Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, November 24, 2006
Kakatua-kecil jambul-kuning

Seribu Intan nomer 7

Katanya burung yang satu ini hinggap di jendela sambil tek dung tralala, sementara orang di dekatnya memanggil-manggil ... Yakoooob Yakooob. Tapi percayalah, jendela bukanlah tempat tangkringan kakatua yang umum, tangkringan kakatua adalah di dahan dan ranting pohon. Kakatua-kecil jambul-kuning atau Yellow-crested Cockatoo (Cacatua sulphurea) hanya terdapat di Indonesia dan Timor Leste. Mari kita tengok kisah sang kakatua yang mestinya ndak hinggap di jendela ini. Dengan bulu putih bersih, jambul dan pipi kuning burung ini terlihat indah di alam, kontras dengan warna hutan yang hijau. Bedanya dengan jenis lain yang tangkringannya mirip yaitu Cacatua galerita, pada Cacatua sulphurea pipinya berwarna kuining sedangkan Cacatua galerita badannya lebih besar dan tak ada warna kuning pada pipi.

Kakatua-kecil jambul-kuning termasuk dalam keluarga burung berparuh bengkok (Parrot) dan memiliki empat anak jenis (sub-species) yaitu, anak jenis sulphurea yang ada di Sulawesi dan sekitarnya, anak jenis parvula yang ada di Nusa Penida dan Nusa Tenggara (termasuk Timor Leste), anak jenis citrinocristata hanya terdapat di Pulau Sumba dan yang terakhir yang badannya paling besar dari jenis ini adalah anak jenis abbotti (bukan ngaboti) yang hanya ada di Kepulauan Masalembo. Lha dari semua anak jenis itu, citrinocristata adalah satu-satunya yang berjambul oranye sesuai namanya itu. Mungkin nama burung ini dalam Bahasa Indonesia harus diganti jadi Kakatua-kecil jambul-kuning tapi-oranye, asal jangan ditambahi ... pake-sendal-jepit-celana-cutbrai-baju-kotak-kotak-sisiran-belah-kiri-tanpa-kopiah.

Hanya saja kebagusan burung ini juga mengancam kelangsungan hidupnya. Burung ini sering jadi sasaran pemburu untuk ditangkap hidup-hidup dan lantas dijual sebagai hewan peliharaan. Berhubung burung ini senengnya hidup secara keluarga besar nan bahagia bergerombol ke mana-mana, dan kalau tidur sering barengan di tempat yang kemudian dinamai pohon tidur (walaupun yang tidur itu burungnya .... bukan burungnya pohon, tapi burung .... ah sudahlah), maka pemburu burung dengan mudah menangkap burung ini dalam jumlah besar dalam satu kali operasi penangkapan (kok kayak operasi garukan ya?). Cara nangkapnya ya macam-macam, ada yang dengan jerat, getah dan ada pula yang dengtan jaring.

Relatif mudahnya menangkap burung ini menjadikan kakatua ini menjadi jarang ditemui lagi di rumah aslinya, di alam liar. Tengok saja, jumlahnya makin lama makin sedikit bahkan itu kakatua yang ada di Sulawesi sudah hilang dibanyak tempat, sebuah contoh kepunahan lokal. Sementara kakatua yang di Nusa Penida, Bali, hanya tinggal 3 ekor. Padahal dulunya (sekitar tahun 1911) disebut agak umum burung ini di Nusa Penida. Lantas jumlahnya turun drastis dan pada tahun 1998 dilaporkan burung ini hanya tinggal enam ekor saja, lha sekarang.... ya 3 ekor itu. Sedih? nanti dulu, itu yang ada di Kepulauan Masalembo (Cacatua sulphurea abbotti) malah tampaknya sudah punah sama sekali!!! Piye iki jal? Karena hal ini juga maka Kakatua-kecil jambul-kuning ini lantas dimasukan dalam daftar hewan terancam punah dengan status keterancaman tertinggi Kritis (Critically Endangered).

Burung ini memakan biji, buah dan mungkin juga bunga dari tumbuhan hutan. Selain sebagai sumber makanan, pohon-pohon besar di hutan sangat penting untuk tempat burung ini beristirahat dan bersarang. Mereka membuat sarang untuk bertelur di lubang-lubang pohon yang besar. Letak lubang sarang itu tinggi di atas pohon, pokoknya bakal capek sampeyan manjatnya kalo mau lihat sarangnya.  

Begitulah kakatua yang satu ini. Sedih juga kalau melihat mereka sampai nangkring di jendela menemani nenek tua yang giginya tinggal dua itu, apalagi kalau kakinya dirantai ... maksudnya kaki kakatuanya yang dirantai bukan kaki nenek bergigi dua.

Foto Tony Tilford diambil dari sini.


Posted at 08:08 am by Sir Mbilung

indra sukma
July 15, 2010   01:58 PM PDT
 
Hu.........sedih sekali nasip burung2 di indonesia
didik hartono hondawan
December 28, 2009   05:19 PM PST
 
hahaha..gw setuju ma bangsari...gw akin pasti metodenya gak gitu akurat...belom lagi areal samplingnya yg nggak merata...solusinya...permudah perizinan penangkaran...perketat jalur import ilegal...berikan pelatihan bagi petugas bksda untuk memberikan penyuluhan..bukan hanya kewenangan menyita tapi juga memberikan pencerahan...hehehe
gunawan
December 9, 2009   11:14 AM PST
 
ak punya, betina udah bertelur 3 kali meski ndak ada jantannya, ukuran panjang kira kira 30 cm, warna putih, orange, jambul kuning, pipi orange. jelas betina bos
DEWI
November 27, 2006   12:26 PM PST
 
Hemmm...sayang ya kesadaran untuk ikut mejaga kelestarian satwa yang critically indangered masih sangat kurang..pada tahu dong kalo tu burung jenis yang terancam punah. ayo dong ikut sadar juga untuk membiarkan mereka bebas di alam... jangan pada melihara di rumah!!
Anang
November 25, 2006   03:01 AM PST
 
burungnya lucu
Blanthik Ayu
November 24, 2006   06:59 PM PST
 
waktu kecil pernah hampir di patuk hiks...sok akrab soale akune :D
chantee
November 24, 2006   10:39 AM PST
 
hiks...jadi inget sey kiong..kakak tuaku yg pinter saban pagi manggil chantee cantik..chantee cantik hehehe
bangsari
November 24, 2006   09:37 AM PST
 
pertama. pakde, gimana sih cara para ahli burung menghitung kuantitas burung langka yagn masih tersisa dialam?

kedua. kalo dah tahu kakatua itu tinggal 3 ekor, kenapa tak ditangkap sekalian dan ditangkarkan? bukankah itu lebih baik daripada membiarkan mereka ditangkap pemburu liar?
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry