suka memakai kata "friendly diversion". Dalam dunia organisasi atau kepanitiaan di Indonesia, kemampuan ini tampaknya diperlukan bagi orang-orang dengan posisi sebagai dewan penasehat atau dewan pengarah.
Posted at 08:59 pm by Sir Mbilung
bangsari November 13, 2006 08:47 PM PST waduh, kalo ini sudah tingkat bos. saya kurang mudeng itu pakde...
qq November 11, 2006 07:02 PM PST Bagus tulisannya Pakde, apalagi jika .... blablabla...hehhehee
Ini kata-kata yang paling sering Qq denger klo hasil kerjaanku udh menjalani masa evaluasi :)
Anang November 11, 2006 12:10 AM PST wah analisisnya sangat detail... saya suka bacanyaa.. mudah dimengerti.. keren keren... pasti banyak komentar yang bermunculan lagi dibawahku ini hehehe.... (diatas ya yang benar)...
april November 10, 2006 10:17 AM PST idenya bagus...lebih bgs lagi kalau....(bla...bla) itu gaya bule sini, beda bgt ma gaya sipit 'not so good' katanya
venus November 10, 2006 12:09 AM PST ohohoho...baru denger saya. boleh boleh. bagus nih...hehehe...
'bagus sih, apalagi jika....'
iya juga ya mas? :D
nananias November 9, 2006 09:25 PM PST postingan sir ini bagus apalagi jika sir menjabarkan lagi hingga level mind deception eh friendly diversion dimana korban eh target merasa *harus* melakukannya, they feel important to do things for ya!
gimana? saya yakin tulisan itu akan keren sekali.
*pasang tampang seimut-imutnya, eh sir mind deception itu opo to?*