Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Sabtu lepas tengah hari, udara cerah ndak ketulungan, nyaris tidak berawan dan matahari leluasa senyum-senyum. Hanya saja hari ini dinginnya minta ampun. Itu juga sebabnya saya lebih betah mlungker kayak luwing di kamar hingga kelaparan dan ini berarti saya harus ke kota. Setelah membungkus diri hingga mirip lontong dan tak lupa memakai kupluk penutup kepala sehingga mempertegas kelontongan saya, maka berjalan kakilah si manusia tropis ini menuju kota. Wah iya, betul-betul cerah ternyata, walaupun dinginnya kebangetan. Taman yang saya lintasi dipenuhi orang, semua melontongkan diri beraneka warna. Makin dekat ke pusat kota, makin banyak saja orangnya, dan inilah pemandangan di pusat kota itu.
Pasar tradisional terletak di sebuah lapangan terbuka di jantung kota dan hari itu ada begitu banyak orang dengan beragam kegiatannya. Ada yang berdemonstrasi memaki Partai Komunis Cina yang melarang Falun Gong. Beberapa belas langkah dari tempat demonstrasi ada sebuah kios baju yang menjual kaos berwarna merah bergambar Mao atau Che. Ada yang ngamen dengan bermain musik (bag pipes, saxophone dan main ban kumplit) sembari berjualan CD rekaman lagu-lagu yang mereka produksi sendiri. Ada juga yang ngamen memakai kostum anjing dan bertingah seperti anjing lengkap dengan kandang anjingnya yang bikin bingung anjing beneran yang dibawa sang tuan melihat pertunjukan itu. Pengamen anjing begini tidak berjualan DVD tingkahnya (tak ada VCD yang dijual di Inggris, entah kenapa). Di sisi lain pasar, seorang tunawisma sibuk berteriak-teriak menjual majalah Big Issue. Ada pula yang membagi-bagikan selebaran untuk menentang perdagangan bebas dan mengutuk perusahaan besar dan multinasional yang dituding tak berkeadilan dan tak berperikemanusiaan, sambil sesekali para pembagi selebaran bergantian masuk ke dalam toko Marks & Spencer untuk menghangatkan diri.
Pasar tradisional itu memang dikelilingi oleh banyak toko-toko bernama besar, ada McDonald's, Starbucks, Marks & Spencer, Body Shop, HMV dan semua dijejali banyak orang. Demikian juga warung-warung makanan pinggir jalan yang penuh antrian, ada yang jualan kopi, hot dog, burger, fish and chips dan juga es krim (gendeng po tuku es krim dingin-dingin, mbok ganti jualan bandreg saja). Tidak ada kendaraan beroda empat yang bisa masuk ke tengah kota Cambridge, hanya bus, taxi, ambulans, pemadam kebakaran dan mobil polisi yang diperkenankan masuk. Jalan-jalan di dekat pusat kota dipasangi "saringan mobil" seperti tiang yang bisa naik dan turun nyungsep ke dalam jalanan secara otomatis. Sesekali terlihat polisi yang berjalan berpatroli berpasangan. Semua aman terkendali, paling tidak begitu tampaknya.
Lha sayanya ngapain? ya menikmati tontonan kesibukan orang-orang itu, ndak bisa ngomong. Bukan kagum atau kehilangan kata-kata, mulut saya sedang penuh dijejali kebab yang dijual orang Turki di gerobag dorongnya. Dingin sekali hari ini, tapi perut saya aman terkendali sekarang.
Posted at 07:22 am by Sir Mbilung
Alex Ramses November 26, 2006 07:18 PM PST Jadi kepikiran ide buka warung cemoe di tengah kota cambridge, sekalian warungnya buat tempat nggedobosss orang-orang.
widya November 23, 2006 08:22 PM PST bwahahahaa...walah pakde...lha wong dingin dingin kok larinya ke lontong lontong, jenengan ki nek cerito yo lucu buanget je..
oriey November 22, 2006 11:47 AM PST detail sekale ceritane...keren.. imajinatif, daya ingat yang kuat. ck..ck..ck.. kayak novel mimpi-mimpi einstein iyo po yo?
ndobos po ra ki??
Luthfi November 20, 2006 11:55 AM PST yang penting kenyang, kemudian mlungker lagi (ronde kedua) :-)
wd November 20, 2006 09:17 AM PST saumpami bibar dhahar kebab njuk ngunjuk bandreg.. nyampleng mesthi nggih.. hue.he.he.
nananias November 19, 2006 06:33 PM PST ndak ada mendoan, kebabpun jadilah :p
berarti itu lontong yang makan kebab ya? blaik!
dirac November 19, 2006 06:03 PM PST hmmm... koq mirip di Brisbane ya Pakdhe?
Hedi November 19, 2006 05:19 PM PST kalau mau ngilangin dingin, mestinya panjenengan ikut demo Falun Gong itu...bisa panas kan :d