Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Memberi nama pada mahluk hidup adalah salah satu tugas taksonomis di bidang ilmu hayat. Nama yang diberikan disepakati mengambil dari kata dalam Bahasa Latin atau Bahasa Yunani kuno, atau nama yang dilatinkan, sehingga nama ilmiah jenis mahluk hidup sering juga disebut dengan nama latin. Nama ilmiah mahluk hidup ini terdiri dari dua kata (binomial) dengan kata pertama adalah nama marganya (genus) dan huruf pertamanya ditulis dengan huruf besar. Biasanya dicetak dengan huruf miring (italic) atau jika menggunakan tulisan tangan, nama ilmiah tersebut digaris bawahi). Misal, Burung gereja bernama ilmiah Passer montanus atau jika ditulis dengan tulisan tangan menjadi Passermontanus.
Janganlah menjadi resah dan gelisah sederek sedoyo, saya ndak akan ndobos soal taksonomi yang mbulet njelimet. Mungkin sama seperti sampeyan saya ini juga penikmat hasil kerja para taksonomis itu saja. Menikmati? lho iya ... apalagi jika pikiran saya sedang awut-awutan seperti ketika menulis postingan ini. Maka hasil kerja susah-susah berdarah-darah para taksonomis itu malah jadi pemicu tawa karena jenaka (paling tidak buat saya). Mari kita lihat beberapa contohnya.
Foadia adalah nama marga dari kumbang yang ditemukan di kulit batang mangrove di Florida Keys di Amerika sana. Bemper penyok ... itu FOAD kan singakatan dari fuck off and die. Gosipnya, itu sang pemberi nama, Pakaluk, sengaja memberi nama itu.
Nama ilmiah lain juga bikin geleng-geleng kepala, soal ini saya pernah cerita pada Ndoro Kakung Pecas dan ditulisnya di sini. Kalau sampeyan males baca di tempatnya Ndoro Kakung, begini ceritanya. Pada jaman dahulu kala, apa-apa yang mengacu pada kegagahan itu disambung-sambungkan dengan jumlah zakar. Maka ada elang yang lantas namanya mengandung kata triorchis atau tiga zakar. Elang yang hidup di Papua itu diberi nama genus Erythrotriorchis yang artinya tiga zakar yang kemerah-merahan. Gendengnya lagi ada elang lain yang juga hidup di Papua diberi nama Megatriorchis ... lhaaa tiga zakar raksasa.
Ada pula nama ilmiah yang kalau diplesetkan sedikit, kata itu dalam Bahasa Inggris menjadi kata yang kasar. Tengok saja nama jenis laba-laba ini, Eremobates inyoanus, lha kata keduanya itu lho inyoanus. Hanya saja, favorit saya, yang baru saja saya temukan, adalah nama marga burung jenjang. Bugeranus. Silahkan dicari sendiri plesetannya, saya ndak tega nulisnya. Hanya saja, Pak dokter bilang, Bugeranus bisa membuat ada apa-apa inyoanus .... saya sih percaya saja, lha wong dia dokter je.
"Kenakalan" para taksonomis seperti contoh-contoh kecil di atas ada banyak sekali ternyata. Sayangnya, yang begini-begini tak pernah diberikan di mata kuliah taksonomi tumbuhan atau taksonomi hewan. Mata kuliah taksonomi identik dengan hapalan mati dan kebosanan tingkat akut. Atau mungkin dosen taksonominya ndak tau ada plesetan begini ya? Mungkin karena ini juga saya ndak pernah diterima bekerja jadi dosen. Lha mosok ono dosen sing cangkeme ember bocor?
Posted at 12:00 am by Sir Mbilung
siska March 19, 2009 06:36 PM PDT ga tau deh mo comments apa............................................????
cool July 26, 2007 09:44 PM PDT mau tau aja ? hehe....^^
Arip November 23, 2006 06:05 PM PST Jadi inget Homo sapien yang pasti sangat sedih kalau lagi kena Fractura hepatica (patah hati) he3..
Luthfi November 22, 2006 09:32 PM PST iya, dosen avertebrataku pernah bilang : kalo ini sudah ilmu mati (harus dihapal), ujung2nya aku dapet C :-(
bagonk November 22, 2006 09:20 AM PST iki sakjane ilmiyah opo saru tooo... :P
fahmi jelek November 22, 2006 01:09 AM PST hehe jadi inget teman saya adrianus pernah ngomong (guyon) tentang pithecanthropus erecsiterus :p