Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Hari ini di kantor ada beberapa orang yang harus saya temui, dan semuanya ndak ada. Salah saya juga, kenapa ndak pakai janjian dulu. Tetapi ada apa gerangan kok tiba-tiba banyak yang menghilang? Sedang cuti ternyata .... tapi kok ya barengan semua begitu? Selidik punya selidik ternyata itu orang-orang sedang ngejar burung dan ngejarnya ke tempat yang lumayan jauh dari Cambridge, mereka ke Dawlish di Devon sana .... kira-kira empat setengah jam ngebut dengan mobil dan mereka berangkat jam setengah empat pagi (harap dicatat, sekarang sudah musim gugur dan matahari ndak keluar hingga jam 7 pagi).
Lantas burung apa itu yang mau dilihat sampai membuat mereka tega mengorbankan cutinya? Ternyata sederek sedoyo, itu bukan burung langka, akan tetapi, inilah kali pertama burung ini terlihat di Eropa. Long-billed Murrelet (Brachyramphus perdix), begitu nama burung ini, adalah burung laut yang tempat tinggal normalnya adalah di Laut Pasifik Utara, mulai dari perairan Jepang hingga ke Laut Okhotsk di dekat Semenanjung Kamchatka. Kadang-kadang burung ini bisa saja nyasar ke Amerika Utara. Tapi kalau sampai nongol di Eropa begini, wajar saja jadi berita besar, lha wong nyasarnya ribuan mil begini. Lantas kegilaan yang masih sulit saya pahami inipun terjadi.
Bayangkan seekor burung yang ndak besar-besar amat, mengapung di laut, sementara ribuan orang dengan teropong mengarahkan pandangannya ke titik yang sama ... ke burung itu. Ribuan? ya ... ribuan, begitu berita dari BBC yang saya dapat. Kegilaan ini tampaknya masih akan terus berlanjut, karena yang minta ijin buat cuti masih ngantri.
Seharusnya saya ndak perlu terkaget-kaget dengan kegilaan ini. Para pengintai burung di Inggris memang dikenal gilanya. Bahkan ada sebutan sendiri bagi kelompok gila liat burung ini, twitcher. Kelompok ini betul-betul sinting, ekstrim malah. Di mana saja ada burung yang "langka" langsung dikejar. Jika birdwatcher biasa berbekal hanya teropong dan buku panduan pengenalan burung, kelompok ini masih ditambah dengan beeper (pager), hp dan kadang laptop yang terhubung dengan pusat pencatat burung langka. Pusat pencatat ini tidak memberikan akses cuma-cuma, harus berlangganan, bayar. Tidak jarang kendaraan para twitcher juga dilengkapi dengan peta berpemandu GPS (Global Positioning System) agar para twitcher bisa memilih jalan tersingkat menuju lokasi.
Sering ada cerita bagaimana burung nyasar pada suatu ketika memilih menclok di kebun seseorang. Maka...habislah kebunnya itu diserbu para twitcher. Atau bagaimana jalan yang mestinya bebas hambatan jadi macet karena ada burung langka menclok di pinggir jalan itu. Jadilah jalan bebas hambatan itu seperti lapangan parkir.
Pernah pada suatu ketika yang sudah agak lama, pintu kamar saya digedor dengan dahsyatnya di pagi buta. Lha saya yang masih kriyep-kriyep karena nyawanya belum ngumpul semua, nurut saja ketika diseret ikut untuk melihat burung yang katanya langka itu. Setelah bermobil dengan kecepatan tinggi selama dua jam lebih, tibalah kami di pinggiran pantai Norfolk yang berangin kecang dan bersuhu rendah. Tangan ini sudah susah memegang teropong karena gemetar kedinginan, sementara ada entah berapa ratus orang pagi itu yang sibuk nginceng semak belukar tempat burung itu bersembunyi. Lha kok ternyata burungnya "hanya" Siberian Thrush (Zoothera sibirica) yang pada saat-saat ini banyak dijumpai di Indonesia. Burung ini adalah burung migran yang berasal dari Siberia. Tentu saja saya misuh-misuh. Lha kalo yang begini saja banyak di Indonesia.
