Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Thursday, April 13, 2006
Kota Sunyi

Tadi malam saya baru sadar betapa sepinya Tokyo ini walaupun disesaki oleh lebih dari 12 juta jiwa -- itu baru orang lho, belum kalo yang bukan orang ikut dihitung bisa berlipat-lipat jadinya. Sepi terutama untuk saya. Di tempat ini saya bisu (nggak bisa ngomong Jepang), tuli (nggak ngerti orang Jepang ngomong apa) dan buta huruf (nggak bisa baca tulisan Jepang), maklum saya dipindah mendadak ke tempat ini.

Lepas dari semua keterbatasan saya itu, Tokyo adalah kota yang sunyi. Tidak percaya? mari ikut saya pulang dari kantor. Kantor saya ada di Shinjuku dan stasiun kereta Shinjuku yang katanya disesaki oleh lebih dari 3 juta orang per-harinya itu adalah tujuan pertama. Orang mengalir seperti air bah, serba cepat, tetapi suara paling keras di stasiun itu adalah suara hentakan sepatu. Semua orang bergegas dengan ekspresi wajah yang nyaris sama, dingin, pandangan lurus ke depan, mulut terkatup rapat, kecuali mulut saya yang ndlongop dan pandangan mata saya yang pecicilan lirik sana lirik sini.

Tiba di peron, antrian biasanya sudah panjang. Ngantrinya tertib tapi ya itu tadi, semua diam. Sibuk dengan bacaan, menceti tombol-tombol hp atau cuma ngelamun. Kalaupun ada yang ngobrol, sayup-sayup. Suara roda-roda kereta, pengumuman kedatangan dan keberangkatan kereta adalah suara yang dominan. Begitu kereta tiba, seperti botol minuman bersoda yang baru dikocok dan lantas tutupnya dibuka, orang-orang muncrat dari dalam gerbong. Masih tanpa suara.

Giliran yang masuk sekarang, dalam hitungan detik gerbong sudah penuh. Berdesak-desakan, full body contact. Kasian yang habis belanja tomat, mesti sampe rumah itu tomat sudah jadi jus. Pintu kereta ditutup....banyak wajah-wajah yang menempel di kaca .... persis seperti ikan sapu-sapu di akuarium. Semua diam, tak ada suara semisal "hwadooooooh" .... "hooooooi kejepit neeeeh" .... "penuhh paaaak penuuuuh" ..... "iiiiiih, apaan sih inih" .... "sapa yang kentut!!!".

Setengah jam lebih saya bakal ada di dalam kereta sunyi itu. Ada yang tidur, ada yang baca, ada yang mainan hp, ada yang ndlongop .... saya itu. Poster-poster iklan dalam kereta yang jumlahnya banyak nian itu seolah-olah ingin mengajak ngobrol, tapi saya ndak ngerti. Ya sudah....saya balas saja senyum para poster itu. Kereta berhenti di beberapa stasiun, orang keluar masuk, himpitan makin lama makin longgar. Sesekali terdengar ada yang menghela napas, mungkin karena merasa lega.

Sudah tiba, keluar gerbong beramai-ramai dan mulai terjadi antrian di tangga. Semua masih diam. Sekarang berjalan menuju halte bus dan mengantri lagi. Coba perhatikan sekeliling. Ada warung 7-Eleven yang buka 24 jam itu, ada McDonald's dan ada KFC ... penuh semua. Warung-warung itu, saya menyebutnya kedutaan besar Amerika Serikat, punya pengaruh besar di Jepang. Warung McDonald's pertama di Asia dibuka di Jepang, 40% warung 7-Eleven di dunia ada di Jepang dan Pak jenggot Colonel Sanders dikenal sebagai "Mister Fried Chicken" di Jepang. Terry Sanders, sang pemenang Oscar dua kali, pernah membuat film tentang McDonald's di Jepang ini yang lantas diberi judul "The Japan Project: Made in America".

