Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Indie sebagai kependekan dari independent masuk dalam ranah budaya pada sekitar akhir abad ke dua puluh. Berciri bebas, ndak umum atau ndak mainstream, apa kata gue, pokoknya lu liat, tonton atau dengerin aja deh. Kalau suka ya bungkus kalau ndak suka ya tinggal memalingkan muka atau dengar yang lain. Gitu aja kok repot ... Lha, di pusat kota yang saya cerita kemarin itu, banyak seniman indie. Berunjuk kebolehan secara langsung di depan orang banyak. Buat seniman musik selain berunjuk kebolehan mereka juga menggelar hasil rekaman kebolehan mereka dalam bentuk CD yang lantas ditawarkan kepada para calon penggemar. Kalau seniman dalam bentuk lain, seperti pantomime, ya hanya bisa meraup receh dari para penikmatnya.
Lantas ingatan saya melayang ke para penghibur jatilan di Yogja, seniman jalanan dalam bus atau di warung-warung kaki lima. Beberapa dari mereka memiliki kualitas sangat layak pirsa, dan jika kemudian mereka seperti terperangkap pada situasi "terpinggirankan", buat saya itu adalah sesuatu yang patut disayangkan. Ada berapa banyak jiwa yang bisa diperkaya oleh karya mereka jika saja mereka bisa menjangkau telinga atau rasa lebih banyak orang.
Dalam dunia ngeblog begini, wadoh .... itu ada banyak orang dengan talenta luar biasa yang entah karena faktor rendah hati atau rendah diri (ndak gegeden rumangsan atau narsis kayak saya ini) seolah tersembunyi dan kilau ketidak mainstreaman mereka itu tidak terlihat. Mereka unik, ada jawara lukis, ada pula artis CSS (cascading style sheets) dan template yang bisa membuat sebuah blog menjadi lebih layak saji, paling tidak secara penampilan. Lantas saya berandai-andai, aaah kalau saja mereka berani tampil alangkah beruntungnya kita semua.
Buat saya, mau genjrengan, pentalitan dan petakilan di jalan atau mau bermain-main dengan tata saji blog, ujungnya sama saja. Ada jiwa yang bakal terpuaskan dan para pelakunya layak mendapat perhatian. Soal sajiannya disenangi atau tidak oleh khalayak, itu soal lain. Maka awe-awe saya buat yang masih "bersembunyi", ayo nda ... jangan malu-malu, karena sampeyan bisa bikin banyak orang yang kekencengan menepuk dada (seperti saya ini) menjadi malu akan kesombongan diri sendiri. Menyadarkan orang sombong itu pahala lho ... begitu?
Posted at 07:20 am by Sir Mbilung
gaussac November 20, 2006 10:51 PM PST betul pak, banyak para pengamen disini memiliki kualitas vokal dan aransemen yang digubah sangat apik sekali.
namun sayang, mereka sedikit pun tak dilirik oleh para produser.
mo bikin sample mungkin mereka ga ada dana untuk segala macamnya...
ndoro kakung November 20, 2006 06:29 PM PST lah sampean kan juga bersembunyi bareng saya to kang ... :-D
saya juga sering liat mereka yang ngamen pak mbawa rombongan, pake riasan, pake pakaian tari, terus nari atau nyanyi jathilan dari rumah ke rumah, warung ke warung, sering disamakan sama mereka yg cuma modal icik-icik dari tutup botol itu..
harusnya mereka yg mau "berusaha ini" harusnya bisa lebih di apresiasi..
saya jg setuju sama wd. masyarakat kita kurang bisa menghargai hasil karya orang lain.. :)
tito November 20, 2006 03:16 PM PST kalau banyak terekspos sih bukan mainstream. Ayo kanca-kanca pameer gambar!!
Blanthik Ayu November 20, 2006 12:40 PM PST ehem...ehem..bukannya saya ndak mau narsis kayak sampeyan Sir..cuma ndak enak kalo diserbu fans hehehehe :p
vietkong kemproh November 20, 2006 11:09 AM PST nuwun sewu.. begini lho pakdhe.. kadang kekemprohan sebuah blog yang memaksa ownernya untuk udau udud sendirian ndak nyusahi wong liyo..
wd November 20, 2006 09:14 AM PST iya pakde.. sayangnya apreasiasi masyarakat kita pada ekspresi kreatif kayak begini masih sering bikin gigit jari.. salam awe2.. :)