Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Saturday, April 08, 2006
Otak Patah Kepala Picah

Seharian terkurung di kamar karena di luar dinginnya minta ampun, hujan  -- selain tadi ada gempa kecil -- dan juga karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan -- juga blog yang harus diisi -- bikin otak saya terpatah-patah. Saking patahnya sampai bingung saya harus ndobos apa hari ini. Mau libur ndobos kok rasanya menyalahi kodrat.

Akhirnya saya putuskan untuk istirahat dulu dari pekerjaan dan blogwalking ke blog orang yang keadaan kepalanya lebih remuk redam dibandingkan saya ... Kang Mas Pecas Ndahe.

Lho ... ada dua cerita wayang, yang satu malah belum tuntas. Satu tentang Drupadi putri Pancala istri Yudistira yang teraniaya karena suami kalah main dadu. Satu lagi tentang gugurnya sang ksatria besar ... Bhisma. Drupadi dinista lelaki, Bhisma roboh di kurusetra oleh perempuan titisan Amba -- yang memuja dan mencinta Bhisma. Dua hal yang tampak berbeda tetapi buat saya paling tidak keduanya memiliki dua kesamaan.

Kepasrahan, walaupun tidak total. Drupadi rela teraniaya tapi ia tak pernah menggelung kembali rambutnya sebelum dicuci dengan darah Dursasana, begitu sumpahnya. Bhisma yang rela menerima panah tak segera melepas nyawa, dia masih memberi petuah kepada cucu-cucunya, juga pada Yudistira dalam nyanyian Wisnu Sahasranama.

Drupadi dan Bhisma adalah tumbal dari perseteruan besar sebuah keluarga. Perseteruan yang juga menuntut tumbal-tumbal lain semacam Gatotkaca putra Bima yang rela menerima Kunta sang Adipati Karna agar pamannya -- Arjuna -- selamat. Atau Wisanggeni satria tanpa tata krama, putra Arjuna yang harus merelakan nyawanya atas bujukan Kresna sebelum perang besar di Kurusetra itu terjadi.

Dua tulisan itu mengingatkan saya akan tugas yang mesti saya lakukan hari ini.  Maka ndoboslah saya sekarang. Bumi gonjang ganjing langit kelap kelap .... kulo ndamel blog mawon.


Posted at 07:08 pm by Sir Mbilung

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry