Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Telepon saya berbunyi pagi-pagi. Wah tumben ini, ada apa? Hanya teman sekantor yang bertanya (*memohon tepatnya*) apa saya bisa berangkat ke Cambridge Selasa besok. Bisa, kata saya, tapi saya nggak mau, dan kemudian diikuti dengan rentetan alasan untuk mendasari "kemalasan" saya itu. Selesai, saya tidak pergi.
Gara-gara telepon itu saya lantas melamun soal Cambridge. Sebuah kota yang sudah sangat tua, entah sudah berapa lama tempat itu jadi hunian orang. Katanya di tempat ini sudah ada pemukiman sejak 1000 tahun sebelum Masehi ... wah saya belum lahir. Cambridge terkenal karena universitasnya, paling tidak 20% dari penghuni kota ini adalah mahasiswa. Penduduk Cambridge sendiri sekitar 100-an ribu jiwa yang tampaknya hidup tenang di tengah tingginya biaya hidup di kota yang nyaris rata ini. Walaupun Cambridge bukan kota favorit saya, ada beberapa tempat yang bisa membuat saya betah berlama-lama. Saya hanya akan ndobos soal 2 tempat saja.
Perpustakaan kantor. Entah berapa ratus ribu bahan bacaan tersimpan di tempat ini, hampir semua tentang burung. Walaupun saya bisa saja mengakses bacaan tersebut tanpa pindah dari meja saya, tetapi ritual mencari, mengeluarkan, memegang dan membaca halaman-halaman buku atau re-print, sulit digambarkan nikmatnya. Saya betah membaca di pojok ruangan sampai lupa waktu, lupa makan, lupa merokok dan lupa nge-blog. Lebih nikmat lagi jika membaca catatan perjalanan para penjelajah dan peneliti burung sambil ditemani dengan atlas/peta. Saya menyebutnya sebagai mind travel. Pikiran melayang sambil membayangkan apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan. Bacalah apa yang ditulis oleh Alfred Russell Wallace tentang Wonosalam di Jawa :
Wonosalem is situated about a thousand feet above the sea, but unfortunately it is at a distance from the forest, and is surrounded by coffee plantations, thickets of bamboo, and coarse grasses. It was too far to walk back daily to the forest, and in other directions I could find no collecting ground for insects. The place was, however, famous for peacocks, and my boy soon shot several of these magnificent birds, whose flesh we found to be tender, white, and delicate, and similar to that of a turkey.
Sekarang ini sudah agak susah mencari burung merak (peacock). Rupanya yang elok membuatnya menjadi layak kandang. Bulunya yang cantik membuatnya diburu pembuat topeng reog. Dagingnya, seperti yang dikatakan Wallace itu ... layak santap.
Pinggiran Kali Cam. Ini tempat favorit saya buat ndlongop kalau udara tidak dingin, kadang sambil baca buku dan lantas ndlongop karena ndak ngerti ini buku isinya apa. Kali ini panjangnya sekitar 60-an kilometer dan merupakan anak sungai dari Sungai Great Ouse. Airnya sedikit butek, yang konon kabarnya kalau diminum bisa menyebabkan sakit mirip flu yang dikenal dengan nama Cam fever. Lho ... kalo ginian di Indonesia juga banyak, bahkan sakitnya lebih komplit.
Sering juga saya melihat orang memancing di kali ini dan di beberapa tempat bahkan ada tempat bersandar untuk kapal-kapalnya manusia perahu. Orang berdayung atau punting juga ramai. Adalah keasikan tersendiri kalau ada perahu yang terbalik, dan herannya hal ini agak sering terjadi. Mungkin karena demit kali kurang sajennya atau karena penumpang perahunya yang pentalitan nggak karu-karuan. Apakah setelah itu mereka terserang Cam fever atau tidak saya tidak tahu.
Selain dua tempat itu kadang saya juga jalan-jalan ke pasar seperti yang pernah ditulis oleh Kang Mas Pecas Ndahe di sini. Hanya karena kalau ke pasar sering harus keluar uang, saya tak terlalu sering pergi ke sana (medit men yo?). Beberapa college di kota ini juga membuka tempatnya untuk dikunjungi oleh umum walaupun ada batasan waktu dan harus bayar. Aaaaah ... Cambridge tidak jelek juga. Tapi tadi saya sudah bilang tidak.
Posted at 02:30 pm by Sir Mbilung
Mbilung April 23, 2006 09:40 PM PDT merahitam: he he he he ..... :-)
Dian : he he he he juga .... :-)
merahitam April 23, 2006 12:17 PM PDT eh, sebentar, ada sedikit ralat. saya baru ingat, di sepanjang gunung sahari, di tepi sungainya yang cuma selebar 2,5 - 3 m itu, disediakan bangku-bangku taman untuk duduk-duduk. Saya pernah mencobanya dan langsung tidak betah. Pasalnya panas, air sungainya berbau tidak sedap, dan terganggu oleh suara bising dan asap knalpot kendaraan yang lewat di jalan samping sungai itu :)
Dian April 23, 2006 04:02 AM PDT mas, sama pecas ndahe, kembar-kah ?? kok kayaknya gak bisa jauh2x hehhe
merahitam April 22, 2006 03:49 PM PDT Seandainya sungai-sungai di Jakarta airnya masih bening dan kondisi sekitarnya bersih ya...Kadang untuk bermalas-malasan, memandang air dan merasai sejuknya semilir angin, harus pergi dulu ke Depok :(