Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Katanya burung yang satu ini hinggap di jendela sambil tek dung tralala, sementara orang di dekatnya memanggil-manggil ... Yakoooob Yakooob. Tapi percayalah, jendela bukanlah tempat tangkringan kakatua yang umum, tangkringan kakatua adalah di dahan dan ranting pohon. Kakatua-kecil jambul-kuning atau Yellow-crested Cockatoo (Cacatua sulphurea) hanya terdapat di Indonesia dan Timor Leste. Mari kita tengok kisah sang kakatua yang mestinya ndak hinggap di jendela ini. Dengan bulu putih bersih, jambul dan pipi kuning burung ini terlihat indah di alam, kontras dengan warna hutan yang hijau. Bedanya dengan jenis lain yang tangkringannya mirip yaitu Cacatua galerita, pada Cacatua sulphurea pipinya berwarna kuining sedangkan Cacatua galerita badannya lebih besar dan tak ada warna kuning pada pipi.
Kakatua-kecil jambul-kuning termasuk dalam keluarga burung berparuh bengkok (Parrot) dan memiliki empat anak jenis (sub-species) yaitu, anak jenis sulphurea yang ada di Sulawesi dan sekitarnya, anak jenis parvula yang ada di Nusa Penida dan Nusa Tenggara (termasuk Timor Leste), anak jenis citrinocristata hanya terdapat di Pulau Sumba dan yang terakhir yang badannya paling besar dari jenis ini adalah anak jenis abbotti (bukan ngaboti) yang hanya ada di Kepulauan Masalembo. Lha dari semua anak jenis itu, citrinocristata adalah satu-satunya yang berjambul oranye sesuai namanya itu. Mungkin nama burung ini dalam Bahasa Indonesia harus diganti jadi Kakatua-kecil jambul-kuning tapi-oranye, asal jangan ditambahi ... pake-sendal-jepit-celana-cutbrai-baju-kotak-kotak-sisiran-belah-kiri-tanpa-kopiah.
Hanya saja kebagusan burung ini juga mengancam kelangsungan hidupnya. Burung ini sering jadi sasaran pemburu untuk ditangkap hidup-hidup dan lantas dijual sebagai hewan peliharaan. Berhubung burung ini senengnya hidup secara keluarga besar nan bahagia bergerombol ke mana-mana, dan kalau tidur sering barengan di tempat yang kemudian dinamai pohon tidur (walaupun yang tidur itu burungnya .... bukan burungnya pohon, tapi burung .... ah sudahlah), maka pemburu burung dengan mudah menangkap burung ini dalam jumlah besar dalam satu kali operasi penangkapan (kok kayak operasi garukan ya?). Cara nangkapnya ya macam-macam, ada yang dengan jerat, getah dan ada pula yang dengtan jaring.
Relatif mudahnya menangkap burung ini menjadikan kakatua ini menjadi jarang ditemui lagi di rumah aslinya, di alam liar. Tengok saja, jumlahnya makin lama makin sedikit bahkan itu kakatua yang ada di Sulawesi sudah hilang dibanyak tempat, sebuah contoh kepunahan lokal. Sementara kakatua yang di Nusa Penida, Bali, hanya tinggal 3 ekor. Padahal dulunya (sekitar tahun 1911) disebut agak umum burung ini di Nusa Penida. Lantas jumlahnya turun drastis dan pada tahun 1998 dilaporkan burung ini hanya tinggal enam ekor saja, lha sekarang.... ya 3 ekor itu. Sedih? nanti dulu, itu yang ada di Kepulauan Masalembo (Cacatua sulphurea abbotti) malah tampaknya sudah punah sama sekali!!! Piye iki jal? Karena hal ini juga maka Kakatua-kecil jambul-kuning ini lantas dimasukan dalam daftar hewan terancam punah dengan status keterancaman tertinggi Kritis (Critically Endangered).
Burung ini memakan biji, buah dan mungkin juga bunga dari tumbuhan hutan. Selain sebagai sumber makanan, pohon-pohon besar di hutan sangat penting untuk tempat burung ini beristirahat dan bersarang. Mereka membuat sarang untuk bertelur di lubang-lubang pohon yang besar. Letak lubang sarang itu tinggi di atas pohon, pokoknya bakal capek sampeyan manjatnya kalo mau lihat sarangnya.
Begitulah kakatua yang satu ini. Sedih juga kalau melihat mereka sampai nangkring di jendela menemani nenek tua yang giginya tinggal dua itu, apalagi kalau kakinya dirantai ... maksudnya kaki kakatuanya yang dirantai bukan kaki nenek bergigi dua.
pandi November 10, 2009 03:31 PM PST Aku punya kakatua jambul kuning, awalnya kudapat kakinya ada rantainya lalu kubuang rantainya dan kumasukkan kandang jeruji, pengin mencarikan pasangan biar berkembang biak, adakan yng tahu gmn caranya? soalnya jangan sampai punah gitu lho.
Ali Rahmat January 27, 2007 03:21 PM PST Salam kenal dari Jakarta.
Namanya lucu, Bilung. Kaya nama email temenku di milis Banyumasan.
DEWI November 27, 2006 12:26 PM PST Hemmm...sayang ya kesadaran untuk ikut mejaga kelestarian satwa yang critically indangered masih sangat kurang..pada tahu dong kalo tu burung jenis yang terancam punah. ayo dong ikut sadar juga untuk membiarkan mereka bebas di alam... jangan pada melihara di rumah!!
Hedi November 25, 2006 09:58 PM PST wah iya tuh, burung itu lancar bgt ngomong yakub...yakub...trus terakhirnya ketawa hehehehe...konyol
waktu di Malang, temenku punya satu tp udah ga bisa terbang, walah ngerusak isone, kabeh dicokoti tapi sayang dicolong tukang koran :(
Anang November 25, 2006 03:01 AM PST burungnya lucu
Blanthik Ayu November 24, 2006 06:59 PM PST waktu kecil pernah hampir di patuk hiks...sok akrab soale akune :D
dendi November 24, 2006 01:31 PM PST di jakarta juga melihara satu..
lucu banget, udah jinak..
pernah lepas, waktu hujan gitu.. tapi untuung bisa ketangkep lagi.
warisan dari kakek kami sih..
JAKOOOBBB
gambarnya ada disini:
http://flickr.com/photos/mociman/245184851/
nana November 24, 2006 11:24 AM PST saya tetep pengen lovebird. ga mauuu meski yang ini juga cantik. eh iyah cantik banget euy. dan bener banget kecantikannya tidak untuk ternikmati saat si cantik terantai kakinya :)
chantee November 24, 2006 10:39 AM PST hiks...jadi inget sey kiong..kakak tuaku yg pinter saban pagi manggil chantee cantik..chantee cantik hehehe
bangsari November 24, 2006 09:37 AM PST pertama. pakde, gimana sih cara para ahli burung menghitung kuantitas burung langka yagn masih tersisa dialam?
kedua. kalo dah tahu kakatua itu tinggal 3 ekor, kenapa tak ditangkap sekalian dan ditangkarkan? bukankah itu lebih baik daripada membiarkan mereka ditangkap pemburu liar?