Mobil-mobil lalu-lalang di jalan, nggak ada suara klakson. Antrian itu .... 7 perempuan 3 laki-laki, saya laki-laki ke empat dalam barisan. Perempuan Jepang bekerja di luar rumah adalah hal yang umum sekarang, walaupun entah kenapa jika berjalan bersama rekannya yang laki-laki mereka langsung bergeser sedikit ke belakang, mungkin jalan beriringan dengan laki-laki itu adalah hal yang tidak pantas. Teman perempuan sekantor saya juga begitu, kalau saya melambatkan jalan, dia juga menyesuaikan kecepatan jalannya, saya belum coba apakah kalau saya lari dia juga ikut lari. Ya sudahlah, mungkin memang saya lebih menarik kalau dilihat dari belakang, begitu pikir saya.

Bus itu datang, bus nomer 21 malam ini. Semua antri tertib masuk, membayar atau memasukan kartu magnetik sebesar kartu telepon. Sang supir bolak balik bilang terima kasih, tanpa ada yang menyahut, hanya dia yang bicara, saya juga diam tak menjawab ucapan terima kasihnya, takut nanti dia malah kaget. Saya duduk di belakang, tak lama, ada seorang perempuan mengangkuk ke saya, saya balas mengangguk sambil tersenyum, dia nggak senyum dan lantas duduk di samping saya. Suara perempuan yang telah direkam sebelumnya terus nyerocos sepanjang perjalanan, entah apa yang diomongkannya. Tidak sampai 10 menit, saya sudah tiba. Tempat tinggal saya masih kira-kira empat ratus meter lagi dan hari sudah larut. Negeri ini memang sepi.

Sampeyan apa pernah minum jus tomat hasil dempet-dempetan? Blender sunyi.


Posted at 03:01 am by Sir Mbilung

ramli
May 14, 2006   03:39 AM PDT
 
cari kawan orang indonasia di jepang kalo ada informasi saya mohon di ke email saya : iosram@yahoo.com atas bantuannya saya ucapkan terima kasih banyak
sira
April 30, 2006   11:50 AM PDT
 
kacian amat...
aRdho
April 20, 2006   08:42 AM PDT
 
kok kalo saya bayangin,,,, malah kocak ya? hahaha... btw, better silent than crowdy.. ;D disini org gak bs ngmg pelan... smuanya kalo ngbrl keras banget... hehe...
merahitam
April 16, 2006   07:08 PM PDT
 
Ceritanya mengharukan, tapi kok saya malah ngakak ya mbayangin sampeyan ndlongop dan plirak-plirik sana-sini. Hihihihi...:P
yati
April 13, 2006   07:45 PM PDT
 
lom pernah sih minum jus tomat blender sepi...dan jangan sampe pernah. pasti sepinya sampe ke hati...:(
Mbilung
April 13, 2006   05:06 PM PDT
 
Na-na : Waah, Shibuya, sanaan dikit Harajuku deh. Koridor fashion yang meriah. Tak seromantis Paris tapi lebih meriah. Ya...Shibuya lebih "ramai".
Na-na
April 13, 2006   02:32 PM PDT
 
sepi mana dibanding shibuya?
Mbilung
April 13, 2006   12:44 PM PDT
 
Rizal : mestinya judulna diganti apa ya, jangan mute country atau country of silent, tapi country of tranquillity. Nggak ngenes. Tapi aku bahagia kok Zal.

Mbak [em-eijs] : beda Mbak, di sana burung, pohon dan binatang lain semua ngajak ngobrol dan saling ngobrol, walaupun saya bukan Dr. Dolittle :-)
[em-eijs]
April 13, 2006   12:17 PM PDT
 
Mas Mbilung, apa beda 'sepi' ini dengan 'sepi' di rawa-rawa mengamati burung-burung?
rizal
April 13, 2006   04:18 AM PDT
 
wah, mas, iki kok rodo ngenes yo rosone :-).
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry