Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Kemarin itu saya sudah ndobos soal Sungai Cam dan kali ini saya ingin ndobos soal beberapa sungai yang tampaknya memiliki tempat tersendiri di hati ini (... *haih haih haih, saya ini kesambet apa ya?* ...). Mungkin karena baru saja ada hari bumi ... ah ndak juga. Mungkin karena saya rindu saja dengan sungai-sungai itu. Lha wong namanya juga ndobos, tanpa alasan juga boleh to? Disusun berdasarkan urutan waktu masuk ke hatinya :
Sungai Barito. Samar-samar saya masih ingat sungai ini. Ibu dan Bapak beberapa kali mengajak saya naik perahu bermesin dan katanya saya bakal nangis-nangis tidak mau turun dari perahu. Lha, bagaimana nggak nangis-nangis, saya belum bisa berenang kok diajak turun dari perahu.
Sungai Babalan. Sungai ini ada di belakang sekolah SD saya di Tangkahan Lagan,Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Inilah sungai tempat saya belajar berenang dengan baik dan benar. Setelah sebelumnya saya menguasai gaya batu, di sungai ini saya mulai belajar beberapa gaya lain. Gaya anjing (pokoknya asal bisa ngapung), gaya kodok, dan gaya bebas (ini gaya sak enak udel saya saja). Sepulang dari sekolah, lari ke sungai ini, loncat dari jembatan, mak byur ... lantas bertarung dengan derasnya aliran air menuju ke tepi. Senengnya bukan kepalang. Airnya agak payau. Entah berapa liter air sungai ini yang sudah pernah saya telan, namanya juga baru belajar, kelelep itu wajib. Setiap kali pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup, Ibu saya selalu bilang "Mandi sana". Lha kok disuruh mandi, tadi itu saya baru mandi.
Sungai Musi. Sungai ini melintasi kota di mana saya pernah tinggal selama beberapa tahun di Sumatera Selatan sana. Saya tidak (belum) pernah berenang di sungai ini tapi saya sering memancing di sini (jarang dapat). Lomba perahu dayung (bidar) setiap bulan Agustus adalah tontonan wajib. Di pinggiran sungai inilah pertama kali saya menemukan kenikmatan membaca di pinggir sungai.
Sungai Cikapundung. Sungai yang membelah kota Bandung ini punya kenangan tersendiri walaupun saya tidak pernah berenang, memancing (kecuali memancing keributan) atau baca buku di sini. Inilah sungai pertama yang pernah (harus) saya kunjungi di tengah malam untuk mengambil sampel air, dan buntutnya saya dikira mau nyolong ikan di keramba. Untuk pertama kalinya saya dikira maling ... dan ini bukan yang terakhir kalinya.
Sungai Sangatta. Sungai ini ada di Kalimantan Timur dan di sungai ini saya pernah berenang dan mandi. Airnya yang coklat terang membuat saya harus menambahi kopi setiap kali saya minum dari air sungai ini ... kopi susu. Sungai ini penyebab saya mencandui kopi hingga sekarang.
Sungai Toluarang. Sungai ini ada di Pulau Seram. Inilah sungai yang saya lalui dengan "penuh kesakitan" dan berdarah-darah selama 8 jam berjalan kaki menuju base camp karena salah satu jari tangan saya patah terbuka (jadi tulangnya keluar gitu). Berenang, mandi, baca buku dan lain-lain juga saya lakukan di sungai ini.
Sungai Way Kanan. Sungai ini terletak persis di belakang stasiun penelitian saya di Way Kambas, Lampung. Saya sering berenang, mandi, memancing dan membaca buku di pinggiran sungai ini. Untuk pertama kalinya saya belajar mendayung dengan tertib di sungai ini. Di pinggriran sungai ini juga untuk pertama kalinya saya melihat Mentok rimba (Cairina scutulata) yang saya idam-idamkan itu. Pertama kali pula saya melihat Siamang terjun bebas dan nyemplung karena dahan pohon yang digelayutinya patah.
Sungai-sungai itu semua memang tak "seindah" dan "serapih" seperti sungai-sungai lain yang pernah saya sambangi seperti Sungai Danube, Seine, Thames, Cam atau Tama yang dipuja-puja dalam banyak gubahan sastra. Tidak banyak kenangan yang tertinggal dari sungai-sungai indah dan rapih itu, saya juga hanya berjalan bersama segerombolan turis, walaupun saya tidak sedang menjadi turis.
Dari semua sungai-sungai kenangan itu, Way Kanan adalah sungai yang paling membekas. Sampeyan punya sungai favorit?
Posted at 01:02 pm by Sir Mbilung
r3brina April 25, 2006 10:56 PM PDT Sungai Cisadane... yang membelah kota tangerang.. menag gak bersih-bersih amat.. tapi namanya home sweet home...! jadi kepengen makan roti bakar di sisi sungai cisadane... kapan ya...!
merahitam April 24, 2006 01:06 AM PDT satu-satunya sungai yang membawa kenangan buat saya sampai saat ini cuma satu. Sungai (aih apa namanya ya?) pokoknya yang membelah desa Banyu Urip, dan menuju laut di desa Karanganyar, Lampung Selatan. Karena cuma di sungai itulah saya bisa nyuri-nyuri mandi dan belajar renang. selebihnya selalu ketahuan sama ibu, dan dihadiahi cetotan (nyubit di paha). Hihihihi...
Eh, Mas...Lah situ dalam rangka apa toh kok jalan-jalannya ke sungai melulu?
siberia April 24, 2006 12:01 AM PDT sungai di Tokyo belum masuk di hati ya? :D