Hobi saya selain melihat burung adalah melihat pesawat terbang, malah kalau diingat-ingat, saya itu duluan senang melihat pesawat sebelum suka melihat burung. Jaman kecil dulu, burung itu cuma pas buat diplintheng, lantas digoreng atau dibakar untuk dimakan. Kalau pesawat, diplintheng apa lagi dimakan bisa repot urusannya -- apa ada ya jaran kepang (kuda lumping) yang ngeremus pesawat?.
Dobosan saya kali ini ya soal pesawat tempur-nya republik ini yang beberapa malah tidak (baca: belum) bisa terbang. Bapak Marsekal Herman Prayitno, mantan penerbang pancar gas F-86 Sabre dan pesawat kitiran OV-10 Bronco yang sekarang menjabat sebagai Kepala Staff Angkatan Udara berkata, kita kekurangan pesawat untuk menjaga wilayah udara republik ini. Pesawat yang ada sekarang-pun tidak semua bisa terbang. Pesawat buru sergap F-16 Falcon menurutnya hanya dua yang bisa terbang, F-5 Tiger juga begitu. Sementara jet-jet tempur Sukhoi yang bertongkrongan "serem" dan relatif baru itu walaupun bisa terbang semua, saya ndak tahu apa sudah bisa nembak. Sementara pesawat angkut andalan C-130 Hercules kebanyakan yang tipe B yang umurnya beda-beda tipis sama umur saya. Lha kok memprihatinkan to? Padahal, jaman saya baru lahir dulu negara ini salah satu yang terkuat di udara. Karena soal politik, nggak ada uang atau dua-duanya?
Lantas, udara kita itu dijaganya bagaimana? Radar! begitu kata Bapak Marsekal. Cuma Pak, nyuwun sewu, itu yang di Timur masih bolong-bolong. Bolongnya itu bakal ditutup, nanti kita bakal punya radar baru untuk Biak, Timika dan Merauke. Waaah, sip kalo begini. Cuma, kalo ada yang nakal sluman-slumun masuk, ketangkap radar, lha yang ngejar siapa?
Selamat ulang tahun TNI-AU.