Indonesia dikaruniai kekayaan burung yang luar biasa, paling banyak jumlahnya se-Asia, di dunia nomer empat. Hanya saja yang namanya wisata pengamatan burung di Indonesia masih boleh dibilang sangat tertinggal dibandingkan dengan Thailand atau Malaysia. Wisatawan jenis ini sebenarnya adalah pasar yang sangat potensial. Dalam satu kali bepergian, ribuan dolar dihabiskan oleh seiap orang wisatawan, mereka hanya ingin melihat saja, ndak nangkep apalagi mau dimakan. Tambahan lagi, Indonesia memiliki ratusan jenis burung yang tidak terdapat di tempat lain di dunia, hanya ada di Indonesia, dan dalam soal burung unik ini, Indonesia ada di peringkat pertama di dunia.
Kami dari Kelompok Pemerhati Burung "Perenjak", Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB Insya Allah akan mengadakan Seminar Nasional Burung Indonesia dengan tema :
”Memasyarakatkan Birdwatching dalam Usaha Pelestarian Jenis Burung sebagai Penunjang Kegiatan Ekowisata di Indonesia”.
Adapun pembicara utama yang akan dihadirkan adalah :
1. Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam-Departemen Kehutanan RI.
2. Dr. Ir. Mochammad Indrawan (Presiden Indonesian Ornithologist Union)
3. Prof. dr. E.K.S. Harini Muntasib, MS (Ahli Ekowisata, Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB)
4. Ir. Jarwadi B. Hernowo, M.Sc.F (Ahli Burung, Dosen Fakultas Kehutanan IPB)
Selain itu, dalam seminar ini dibuka juga pendaftaran pemakalah sebagai Pembicara tambahan
Kegiatan ini rencananya akan diadakan pada Sabtu, 2 Juni 2007 dalam bentuk Seminar Ilmiah dan Wisata Birdwatching. Acara diadakan di kampus IPB Dramaga. Dalam kegiatan ini juga dibuka kesempatan bagi rekan-rekan yang ingin menyajikan makalah tentang burung (tema bebas), dapat mendaftar pada panitia. Kami tunggu rekan-rekan yang ingin berpartisipasi untuk mengikuti acara ini. Untuk konfirmasi silahkan menghubungi alamat sekretariat kami :
Tangkaran HIMAKOVA Departemen KSHE Fakultas Kehutanan IPB,
Telp/Faks. +62-251-623 978; +62-251-621947,
Email: kpbperenjak_himakova@yahoo.co.id
atau bisa juga ke contact person kami:
Tyas : 0856-79-491-89
Muthe : 0852-14-067-133
Harri : 0819-32-301-353
Untuk Pendaftaran Peserta
Mahasiswa D3/S1 : Rp 20.000,-
Mahasiswa S2/S3/Umum : Rp 35.000,-
Peserta Pemakalah : Rp 50.000,-
(Pendaftaran dapat juga melalui transfer ke Rekening Bank BNI Cab. Bogor, a.n Hendrio Fadly, No.Rekening : 0105537649
Atas kerja sama dan perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Hihihihiiii kalo jareku wisata birdwatching di Thailand itu maju karena juga tersedia (banyak) wisata sampingan model Sugumbit dan "gut prait aaa ... chip chip chip prait aaa ..."
kok mirip the mbombrok di belakang rumah saya ya, burung nya item yang bawah putih kakinya kuning,.. sukanya di semak-semak,.. ada lagi yang menyebutnya pitik-pitikan, trus burung yang laen kayak burung gemak yang larinya unik,.. setiap ada orang hanya muncul senak trus menghilang..
tapi jangan bilang-bilang para paparazi burung itu nanti rumahkku di serbu..
Dasar twitcher, kemana aja pasti di buru. Yang hebet lagi, informasinya yang begitu cepat sampai ke mereka. Bisa cerita sedikit pengorganisasiannya Kang? dari dulu saya penasaran, koq mereka bisa tau jenis A akan berada dimana pada saat kapan?