Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Thursday, November 16, 2006
Romeo Error dan Anjing Itu

Membongkar-bongkar arsip dan membaca tulisan-tulisan tentang kepunahan spesies membuat saya rajin menarik napas panjang, ada terlalu banyak cerita sedih di situ. Tidak seluruhnya sedih karena ada satu bagian di mana saya bisa tersenyum geli. Tulisan tentang suatu tempat di negara tetangga, Philippina, dan tempat itu bernama Pulau Cebu. Awal ceritanya memang sedih, bagaimana pulau yang sangat penting bagi upaya penyelamatan burung ini praktis diabaikan dari upaya pelestarian burung hanya karena sebuah tulisan yang dibuat oleh seorang ahli ternama dan sangat dihormati yang dimuat di sebuah jurnal terkenal. Ahli ternama dan dihormati itu menulis pada tahun 1958 (diterbitkan tahun 1959) bahwa hutan di Pulau Cebu sudah habis bis bis, tak ada lagi harapan di pulau itu. Tulisan tersebut ternyata tidak seluruhnya benar dan pada saat kesalahan fatal tersebut disadari, semuanya sudah terlambat. Kesalahan besar tersebut diungkap dalam sebuah tulisan yang berjudul "Extinction by assumption; or, the Romeo Error on Cebu" yang diterbitkan pada tahun 1998.

Kesalahan tersebut begitu menggelikan buat saya. Bagaimana bisa sang ahli, yang berasal dari Cebu, melewatkan satu kejadian maha penting dalam sejarah Philippina yang menjadi bukti bahwa masih ada hutan sangat luas dan lebat di Cebu pada tahun 1957. Ceritanya pada bulan Maret 1957 terjadi sebuah kecelakaan pesawat udara di Cebu, pesawat tersebut menabrak Gunung Manung-gal (tanda "-" bukan kesalahan ketik, memang begitu menulisnya). Penumpang pesawat tersebut bukan orang sembarangan, dia adalah Ramon del Fierro Magsaysay, Presiden Philippina kala itu. Lha wong yang kecelakaan itu pesawat kepresidenan je, tentu saja segala daya upaya dikerahkan untuk mencarinya. Tetapi apa daya upaya itu menemui hambatan besar .... hutan yang lebat. Surat kabar Manila Chronicle pada tanggal 18 Maret 1957 menulis "resident of Mt. Manung-gal said it was not possible to determine if there were any other survivors because of the thickness of the forest in the area", lantas ada juga kutipan dari ucapan Mayor of Cebu City yang mengatakan "you can hardly see 10 ft. away".

Akhirnya lokasi jatuhnya pesawat bisa ditemukan, bukan dari hasil pencarian besar-besaran itu tapi lokasi tersebut bisa ditemukan karena ada satu orang yang selamat, Nestor Mata (seorang wartawan) yang ditemukan di lokasi kecelakaan oleh anjing yang dimiliki oleh Marcelino Nuya (seorang petani yang hidup di gunung itu). Nuya kemudian membopong Mata turun dari Gunung Manung-gal (cerita lain menyebutkan Nuya kembali ke desa dan memanggil teman-teman desanya untuk membopong Mata turun). Singkat cerita, lokasi jatuhnya pesawat ditemukan atas informasi dari Mata dan Nuya.

Hutan berkali-kali disebut dalam berita-berita seputar kecelakaan pesawat yang penting itu, akan tetapi informasi tersebut seolah tidak ada dan sang ahli burung ternama itu justru menulis kalau tak ada hutan di Cebu. Karena tulisan itu, tak ada yang melirik Cebu. Saat ini Cebu sudah betul-betul remuk redam. Aaaah ... andai saja tulisan itu tidak pernah diterbitkan. Aaaah ... andai saja ahli itu dan para ahli lainnya tak hanya hidup dalam gelembungnya sendiri, gaoool getoo loooh, mungkin masih ada hutan agak besar di Cebu sekarang. Saya hanya tersenyum kecut.

Penelusuran lebih jauh tentang kecelakaan tersebut membawa saya ke cerita lanjutan tentang Nuya dan anjingnya, para penemu lokasi jatuhnya pesawat itu. Pada akhirnya Nuya dan anjingnya dianugrahi tanda jasa kenegaraan. Upacara pemberian tanda jasa untuk Nuya dilakukan di Cebu City, sementara untuk anjingnya Nuya dilakukan di Istana Malacanang. Maka ijinkanlah saya untuk tersenyum sekali lagi.

Tulisan ini didedikasikan untuk Lionel, Tigger dan Dollie.


Posted at 08:47 pm by Sir Mbilung

bangsari
November 19, 2006   05:12 PM PST
 
apa di filipina anjing lebih berharga dari manusia yang petani pakde?
tito
November 16, 2006   09:26 PM PST
 
Dollie itu anjingku...horeee....Dollie..kamu masuk blog Ndobos pol..*ngajak dollie salaman, peluk-peluk*
kewan ini (asu) walaupun najis, loyal lho.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry