Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Thursday, April 20, 2006
Sarang Burung

Gara-gara foto burung yang nemplok di tiang lampu yang lantas digombalkan oleh Pak De Kemplu di sini kok saya lantas tergugah buat nyari sarang burung-nya Pak De itu, setelah acara gumun kok burung itu masih ada di situ-nya selesai. Tidak perlu berjauh-jauh ternyata, karena ada sebuah sarang yang masih baru saja selesai dibangun persis di lantai dasar apartemen saya.

Burungnya Pak De itu di Indonesia dinamai Layang-layang api, yang dalam Bahasa Melayu dikenal dengan nama "Sualo api". Bahasa Inggrisnya "Barn Swallow", sedangkan dalam percakapan sehari-hari di kantor, kami menyebutnya Hirundo rustica.

Cukup sudah soal nama. Mari sampeyan saya ajak untuk melihat kelakuan burung ini yang rada-rada luar biasa. Burung ini setiap tahunnya terbang belasan ribu mil dari dan ke rumahnya di belahan bumi Utara untuk menghindar musim dingin. Selama musim dingin di Utara itu, dia numpang dulu sementara di tempat-tempat yang hangat dan suam-suam kuku seperti Jakarta itu. Begitu musim dingin lewat, dia akan terbang kembali ke rumahnya untuk membangun sarang, kawin, membesarkan anak dan makan untuk persiapan mengungsi berikutnya. Mehgungsi adalah sebuah ritual tahunan bagi burung ini, sebuah ritual yang berbahaya, sebuah ritual yang lantas dinamai migrasi.

Migrasi adalah perjalanan yang penuh resiko dan juga sangat menguras tenaga, sehingga para burung migran (pelaku migrasi itu) harus berhenti untuk mengisi kembali bahan bakar di sepanjang jalur migrasinya. Banyak tempat perhentian ini yang sangat berbahaya. Berhenti nyaris tanpa tenaga, mereka harus berhadapan dengan pemangsanya, baik yang berupa binatang maupun yang menolak dikatakan sebagai binatang. Itu semua harus mereka lakukan dua kali dalam setahun !! Disaat pergi dan disaat pulang.

Burung kecil di tiang lampu itu bukan satu-satunya jenis yang melakukan migrasi, ada banyak jenis burung yang berkelakuan sama. Setiap tahun entah berapa juta burung ekspatriat berkunjung dan cari makan di Indonesia, walaupun ada beberapa yang lantas menjadi makanan di Indonesia. Pernah liat ada orang berjualan daging yang katanya ayam tapi keciiiiiil banget itu? (biasanya dilumuri bumbu kuning). Itu bukan ayam dan bukan pula burungnya Pak De Kemplu, tapi jenis lain yang hidup di daerah becek-becek.

Seorang teman pernah melakukan penelitian (sebuah keisengan yang kadang berguna) untuk mengetahui ada berapa banyak burung ekspatriat yang ditangkap untuk disantap. Sebuah desa di Kabupaten Indramayu dipilihnya untuk tempat penelitian. Hasilnya ..... 300 ribu ekor per tahun dari satu desa itu saja. Padahal entah ada berapa desa yang juga melakukan kegiatan yang sama. Ngentet, begitu mereka menyebutnya.

Burungnya Pak De Kemplu itu lebih beruntung nasibnya, tidak banyak yang berminat menyantapnya, mungkin karena tidak mengenyangkan. Walaupun jumlahnya yang banyak bisa juga bikin kenyang.

Sampeyan berminat melihat burungnya Pak De Kemplu itu dalam jumlah besar? Untuk yang di Yogja bisa lihat di depan kantor pos besar itu. Buat yang di Bandung, coba sekali-sekali ke Jalan Kopo. Di dekat Cianjur di sepanjang jalan dari arah Bandung, entah berapa ribu yang bertengger di situ pada musim migrasi. Kalau yang di Jakarta? Ya .... harus jeli-jeli saja seperti Pak De.


Posted at 02:05 pm by Sir Mbilung

Mbilung
April 22, 2006   01:27 AM PDT
 
pecas ndehe : he he ... sekali-kali biar ndobosnya nggak pol terus.

[em-eijs] : Dulu iya. Sekarang bintangnya sudah turun. *hiks*

merahitam : Angsa dan bebek, yang di depan gantian untuk menghemat energi.

siberia : Tempat paling yahud buat liat crane (Tancho) di Kushiro, Hokkaido. Aduuuh narinya itu lho ....
siberia
April 22, 2006   12:33 AM PDT
 
Izumi-shi, kagoshima prefecture, kyushu ada tempat persinggahan para migran bangau/ crane dari utara.
mereka mulai datang pada bulan oktober, dan pergi mulai bulan februari.
luas banget lho areanya, dan dilindungi. dulu enath ladangnya siapa.
merahitam
April 21, 2006   06:01 PM PDT
 
Wih...Ahli soal burung toh mas? Lha kalau burung yang terbangnya selalu membentuk formasi huruf V itu burung apa? *penasaran, soalnya pernah ditanyain hal serupa tapi lupa jawabannya* hehehehe
[em-eijs]
April 20, 2006   09:45 PM PDT
 
waktu berkunjung ke Pulau Rambut, bapak Guide bilang itu resort bintang limanya para burung yang beriwisata keliling dunia. Ada frequent travellers (loyal customers) yang berkunjung tiap tahun, ada honeymooners, ada family travellers... Gitu ya, Mas?
Gak ngira, kalau burung pun punya resort berbintang.
pecas ndahe
April 20, 2006   07:59 PM PDT
 
wah, kembali ke khitah neh ceritanya ... :D ... kata orang ndhiwek, you are what you write... sampeyan pancen jagone manuk.... :p
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry