Ndobos soal burung lagi. Indonesia itu punya jenis burung terancam punah paling banyak sak dunia ... lha juara kok juara jelek. Brazil yang katanya hutan amazonnya itu babak belur saja tidak (belum) pernah berhasil nyusul "prestasi" Indonesia di bidang yang satu ini. Ini masih ditambahi lagi dengan jumlah jenis burung yang "hilang". Hilang dalam arti tak jelas statusnya, masih ada atau sudah punah. Ada sembilan jenis burung Indonesia yang tak jelas juntrungannya sampai sekarang.
Sembilan jenis?! dan itu membuat Indonesia menjadi negara dengan jenis burung hilang terbanyak di Asia. Burung-burung itu adalah : Gallirallus sharpei, Trulek jawa (Vanellus macropterus), Merpati-hutan perak (Columba argentina), Serak kecil (Tyto sororcula), Celepuk siau (Otus siaoensis), Pelanduk kalimantan (Malacocincla perspicillata), Sikatan aceh (Cyornis ruckii), Cucak gelambir-biru (Pycnonotus nieuwenhuisii) dan Gagak banggai (Corvus unicolor).
Kaget juga saya lihat ada Gallirallus sharpei. Bagaimana tidak? Jenis yang identifikasinya ini cuma dari satu spesimen (awetan) di museum ini lokasi persisnya juga nggak jelas dari mana. Pokoknya dari sebuah lokasi di Sunda Besar (Sumatera, Kalimantan, Jawa-Bali). Nah!
Trulek jawa, terakhir terlihat di awal tahun 1940-an di Lumajang Selatan, Jawa Timur. Beberapa teman masih nyari-nyari sampai sekarang, dan belum ketemu.
Merpati-hutan perak, nah yang satu ini sebetulnya ada yang kayaknya pernah lihat, hanya saja mereka juga tidak yakin 100%. Memang agak susah juga sih, karena tongkrongan jenis ini mirip dengan Ducula bicolor yang rada-rada umum.
Serak kecil, waduh ... tempat hidupnya di Maluku sana jauh dari sentra pengamat burung, belum lagi lihatnya kudu malam hari. Nggak heran juga kalo jenis ini lantas dianggap "hilang".
Celepuk siau lokasinya juga jauh di sebuah pulau kecil yang benama Pulau Siau di utaranya Pulau Sulawesi. Jenis ini hidup di hutan, sementara hutan Siau sendiri tinggal kira-kira 50 ha saja. Masih ada atau nggak ya jenis ini?
Pelanduk Kalimantan punya catatan tersendiri. Inilah jenis burung yang paling lama tidak pernah tercatat lagi keberadaannya. Catatan terakhirnya diambil dari sebuah spesimen tahun 1848. Lokasinya pun masih belum jelas di mana persisnya, pokoknya di Kalimantan Selatan.
Sikatan aceh ini keberadaannya di dunia hanya berdasarkan pada dua spesimen dari tahun 1917 dan 1918. Tempat diambilnya di Tuntungan dan Deli Tua di Sumatera Utara sana. Wah, masih ada yang tersisa nggak ya?
Cucak gelambir-biru adanya di pedalaman Kalimantan dan Sumatera sana sementara hutan dataran rendah di dua pulau itu sebagian besar sudah hancur juga.
Gagak banggai hanya diketahui keberadaannya di muka bumi ini dari dua spesimen dari pulau yang tidak disebutkan namanya di Kepulauan Banggai sana.
Heran? Ya nggak juga sih sebenernya, lha wong alam Indonesia itu sudah dikucek habis-habisan kok. Lagi pula, yang namanya pengamat/peneliti burung di Indonesia itu jumlahnya juga nggak banyak kok, lha kalo yang hobinya ngandangi manuk (mengurung burung di sangkar) banyak ini. Tambahan lagi .... di Indonesia itu orang saja bisa hilang kok (atau dihilangkan), apalagi cuma burung yang nggak bisa demo.
Selamat Hari Bumi ....