Seharian terkurung di kamar karena di luar dinginnya minta ampun, hujan -- selain tadi ada gempa kecil -- dan juga karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan -- juga blog yang harus diisi -- bikin otak saya terpatah-patah. Saking patahnya sampai bingung saya harus ndobos apa hari ini. Mau libur ndobos kok rasanya menyalahi kodrat.
Akhirnya saya putuskan untuk istirahat dulu dari pekerjaan dan blogwalking ke blog orang yang keadaan kepalanya lebih remuk redam dibandingkan saya ... Kang Mas Pecas Ndahe.
Lho ... ada dua cerita wayang, yang satu malah belum tuntas. Satu tentang Drupadi putri Pancala istri Yudistira yang teraniaya karena suami kalah main dadu. Satu lagi tentang gugurnya sang ksatria besar ... Bhisma. Drupadi dinista lelaki, Bhisma roboh di kurusetra oleh perempuan titisan Amba -- yang memuja dan mencinta Bhisma. Dua hal yang tampak berbeda tetapi buat saya paling tidak keduanya memiliki dua kesamaan.
Kepasrahan, walaupun tidak total. Drupadi rela teraniaya tapi ia tak pernah menggelung kembali rambutnya sebelum dicuci dengan darah Dursasana, begitu sumpahnya. Bhisma yang rela menerima panah tak segera melepas nyawa, dia masih memberi petuah kepada cucu-cucunya, juga pada Yudistira dalam nyanyian Wisnu Sahasranama.
Drupadi dan Bhisma adalah tumbal dari perseteruan besar sebuah keluarga. Perseteruan yang juga menuntut tumbal-tumbal lain semacam Gatotkaca putra Bima yang rela menerima Kunta sang Adipati Karna agar pamannya -- Arjuna -- selamat. Atau Wisanggeni satria tanpa tata krama, putra Arjuna yang harus merelakan nyawanya atas bujukan Kresna sebelum perang besar di Kurusetra itu terjadi.
Dua tulisan itu mengingatkan saya akan tugas yang mesti saya lakukan hari ini. Maka ndoboslah saya sekarang. Bumi gonjang ganjing langit kelap kelap .... kulo ndamel blog mawon.
Posted at 07:08 pm by Sir Mbilung